Museum Kepresidenan RI Balai Kirti Gelar Pameran Filateli, Tampilkan Kartu Pos Bogor Era Kolonial
14 March 2025 |
08:00 WIB
Museum Kepresidenan RI Balai Kirti menggelar pameran filateli Buitenzorg: Pada Sekeping Kartu Pos pada 13-19 Maret 2025. Seteleng ini menghadirkan senarai kartu pos asli tentang Buitenzorg (Bogor) dari kolektor di Tanah Air, termasuk koleksi komunitas pos crossing, filateli kreatif, dan Perkumpulan Filatelis Indonesia.
Pameran ini merupakan bagian dari peluncuran buku bertajuk Kartu Pos Bergambar dari Buitenzorg, karya Fadli Zon dan Mahpudi. Dibuat pada 2024, buku ini menghadirkan 179 kartu pos bergambar dari tahun 1890-an hingga 1930-an tentang kehidupan di Bogor.
Baca juga: Diperingati Tiap Tahun pada 29 Maret, Ini Sejarah Hari Filateli Nasional
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon mengatakan, dihelatnya pameran ini merupakan bentuk syukuran Hari Filateli Nasional yang jatuh pada 29 Maret. Namun karena jatuh pada momen jelang Lebaran maka dimajukan perayaanya pada awal Maret.
Di Indonesia, Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI) sendiri merupakan salah satu organisasi tertua di Tanah Air. Berdiri pada 1922, organisasi hobi ini bertujuan untuk memajukan dan mengembangkan filateli sebagai bagian dari sejarah Indonesia yang terus berkembang.
"Perkumpulan ini adalah tempat berdiskusi, berdialog tentang benda-benda filateli termasuk prangko, kartu pos, surat-surat, dan dokumen. Namun yang tak dapat dikesampingkan adalah sejarah di dalamnya," kata politikus Partai Gerindra, itu.
Menjadi bagian sejarah perjalanan bangsa, Fadli mengungkap ada banyak hal yang bisa dipelajari dari kartu pos. Ihwal dihelatnya pameran ini di Kota Bogor juga bukan alasan. Sebab masyarakat dapat melihat bagaimana transformasi kota tersebut dari masa ke masa.
Selain bukti sejarah, prangko dan kartu pos menurutnya juga bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bagian dari diplomasi budaya. Bukti fisik dari selembar kartu pos, misal, juga turut memotret peristiwa-peristiwa sejarah penting di berbagai wilayah Indonesia.
"Di sana ada gambar-gambar alam, kekayaan seni, dan tradisi Indonesia untuk nantinya dikirim ke penjuru dunia," imbuh Fadli yang juga sempat menjadi Ketua Umum Perkumpulan Filatelis Indonesia Periode 2017-2022.
Sekretaris Jenderal PFI, Mahpudi Sulaiman, mengatakan filateli adalah cikal bakal media sosial. Sebab, pada masanya prangko dan kartu pos merupakan salah satu medium yang galib digunakan masyarakat untuk berkomunikasi jarak jauh untuk bertukar kabar.
Kiwari, selain sebagai koleksi, hobi filateli juga menjadi alat edukasi yang ampuh untuk memperkenalkan sejarah kepada generasi muda. Dia pun berharap pameran ini dapat menginspirasi dunia pendidikan agar kartu pos dapat dijadikan sebagai salah satu bahan ajar.
"Hobi juga bisa menjadi cara baru bagi siswa untuk memahami sejarah Indonesia melalui benda-benda filateli," ujarnya.
Sementara itu, kolektor prangko Said Faisal Basymeleh mengatakan, selain menjadi medium edukasi, hobi filateli juga dapat dijadikan sebagai investasi. Walhasil masyarakat nantinya juga dapat memetik keuntungan dari koleksi tersebut saat dicari oleh kolektor.
Dia mencontohkan, pada suatu masa pernah memborong prangko dari China pada dekade 2000-an. Kendati saat itu dipandang sebelah mata oleh para kolektor, tapi syahdan ada kolektor dari China yang memborong koleksinya dengan harga berkali-kali lipat pada tahun yang lain.
"Ini bukan hobi biasa. Ini adalah hobi yang bisa dinikmati sebagai bentuk investasi. Saya beli prangko awalnya itu dari uang saku [sekolah] tapi dari sana bisa mendapat keuntungan lain," katanya.
Secara umum pameran ini dibagi menjadi dua kelompok besar tema gambar yang termuat dalam kartu pos dari Buitenzorg. Pertama adalah panorama alam yang menampilkan keindahan Gunung Gede, Pangrango, dan Salak, serta Sungai Cisadane dan Ciliwung.
Kedua, adalah gambar manusia dan peradaban yang tumbuh dan berkembang di Bogor. Beberapa di antaranya adalah kehidupan penduduk asli, para pendatang Arab, China dan Eropa, serta bangunan-bangunan yang menjadi jejak Kota Bogor sebagai kota kolonial pada masanya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Pameran ini merupakan bagian dari peluncuran buku bertajuk Kartu Pos Bergambar dari Buitenzorg, karya Fadli Zon dan Mahpudi. Dibuat pada 2024, buku ini menghadirkan 179 kartu pos bergambar dari tahun 1890-an hingga 1930-an tentang kehidupan di Bogor.
Baca juga: Diperingati Tiap Tahun pada 29 Maret, Ini Sejarah Hari Filateli Nasional
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon mengatakan, dihelatnya pameran ini merupakan bentuk syukuran Hari Filateli Nasional yang jatuh pada 29 Maret. Namun karena jatuh pada momen jelang Lebaran maka dimajukan perayaanya pada awal Maret.
Di Indonesia, Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI) sendiri merupakan salah satu organisasi tertua di Tanah Air. Berdiri pada 1922, organisasi hobi ini bertujuan untuk memajukan dan mengembangkan filateli sebagai bagian dari sejarah Indonesia yang terus berkembang.
"Perkumpulan ini adalah tempat berdiskusi, berdialog tentang benda-benda filateli termasuk prangko, kartu pos, surat-surat, dan dokumen. Namun yang tak dapat dikesampingkan adalah sejarah di dalamnya," kata politikus Partai Gerindra, itu.

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon saat membuka pameran filateli bertajuk Buitenzorg Pada Sekeping Kartu Pos di Museum Kepresidenan RI Balai Kirti, Kamis (13/3/25). (Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Menjadi bagian sejarah perjalanan bangsa, Fadli mengungkap ada banyak hal yang bisa dipelajari dari kartu pos. Ihwal dihelatnya pameran ini di Kota Bogor juga bukan alasan. Sebab masyarakat dapat melihat bagaimana transformasi kota tersebut dari masa ke masa.
Selain bukti sejarah, prangko dan kartu pos menurutnya juga bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bagian dari diplomasi budaya. Bukti fisik dari selembar kartu pos, misal, juga turut memotret peristiwa-peristiwa sejarah penting di berbagai wilayah Indonesia.
"Di sana ada gambar-gambar alam, kekayaan seni, dan tradisi Indonesia untuk nantinya dikirim ke penjuru dunia," imbuh Fadli yang juga sempat menjadi Ketua Umum Perkumpulan Filatelis Indonesia Periode 2017-2022.
Cikal Bakal Media Sosial
Sekretaris Jenderal PFI, Mahpudi Sulaiman, mengatakan filateli adalah cikal bakal media sosial. Sebab, pada masanya prangko dan kartu pos merupakan salah satu medium yang galib digunakan masyarakat untuk berkomunikasi jarak jauh untuk bertukar kabar.Kiwari, selain sebagai koleksi, hobi filateli juga menjadi alat edukasi yang ampuh untuk memperkenalkan sejarah kepada generasi muda. Dia pun berharap pameran ini dapat menginspirasi dunia pendidikan agar kartu pos dapat dijadikan sebagai salah satu bahan ajar.
"Hobi juga bisa menjadi cara baru bagi siswa untuk memahami sejarah Indonesia melalui benda-benda filateli," ujarnya.

Sejumlah pengunjung mengamati koleksi kartu pos di Museum Kepresidenan RI Balai Kirti, Kamis (13/3/25). (Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Sementara itu, kolektor prangko Said Faisal Basymeleh mengatakan, selain menjadi medium edukasi, hobi filateli juga dapat dijadikan sebagai investasi. Walhasil masyarakat nantinya juga dapat memetik keuntungan dari koleksi tersebut saat dicari oleh kolektor.
Dia mencontohkan, pada suatu masa pernah memborong prangko dari China pada dekade 2000-an. Kendati saat itu dipandang sebelah mata oleh para kolektor, tapi syahdan ada kolektor dari China yang memborong koleksinya dengan harga berkali-kali lipat pada tahun yang lain.
"Ini bukan hobi biasa. Ini adalah hobi yang bisa dinikmati sebagai bentuk investasi. Saya beli prangko awalnya itu dari uang saku [sekolah] tapi dari sana bisa mendapat keuntungan lain," katanya.
Secara umum pameran ini dibagi menjadi dua kelompok besar tema gambar yang termuat dalam kartu pos dari Buitenzorg. Pertama adalah panorama alam yang menampilkan keindahan Gunung Gede, Pangrango, dan Salak, serta Sungai Cisadane dan Ciliwung.
Kedua, adalah gambar manusia dan peradaban yang tumbuh dan berkembang di Bogor. Beberapa di antaranya adalah kehidupan penduduk asli, para pendatang Arab, China dan Eropa, serta bangunan-bangunan yang menjadi jejak Kota Bogor sebagai kota kolonial pada masanya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.