Subarkah Hadisarjana Berpulang, Aktor & Penata Rias Bertalenta Indonesia
11 March 2025 |
09:38 WIB
Duka menyelimuti dunia teater Indonesia. Penata rias sekaligus aktor Subarkah Hadisarjana Yoeswadi meninggal dunia pada hari ini, Selasa (11/3/2025), pukul 00.51 WIB di Rumah Sakit Sentra Medika Cimanggis Depok. Pria yang akrab disapa Barkah ini berpulang pada usia 66 tahun.
Kabar kepergian Barkah diumumkan oleh kurator seni Citra Smara Dewi. Melalui akun Instagram pribadinya, Citra tampak mengunggah foto momen kebersamaannya bersama almarhum, sembari menuliskan kalimat duka untuk sang seniman. Citra membeberkan bahwa foto tersebut diambil pada 2024 saat dia berkunjung ke rumah almarhum untuk silaturahmi.
Baca juga: Selamat Jalan Joshua Pandelaki, Aktor Senior yang Selalu Berikan Karya dan Inspirasi
"Satu lagi sahabat pulang keharibaan Allah SWT. Pagi ini kami dikejutkan dengan berita duka atas meninggalnya Subarkah Hadisardjana pada pagi dini hari ini Selasa, 11 Maret 2025, pukul 00.50 WIB di RS Sentra Medika Cimanggis - Depok," demikian tulis Citra lewat akun @citra_smara_dewi.
Citra juga membagikan informasi bahwa mendiang Barkah disemayamkan di rumah duka yang beralamat di Pondok Tirta Mandala Jalan Rajawali J3 No 6 Depok. Kabarnya, almarhum akan dimakamkan di TPU Tapos -Bogor Jawa Barat.
"Semoga Allah mengampuni segala dosa, kesalahan dan menerima segala amal ibadah serta membuka pintu syurga-Nya seluas-luasnya untuk Allohyarham suami, ayah kami tercinta," tulisnya.
Kepergian Barkah juga menyisakan duka bagi aktor Rangga Riantiarno. Lewat unggahan di akun Instagram pribadinya, Rangga menceritakan momen-momen tak terlupakan bersama Barkah baik sebagai penata rias maupun aktor.
Dia mengaku tak menyangka bahwa proyek pertunjukan Tanda Cinta yang digelar di Teater Salihara pada tahun lalu menjadi kolaborasi terakhir dengan sang seniman.
"Selamat jalan, Om Barkah. Sebuah kehormatan wajahku jadi salah satu kanvas wadah ekspresi artistik Om Barkah selama sekian tahun. Sebuah kehormatan juga bisa beradegan satu panggung, terutama di Republik Cangik (2014). Terima kasih banyak untuk semua obrolan sarat ilmunya," tulis Rangga lewat akun @rangamaru.
Unggahan kabar duka itu pun dibanjiri komentar dari sejumlah artis dan pegiat seni. Mereka ikut berduka dengan kepergian Barkah, serta menuliskan doa bagi kebaikan sang seniman yang telah berpulang.
"Selamat jalan legend. Turut berduka," tulis aktris Ayushita.
"Sangat berduka. Innalillahi wa innailaihi rojiun," tulis seniman Nungki Kusumastuti.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu anhu. Selamat jalan Ayah Subarkah Hadisarjana tercinta," tulis artis Shahnaz Haque.
Subarkah Hadisarjana Yoeswadi adalah seniman multitalenta yang tidak hanya dikenal sebagai aktor, melainkan juga penata rias, artistik, dan busana sejumlah pementasan teater dan film. Dia telah terlibat dalam kerja-kerja kesenian sejak era Teater Populer pada 1960-an, lalu aktif di Teater Koma dan proyek-proyek lainnya hingga akhir hayatnya.
Pria yang lahir di Kota Pare, Kediri, Jawa Timur ini telah tertarik dengan seni pertunjukan sejak kecil. Namun, dengan berbagai pertimbangan, saat kuliah akhirnya dia memilih untuk mengambil jurusan Seni Rupa Murni di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Meski demikian, Barkah juga ikut latihan beberapa bidang lainnya seperti film, teater, hingga tata rias.
Debut proyeknya yang monumental ialah ketika Barkah terlibat sebagai penata rias dalam pembuatan film Pengkhianatan G30S PKI yang disutradarai oleh Arifin C. Noer, yang berlangsung selama dua tahun. Lantaran tawaran itu datang saat dirinya masih berkuliah, dia pun mendapatkan tugas tersebut lewat surat dari negara yang diterima oleh IKJ.
Meski sempat ragu lantaran masih ingin melanjutkan kuliahnya, surat itu menyatakan bahwa Barkah harus menerima tawaran tersebut lantaran dianggap bagian dari misi untuk membantu negara. Usai film tersebut, kegiatannya terus berlanjut dengan film Djakarta 1966, yang juga digarap oleh Arifin C Noer.
Bersama para maestro dunia panggung antara lain Teguh Karya, Wahyu Sihombing, WS Rendra, Arifin C Noer, Sardono W. Kusumo, bak “menyelam sambil minum air”, Subarkah mengasah kemampuannya selain sebagai aktor tetapi juga merangkap menjadi penata rias.
Berbekal pengalamannya sebagai model iklan, Barkah mulai menjajaki dunia seni peran dengan membintangi film pertamanya berjudul Kipas-Kipas Cari Angin pada 1989. Sejak itu, sejumlah judul film telah dia bintangi seperti Makelar Kodok Untung Besar (1990), Kafir (2002), dan Get Married 3 (2011).
Tak hanya film, pria kelahiran 25 Juni 1958 ini juga telah membintangi sejumlah judul sinetron seperti Benang Emas (1994), Si Doel Anak Sekolahan (1994), dan Cintaku di Rumah Susun Season 1-2 (2003-2005).
Sementara di bidang teater, dia pernah tampil di Filipina, Malaysia, dan Singapura bersama Teater Kecil, mementaskan lakon Ozon dan Sumur Tanpa Dasar. Bersama dengan grup ini pula, Barkah pernah mementaskan drama yang sama di empat kota di Amerika Serikat, melalui program Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat (KIAS).
Selain sebagai seniman praktis, Barkah juga menjadi dosen di sejumlah kampus. Dia pernah menjabat sebagai Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tahun 2002 dan 2009, serta Wakil Dekan III Seni Rupa IKJ pada 2008. Termasuk, mengajar di London School dan College of La Salle.
Mulai dari psikologi, sosiologis, antropologi hingga anatomi (special effect dipelajari sampai anatomi jenazah), Barkah membekali dirinya dengan berbagai ilmu dan pengetahuan untuk semakin meraih kemampuan terbaiknya dalam studinya, yang semula mempelajari seni lukis (seni murni), akhirnya membaur dengan seni teater, tari, film dan kemudian fokus studi di bidang tata rias (desain mode).
Ketertarikannya dengan dunia seni semenjak usia muda, menjadikan Barkah pada akhirnya memiliki peran penting bagi perkembangan seni tata rias dalam sejarah Indonesia hingga kini. Meski, apresiasi terhadap penata rias di dunia akting dan pentas pada umumnya masih minim.
Baca juga: Teater Koma Pentaskan Lakon Matahari Papua, Naskah Terakhir N.Riantiarno
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor: Nirmala Aninda
Kabar kepergian Barkah diumumkan oleh kurator seni Citra Smara Dewi. Melalui akun Instagram pribadinya, Citra tampak mengunggah foto momen kebersamaannya bersama almarhum, sembari menuliskan kalimat duka untuk sang seniman. Citra membeberkan bahwa foto tersebut diambil pada 2024 saat dia berkunjung ke rumah almarhum untuk silaturahmi.
Baca juga: Selamat Jalan Joshua Pandelaki, Aktor Senior yang Selalu Berikan Karya dan Inspirasi
"Satu lagi sahabat pulang keharibaan Allah SWT. Pagi ini kami dikejutkan dengan berita duka atas meninggalnya Subarkah Hadisardjana pada pagi dini hari ini Selasa, 11 Maret 2025, pukul 00.50 WIB di RS Sentra Medika Cimanggis - Depok," demikian tulis Citra lewat akun @citra_smara_dewi.
Citra juga membagikan informasi bahwa mendiang Barkah disemayamkan di rumah duka yang beralamat di Pondok Tirta Mandala Jalan Rajawali J3 No 6 Depok. Kabarnya, almarhum akan dimakamkan di TPU Tapos -Bogor Jawa Barat.
"Semoga Allah mengampuni segala dosa, kesalahan dan menerima segala amal ibadah serta membuka pintu syurga-Nya seluas-luasnya untuk Allohyarham suami, ayah kami tercinta," tulisnya.
Kepergian Barkah juga menyisakan duka bagi aktor Rangga Riantiarno. Lewat unggahan di akun Instagram pribadinya, Rangga menceritakan momen-momen tak terlupakan bersama Barkah baik sebagai penata rias maupun aktor.
Dia mengaku tak menyangka bahwa proyek pertunjukan Tanda Cinta yang digelar di Teater Salihara pada tahun lalu menjadi kolaborasi terakhir dengan sang seniman.
"Selamat jalan, Om Barkah. Sebuah kehormatan wajahku jadi salah satu kanvas wadah ekspresi artistik Om Barkah selama sekian tahun. Sebuah kehormatan juga bisa beradegan satu panggung, terutama di Republik Cangik (2014). Terima kasih banyak untuk semua obrolan sarat ilmunya," tulis Rangga lewat akun @rangamaru.
Unggahan kabar duka itu pun dibanjiri komentar dari sejumlah artis dan pegiat seni. Mereka ikut berduka dengan kepergian Barkah, serta menuliskan doa bagi kebaikan sang seniman yang telah berpulang.
"Selamat jalan legend. Turut berduka," tulis aktris Ayushita.
"Sangat berduka. Innalillahi wa innailaihi rojiun," tulis seniman Nungki Kusumastuti.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu anhu. Selamat jalan Ayah Subarkah Hadisarjana tercinta," tulis artis Shahnaz Haque.
Subarkah Hadisarjana Yoeswadi adalah seniman multitalenta yang tidak hanya dikenal sebagai aktor, melainkan juga penata rias, artistik, dan busana sejumlah pementasan teater dan film. Dia telah terlibat dalam kerja-kerja kesenian sejak era Teater Populer pada 1960-an, lalu aktif di Teater Koma dan proyek-proyek lainnya hingga akhir hayatnya.
Pria yang lahir di Kota Pare, Kediri, Jawa Timur ini telah tertarik dengan seni pertunjukan sejak kecil. Namun, dengan berbagai pertimbangan, saat kuliah akhirnya dia memilih untuk mengambil jurusan Seni Rupa Murni di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Meski demikian, Barkah juga ikut latihan beberapa bidang lainnya seperti film, teater, hingga tata rias.
Debut proyeknya yang monumental ialah ketika Barkah terlibat sebagai penata rias dalam pembuatan film Pengkhianatan G30S PKI yang disutradarai oleh Arifin C. Noer, yang berlangsung selama dua tahun. Lantaran tawaran itu datang saat dirinya masih berkuliah, dia pun mendapatkan tugas tersebut lewat surat dari negara yang diterima oleh IKJ.
Meski sempat ragu lantaran masih ingin melanjutkan kuliahnya, surat itu menyatakan bahwa Barkah harus menerima tawaran tersebut lantaran dianggap bagian dari misi untuk membantu negara. Usai film tersebut, kegiatannya terus berlanjut dengan film Djakarta 1966, yang juga digarap oleh Arifin C Noer.
Bersama para maestro dunia panggung antara lain Teguh Karya, Wahyu Sihombing, WS Rendra, Arifin C Noer, Sardono W. Kusumo, bak “menyelam sambil minum air”, Subarkah mengasah kemampuannya selain sebagai aktor tetapi juga merangkap menjadi penata rias.
Berbekal pengalamannya sebagai model iklan, Barkah mulai menjajaki dunia seni peran dengan membintangi film pertamanya berjudul Kipas-Kipas Cari Angin pada 1989. Sejak itu, sejumlah judul film telah dia bintangi seperti Makelar Kodok Untung Besar (1990), Kafir (2002), dan Get Married 3 (2011).
Tak hanya film, pria kelahiran 25 Juni 1958 ini juga telah membintangi sejumlah judul sinetron seperti Benang Emas (1994), Si Doel Anak Sekolahan (1994), dan Cintaku di Rumah Susun Season 1-2 (2003-2005).
Sementara di bidang teater, dia pernah tampil di Filipina, Malaysia, dan Singapura bersama Teater Kecil, mementaskan lakon Ozon dan Sumur Tanpa Dasar. Bersama dengan grup ini pula, Barkah pernah mementaskan drama yang sama di empat kota di Amerika Serikat, melalui program Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat (KIAS).
Selain sebagai seniman praktis, Barkah juga menjadi dosen di sejumlah kampus. Dia pernah menjabat sebagai Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tahun 2002 dan 2009, serta Wakil Dekan III Seni Rupa IKJ pada 2008. Termasuk, mengajar di London School dan College of La Salle.
Mulai dari psikologi, sosiologis, antropologi hingga anatomi (special effect dipelajari sampai anatomi jenazah), Barkah membekali dirinya dengan berbagai ilmu dan pengetahuan untuk semakin meraih kemampuan terbaiknya dalam studinya, yang semula mempelajari seni lukis (seni murni), akhirnya membaur dengan seni teater, tari, film dan kemudian fokus studi di bidang tata rias (desain mode).
Ketertarikannya dengan dunia seni semenjak usia muda, menjadikan Barkah pada akhirnya memiliki peran penting bagi perkembangan seni tata rias dalam sejarah Indonesia hingga kini. Meski, apresiasi terhadap penata rias di dunia akting dan pentas pada umumnya masih minim.
Baca juga: Teater Koma Pentaskan Lakon Matahari Papua, Naskah Terakhir N.Riantiarno
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor: Nirmala Aninda
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.