Guru Galih Sulistyaningra Bicara Tantangan Mempopulerkan Pendidikan di Indonesia
08 March 2025 |
20:58 WIB
1
Like
Like
Like
Pendidikan sebagai fondasi bangsa sudah menjadi istilah umum yang sering didengar. Akan tetapi, pada kenyataannya, pendidikan di Indonesia masih belum benar-benar populer di kalangan masyarakat. Masalahnya bukan sekadar terbatasnya akses di daerah terpencil, melainkan lebih besar daripada itu.
Sejumlah pihak menilai pendidikan masih dianggap bukan sebagai kebutuhan utama, bukan hanya oleh siswa, tetapi juga pemangku kebijakan, juga stakeholder terkait lain. Akibatnya, jutaan anak kehilangan kesempatan belajar, dan para guru harus berjuang menghadapi berbagai keterbatasan dalam proses mengajar.
Guru sekaligus CEO Smartick Indonesia, Galih Sulistyaningra, menyoroti fenomena ini dalam sebuah presentasi di acara TEDx Sampoerna University dengan pernyataan yang menggugah.
“Sering sekali saya ditanya, ‘Kenapa memilih menjadi guru setelah meraih gelar Magister di luar negeri?’ Wajah mereka selalu sama—bingung, bahkan sedikit kecewa. Pertanyaan ini mencerminkan masalah yang lebih besar, yaitu profesi pengajaran dan pendidikan yang sering kali dianggap remeh,” ungkapnya.
Baca juga: Hypereport: Kekhawatiran Dunia Pendidikan di Tengah Efisiensi Anggaran
Pernyataan ini tampak menggambarkan realitas pahit tentang bagaimana profesi pendidik masih kurang mendapat penghargaan yang layak di Indonesia. Padahal, tanpa guru yang berkualitas dan berdedikasi, sulit membayangkan sistem pendidikan yang mampu mencetak generasi penerus yang unggul.
Galih mengatakan pendidikan masih sering dipandang sebagai pilihan kedua, bukan fondasi untuk membangun masyarakat maju. Jika ini masih dibiarkan, cita-cita menuju generasi emas 2045 bisa berujung hampa.
“Saya melihat bagaimana kekurangan pendidikan mempengaruhi anak-anak. Bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan untuk bermimpi dan berharap,” imbuhnya.
Selama menjadi guru, Galih telah bertemu dengan banyak murid dengan beragam latar belakang. Sebagian besarnya datang dari keluarga yang tampak menganggap pendidikan bukan prioritas.
Fenomena ini, lanjutnya, tidak hanya terjadi di kota-kota kecil. Di Jakarta, kota yang kerap disebut simbol kemajuan, orang tua-orang tua yang menganggap pendidikan bukan prioritas pun masih bisa ditemukan.
Galih mengatakan memang benar, sebagian anak-anak Indonesia telah mendapat pendidikan yang layak, tetapi sebagian laginya tidak. Jurang perbedaan inilah yang patut untuk disorot. “Kita memang tidak bisa menggeneralisasi begitu saja. Di dunia pendidikan, privilege dan ketidakberuntungan benar-benar nyata,” tuturnya.
Menurutnya, isu pendidikan yang belum jadi prioritas punya masalah yang kompleks. Bahkan, katanya, masalah ini tidak hanya bisa selesai dengan pemberian sekolah gratis semata. Hal ini juga berkaitan dengan tempat di mana anak itu tumbuh dan berkembang.
Galih mengatakan sebelum anak-anak ke sekolah, mereka dibentuk oleh lingkungan rumah. Ketika kondisi rumahnya tidak kondusif, baik secara fisik bangunan maupun relasi di dalamnya, maka sang anak akan terpengaruh dengan itu.
Ada cerita cukup pilu yang dialaminya ketika bertanya kepada anak didiknya soal apa impian mereka. Galih menyebut sang anak hanya menuliskan satu kalimat sederhana “Saya ingin punya jendela di rumah,” katanya.
Itulah mengapa pendidikan gratis saja tak cukup untuk membenahi kondisi di Indonesia. Sebab, jika sang anak belajar, tetapi kebutuhan dasar mereka, sesederhana udara dan cahaya saja tidak terpenuhi, tentu akan sulit.
Baca juga: Hypereport: Minat & Tujuan Gen Z Mencapai Pendidikan Tinggi Pada 2025
Galih berharap isu pendidikan benar-benar menjadi prioritas Indonesia ke depan. Penyelesaian isu ini pun tak hanya dilakukan pada satu sisi, tetapi secara menyeluruh.
“Ini adalah sebuah realitas yang harus membuat kita berhenti dan bertanya, bagaimana negara bisa berkembang ketika banyak anak-anak tertinggal di belakang. Inilah alasan kenapa pendidikan harus dipopulerkan dan menjadi tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Bagi Galih, pendidikan adalah salah satu isu penting yang mesti segera diselesaikan. Pasalnya, pendidikan adalah alat utama untuk melepaskan perjuangan dan tantangan generasi. Menurutnya, orang-orang perlu berpikir lebih jauh dari kepentingan mereka sendiri.
Menurutnya, Indonesia juga perlu mengubah fokus dari ke sekadar masalah akses, ke sesuatu yang lebih besar, yakni kualitas dan keadilan pendidikan. Sebab, pendidikan sejatinya lebih dari sekadar pengajaran yang baik.
Galih mengatakan pendidikan adalah tentang memastikan sebuah masyarakat bisa berpikir. Ini adalah cara kita berinteraksi satu sama lain, menyelesaikan masalah bersama, dan cara kita membuat dunia yang berharga untuk hidup. “Pendidikan adalah pendorong pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan bahkan revolusi,” jelas Galih.
TEDx Sampoerna University 2025 merupakan edisi kelima. Digelar oleh Sampoerna University bersama Badan Eksekutif Mahasiswa, tahun ini acara ini mengusung tema “UpNext”.
Tema ini diambil untuk memotivasi generasi muda dalam mengatasi tantangan yang muncul, serta mengembangkan keterampilan dan pola pikir yang diperlukan untuk bertindak dan mengambil peran aktif dalam menciptakan solusi dan inovasi yang dibutuhkan di masa depan.
Baca juga: 6 Program Prioritas Pendidikan dari Kemendikdasmen, Ada Belajar Matematika dan Sains Sejak Dini
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor: Syaiful Millah
Sejumlah pihak menilai pendidikan masih dianggap bukan sebagai kebutuhan utama, bukan hanya oleh siswa, tetapi juga pemangku kebijakan, juga stakeholder terkait lain. Akibatnya, jutaan anak kehilangan kesempatan belajar, dan para guru harus berjuang menghadapi berbagai keterbatasan dalam proses mengajar.
Guru sekaligus CEO Smartick Indonesia, Galih Sulistyaningra, menyoroti fenomena ini dalam sebuah presentasi di acara TEDx Sampoerna University dengan pernyataan yang menggugah.
“Sering sekali saya ditanya, ‘Kenapa memilih menjadi guru setelah meraih gelar Magister di luar negeri?’ Wajah mereka selalu sama—bingung, bahkan sedikit kecewa. Pertanyaan ini mencerminkan masalah yang lebih besar, yaitu profesi pengajaran dan pendidikan yang sering kali dianggap remeh,” ungkapnya.
Baca juga: Hypereport: Kekhawatiran Dunia Pendidikan di Tengah Efisiensi Anggaran

Guru sekaligus CEO Smartick Indonesia, Galih Sulistyaningra (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
Galih mengatakan pendidikan masih sering dipandang sebagai pilihan kedua, bukan fondasi untuk membangun masyarakat maju. Jika ini masih dibiarkan, cita-cita menuju generasi emas 2045 bisa berujung hampa.
“Saya melihat bagaimana kekurangan pendidikan mempengaruhi anak-anak. Bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan untuk bermimpi dan berharap,” imbuhnya.
Selama menjadi guru, Galih telah bertemu dengan banyak murid dengan beragam latar belakang. Sebagian besarnya datang dari keluarga yang tampak menganggap pendidikan bukan prioritas.
Fenomena ini, lanjutnya, tidak hanya terjadi di kota-kota kecil. Di Jakarta, kota yang kerap disebut simbol kemajuan, orang tua-orang tua yang menganggap pendidikan bukan prioritas pun masih bisa ditemukan.
Galih mengatakan memang benar, sebagian anak-anak Indonesia telah mendapat pendidikan yang layak, tetapi sebagian laginya tidak. Jurang perbedaan inilah yang patut untuk disorot. “Kita memang tidak bisa menggeneralisasi begitu saja. Di dunia pendidikan, privilege dan ketidakberuntungan benar-benar nyata,” tuturnya.
Menurutnya, isu pendidikan yang belum jadi prioritas punya masalah yang kompleks. Bahkan, katanya, masalah ini tidak hanya bisa selesai dengan pemberian sekolah gratis semata. Hal ini juga berkaitan dengan tempat di mana anak itu tumbuh dan berkembang.
Galih mengatakan sebelum anak-anak ke sekolah, mereka dibentuk oleh lingkungan rumah. Ketika kondisi rumahnya tidak kondusif, baik secara fisik bangunan maupun relasi di dalamnya, maka sang anak akan terpengaruh dengan itu.
Ada cerita cukup pilu yang dialaminya ketika bertanya kepada anak didiknya soal apa impian mereka. Galih menyebut sang anak hanya menuliskan satu kalimat sederhana “Saya ingin punya jendela di rumah,” katanya.
Itulah mengapa pendidikan gratis saja tak cukup untuk membenahi kondisi di Indonesia. Sebab, jika sang anak belajar, tetapi kebutuhan dasar mereka, sesederhana udara dan cahaya saja tidak terpenuhi, tentu akan sulit.
Baca juga: Hypereport: Minat & Tujuan Gen Z Mencapai Pendidikan Tinggi Pada 2025

Guru sekaligus CEO Smartick Indonesia, Galih Sulistyaningra (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
“Ini adalah sebuah realitas yang harus membuat kita berhenti dan bertanya, bagaimana negara bisa berkembang ketika banyak anak-anak tertinggal di belakang. Inilah alasan kenapa pendidikan harus dipopulerkan dan menjadi tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Bagi Galih, pendidikan adalah salah satu isu penting yang mesti segera diselesaikan. Pasalnya, pendidikan adalah alat utama untuk melepaskan perjuangan dan tantangan generasi. Menurutnya, orang-orang perlu berpikir lebih jauh dari kepentingan mereka sendiri.
Menurutnya, Indonesia juga perlu mengubah fokus dari ke sekadar masalah akses, ke sesuatu yang lebih besar, yakni kualitas dan keadilan pendidikan. Sebab, pendidikan sejatinya lebih dari sekadar pengajaran yang baik.
Galih mengatakan pendidikan adalah tentang memastikan sebuah masyarakat bisa berpikir. Ini adalah cara kita berinteraksi satu sama lain, menyelesaikan masalah bersama, dan cara kita membuat dunia yang berharga untuk hidup. “Pendidikan adalah pendorong pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan bahkan revolusi,” jelas Galih.
TEDx Sampoerna University 2025 merupakan edisi kelima. Digelar oleh Sampoerna University bersama Badan Eksekutif Mahasiswa, tahun ini acara ini mengusung tema “UpNext”.
Tema ini diambil untuk memotivasi generasi muda dalam mengatasi tantangan yang muncul, serta mengembangkan keterampilan dan pola pikir yang diperlukan untuk bertindak dan mengambil peran aktif dalam menciptakan solusi dan inovasi yang dibutuhkan di masa depan.
Baca juga: 6 Program Prioritas Pendidikan dari Kemendikdasmen, Ada Belajar Matematika dan Sains Sejak Dini
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor: Syaiful Millah
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.