General Secretary of the Communist Party of Vietnam, To Lam (tengah), Member of the Central Committee, Deputy Prime Minister, Minister of Foreign Affairs of the Socialist Republic of Vietnam Bui Thanh Son (kedua kanan), Member of the Central Committee, Minister of Finance Nguyen Van Thang (kanan), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (kedua kiri), dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy pada acara Dialog Bisnis Tingkat Tinggi Indonesia & Vietnam di Jakarta, Senin (10/3/2025). Sumber gambar: Hypeabis.id/Himawan L. Nugraha.

Indonesia-Vietnam Perkuat Kerja Sama Bilateral pada Perayaan 70 Tahun Hubungan Diplomatik

10 March 2025   |   15:46 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Memperingati 70 tahun hubungan diplomatik Vietnam-Indonesia, Kementerian Keuangan, Kedutaan Besar Republik Sosialis Vietnam untuk Indonesia bersama dengan Asosiasi Persahabatan Indonesia-Vietnam (IVFA) dan Grup Ciputra, mengadakan dialog bisnis untuk menegaskan kembali komitmen kerja sama kedua negara.

Mengusung tema Vietnam dan Indonesia: Kemitraan untuk Kemajuan dan Kesejahteraan, dialog tersebut menegaskan kembali komitmen kedua negara untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan, inovasi, dan kerja sama regional yang menyiapkan panggung bagi masa depan lebih kuat secara bersama-sama

Baca juga: IBM Gandeng Markoding & Universitas Ciputra Cetak SDM Mahir Teknologi AI

Mempertemukan para pejabat tinggi pemerintah, pemimpin bisnis, dan pemangku kepentingan utama dari dua negara, dialog tersebut menyoroti kolaborasi ekonomi, peluang investasi, dan kemitraan strategis di seluruh sektor yang sedang berkembang.

Sektor-sektor tersebut seperti kecerdasan buatan, ekonomi digital, energi hijau, kendaraan listrik, dan Kemitraan Transisi Energi yang Adil (JETP). Termasuk, membahas ketahanan pangan, industri halal, pendidikan, serta kerja sama maritim, yang mencerminkan hubungan kedua negara yang semakin erat.
 

General Secretary of the Communist Party of Vietnam, To Lam (tengah), Member of the Central Committee, Deputy Prime Minister, Minister of Foreign Affairs of the Socialist Republic of Vietnam Bui Thanh Son (kedua kanan), Member of the Central Committee, Minister of Finance Nguyen Van Thang (kanan), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (kedua kiri), dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy pada acara Dialog Bisnis Tingkat Tinggi Indonesia & Vietnam di Jakarta, Senin (10/3/2025). Sumber gambar: Hypeabis.id/Himawan L. Nugraha.

General Secretary of the Communist Party of Vietnam, To Lam (kanan), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (kedua kiri), dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy pada acara Dialog Bisnis Tingkat Tinggi Indonesia & Vietnam di Jakarta, Senin (10/3/2025). Sumber gambar: Hypeabis.id/Himawan L. Nugraha.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan didorong oleh kemitraan yang kuat dan pembangunan ekonomi yang cepat dengan populasi gabungan hampir 400 juta penduduk, perdagangan dan investasi bilateral antara Indonesia dan Vietnam telah tumbuh secara eksponensial.

Dia memaparkan pada 2024, total nilai perdagangan bilateral Indonesia-Vietnam telah mencapai sekitar US$16 miliar, meningkat sebesar 16 persen dari tahun ke tahun, yang menempatkan kedua negara memiliki target di atas US$18 miliar untuk tahun 2028 mendatang.

"Indonesia dan Vietnam telah meningkatkan kerja sama investasi di banyak sektor, termasuk pertanian, manufaktur, dan teknologi. Investasi oleh VinFast dalam membangun pabrik kendaraan listrik di Subang, serta mengembangkan ekosistem pengisian EV, melambangkan investasi yang lebih dalam, khususnya dalam transportasi yang berkelanjutan," katanya dalam acara diskusi yang digelar di Hotel Raffles Jakarta, Senin (10/3/2025).

Airlangga menyampaikan ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk mendorong pertumbuhan nilai perdagangan bilateral Indonesia-Vietnam. Pertama, menggunakan ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA) yang menjamin tarif nol persen pada 99,8 persen komoditas yang baik adalah suatu keharusan untuk meningkatkan nilai perdagangan.

ATIGA merupakan perjanjian kerja sama penting yang bertujuan untuk membentuk kawasan perdagangan bebas di antara negara-negara anggota ASEAN. Perjanjian ini mempermudah aktivitas perdagangan barang dan bertujuan untuk mengintegrasikan ekonomi di kawasan ASEAN secara lebih mendalam.

Kedua, memaksimalkan potensi ekonomi digital. Airlangga mengatakan Indonesia dan Vietnam dapat mempromosikan pembayaran dan transaksi lintas batas, yang akan mempercepat kegiatan ekonomi. Termasuk, pada tahun ini, ASEAN menargetkan untuk menandatangani Perjanjian Kerangka Ekonomi Digital ASEAN selama KTT ASEAN.

"Jadi semoga ini juga akan menggandakan ekonomi digital ASEAN menjadi dua triliun dolar [US$2 triliun] pada tahun 2030," katanya.

Airlangga juga menuturkan Indonesia & Vietnam memiliki potensi besar untuk memperkuat di sektor teknologi. Dia mengungkapkan pemerintah Indonesia menyambut baik perusahaan raksasa teknologi Vietnam, FPT, yang telah memperluas jaringan di Indonesia. Menurutnya, FPT telah bekerja sama dengan Pertamina, Ciputra, dan Metrodata di bidang energi, perbankan, TIK, serta di bidang AI, blockchain, serta komputasi awan (cloud computing).

Selain itu, di sektor kendaraan listrik, Vietnam melalui VinFast,  telah memasuki pasar Indonesia. Begitu pula Indonesia yang memiliki salah satu produksi nikel terbesar atau bahan baku untuk baterai kendaraan listrik, yang bersedia bekerja sama dengan VinFast. Begitu pula untuk perusahaan farmasi hewan Indonesia, PT Paksindo, yang baru saja menyelesaikan pembangunan pabrik vaksin hewan terbesar di Vietnam pada 2024.

"Jadi bersama-sama kita memiliki ekonomi, sistem, dan rantai pasokan yang saling melengkapi, sehingga produk kita akan kompetitif di pasar global. Mengidentifikasi potensi kerja sama di berbagai sektor sangat penting untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi kita, dan kita juga harus mempertimbangkan tantangan yang mungkin timbul untuk memfasilitasi kerja sama yang efektif," ujarnya.
 

Acara Dialog Bisnis Tingkat Tinggi Indonesia & Vietnam di Hotel Raffles Jakarta, Senin (10/3/2025). Sumber gambar: Hypeabis.id/Himawan L. Nugraha.

Acara Dialog Bisnis Tingkat Tinggi Indonesia & Vietnam di Hotel Raffles Jakarta, Senin (10/3/2025). Sumber gambar: Hypeabis.id/Himawan L. Nugraha.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam (PKV) To Lam mengapresiasi semakin eratnya kerja sama investasi dan perdagangan antara Vietnam dan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Dia berharap persahabatan kedua negara bisa terus berlanjut di masa mendatang.

Orang nomor satu di partai penguasa Vietnam itu turut berharap agar para pelaku usaha di kedua negara bisa lebih jauh mengeksplorasi peluang dan memperluas investasi di bidang sains dan teknologi, inovasi, penelitian dan pengembangan; semikonduktor, manufaktur chip, AI, IOT; energi baru seperti hidrogen, energi terbarukan; keuangan, pusat keuangan; hingga perawatan kesehatan, dan bioteknologi.

Menurutnya, sektor-sektor tersebut memiliki potensi besar baik di Vietnam maupun Indonesia. Apalagi, lanjutnya, sektor-sektor tersebut membutuhkan dukungan investasi.

Baca juga: Festival Musikal Indonesia 2024 Siap Dihelat di Ciputra Artpreneur Jakarta

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie mengatakan salah satu tantangan untuk mewujudkan kerja sama perdagangan bilateral antara Indonesia dan Vietnam ialah dorongan pemerintah dari kedua negara terhadap pelaku industri untuk terus berkolaborasi.

"Inilah tugas Kadin bersama pemerintah memastikan anggota-anggota kami  punya akses pasar yang terbuka, akses teknologi, akses finansial untuk saling investasi," katanya.

Dia juga menambahkan dengan semakin meningkatnya nilai perdagangan bilateral antara kedua negara, dapat semakin banyak menciptakan turunan lapangan kerja serta investasi di Indonesia. 

"Kami juga melihat Vietnam ini produktivitasnya tinggi dan ease of doing business-nya baik. Jadi ini bisa justru memacu kita untuk juga istilahnya bersaing secara positif, tapi tidak melupakan kolaborasi antara dua negara, yang ujungnya sama-sama pengen keluar dari middle income trap," imbuhnya.

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Resep Honey Butter Chicken untuk Sahur dan Iftar di Rumah

BERIKUTNYA

5 Rekomendasi Mini Drama Korea untuk Ditonton Sambil Menunggu Waktu Berbuka

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga