Isyana Sarasvati: Musik Bukan Sekadar Nada, Tapi Sebuah Pesan
08 March 2025 |
18:47 WIB
1
Like
Like
Like
Ruangan itu gelap. Hanya ada cahaya temaram yang menerangi panggung di depan. Penonton yang duduk di barisan kursi juga tampak diam, menanti. Tiba-tiba, suara dentingan piano memenuhi udara, membelah keheningan dengan harmoni yang begitu menggugah.
Sorot lampu lantas menyinari perempuan semampai yang berada di balik piano. Dialah Isyana Sarasvati. Jari-jarinya begitu lincah menari di atas tuts, menciptakan aliran melodi yang menghipnotis, membawa hadirin menyelami arus musik klasik yang megah dan emosional.
Tidak ada kata-kata, tidak ada pengantar. Hanya musik yang berbicara. Isyana memilih musik sebagai pembuka presentasinya di acara TEDx Sampoerna University yang digelar di Teater Salihara, Jakarta Selatan, Sabtu (8/3/2025).
Baca juga: Rayakan 1 Dekade Bermusik, Isyana Sarasvati Bakal Gelar Konser Tunggal Lost in Harmony
Saat nada terakhir menghilang di udara, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Akan tetapi, ini bukan keheningan yang kosong. Keheningan yang membawa kesadaran baru. Isyana bangkit dari tempat duduknya dan menatap hadirin dengan senyuman samar. "Apa yang baru saja kalian rasakan?" tanyanya dengan lembut.
Tak ada jawaban serempak, hanya desisan pelan dan beberapa bisikan samar. Akan tetapi, rasanya semua sepakat, ada suatu perasaan tertentu yang muncul setelah mendengar musik.
Bagi Isyana, musik adalah bahasa yang paling universal. Ia bisa berbicara tanpa kata, menyentuh tanpa menyentuh, dan mengungkapkan hal-hal yang bahkan kita sendiri tak mampu jelaskan dengan lisan. “Apa pun yang kalian rasakan, itulah bentuk bagaimana musik mampu memengaruhi emosi kita,” kata Isyana.
Isyana mengatakan dalam dunia musik, itu kerap disebut sebagai efek Mozart. Suatu fenomena psikologis yang akan dirasakan oleh setiap orang ketika sedang mendengar musik-musik klasik. Efeknya beragam, dari mengurangi stres sampai ketakutan.
Isyana meyakini perasaan-perasaan seperti itu kini tak hanya bisa didapat dari musik klasik, tetapi berbagai jenis musik lainnya juga. Baginya, musik lebih dari sekadar entertainment.
Menurutnya, musik medium yang mampu memberikan segala jenis efek emosional dan psikologi. Dari musik, segala hal yang tadinya tampak abu atau mungkin sukar dibicarakan, bisa menjadi lebih lentur.
Isyana percaya musik adalah medium efektif untuk melihat berbagai spektrum unik di dalam kehidupan manusia. Di beberapa potretnya, musik pun bisa bersalin rupa menjadi perwakilan kolektif dari sebuah perjuangan sosial hingga ekspresi kebebasan.
“Di Indonesia, kita tentu mengenal lagu Bento… Bento… Bento… Asyik! Yang telah lama menjadi anthem untuk ketahanan sosial dan politik,” jelasnya.
Musik, baginya, bukan sekadar hiburan, melainkan jendela menuju pemahaman yang lebih terhadap dunia, terutama soal harmoni. Lewat musik, lanjutnya, rasanya dunia bisa bersatu dan menuju ke arah yang lebih baik.
“Saya selalu bermimpi musik bisa menunjukkan pesan-pesan penting. Apakah itu tentang sejarah, budaya, atau masalah sosial. Karena saya percaya, banyak lagu yang bisa membuka mata generasi berikutnya,” ungkap pelantun lagu Tetap Dalam Jiwa tersebut.
Sebagai musisi, nilai-nilai itu juga terus dibawanya. Dia selalu ingin memiliki karya yang bertanggung jawab, tidak hanya untuk hiburan, tetapi juga memberikan nilai positif. Menurutnya, sudah seharusnya musik sekarang dijadikan sebagai ruang untuk kita berkembang, memahami dunia, dan menemukan makna dalam jalan hidup setiap orang. Begitu pula yang terjadi pada dirinya.
Isyana mengatakan genre di musiknya selalu berbeda karena alasan tersebut. Selama satu dekade berkarya, Isyana Sarasvati terus mengeksplorasi berbagai genre musik.
Perjalanan musikalnya sering kali dianggap penuh kejutan, bahkan ekstrem bagi sebagian orang. Ada masa di mana ia membawakan lagu-lagu bernuansa pop yang ringan, lalu di periode berikutnya justru mendalami musik metal. Tak berhenti di situ, album selanjutnya menunjukkan sisi berbeda dirinya, di mana ia kembali mengeksplorasi dunia musik klasik.
“Saya menganggap menulis lagu sebagai diari saya, terapi saya. Anda bisa mendengar seluruh cerita hidup saya melalui musik yang saya ciptakan, dari apa-apa yang coba saya jelajahi. Saya hanya ingin berterus terang lewat musik,” ucap Isyana.
Isyana berharap setiap orang dapat segera menemukan musiknya sendiri untuk lebih mengenal dirinya sendiri atau dunia yang lebih luas lagi.
TEDxSampoernaUniversity tahun ini merupakan edisi kelima. Digelar oleh Sampoerna University bersama Badan Eksekutif Mahasiswa, tahun ini acara ini mengusung tema “UpNext”.
Tema ini diambil untuk memotivasi generasi muda dalam mengatasi tantangan yang muncul, serta mengembangkan keterampilan dan pola pikir yang diperlukan untuk bertindak dan mengambil peran aktif dalam menciptakan solusi dan inovasi yang dibutuhkan di masa depan.
Tema UpNex juga dipilih sebagai tema penutup dari trilogi tema sebelumnya, yakni Hindsight (2023) yang mengajak publik merenungkan masa lalu dan pelajaran yang dapat diambil, Status Quo (2024) yang fokus pada pemahaman kondisi dan tantangan saat ini, lalu UpNext (2025) yang mencoba menatap masa depan dengan antisipasi, mempersiapkan diri untuk perubahan positif, dan menciptakan peluang baru.
Ketiga tema ini menggambarkan perjalanan waktu yang menghubungkan pembelajaran dari masa lalu, realitas masa kini, dan potensi yang akan datang, menginspirasi kita untuk berpikir kritis dan bertindak inovatif demi masa depan yang lebih baik.
Baca juga: Musikal Mar: Ketika Sejarah dan Fiksi Diramu lewat Karya Ismail Marzuki
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor: Syaiful Millah
Sorot lampu lantas menyinari perempuan semampai yang berada di balik piano. Dialah Isyana Sarasvati. Jari-jarinya begitu lincah menari di atas tuts, menciptakan aliran melodi yang menghipnotis, membawa hadirin menyelami arus musik klasik yang megah dan emosional.
Tidak ada kata-kata, tidak ada pengantar. Hanya musik yang berbicara. Isyana memilih musik sebagai pembuka presentasinya di acara TEDx Sampoerna University yang digelar di Teater Salihara, Jakarta Selatan, Sabtu (8/3/2025).
Baca juga: Rayakan 1 Dekade Bermusik, Isyana Sarasvati Bakal Gelar Konser Tunggal Lost in Harmony

Penyanyi Isyana Sarasvati (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
Tak ada jawaban serempak, hanya desisan pelan dan beberapa bisikan samar. Akan tetapi, rasanya semua sepakat, ada suatu perasaan tertentu yang muncul setelah mendengar musik.
Bagi Isyana, musik adalah bahasa yang paling universal. Ia bisa berbicara tanpa kata, menyentuh tanpa menyentuh, dan mengungkapkan hal-hal yang bahkan kita sendiri tak mampu jelaskan dengan lisan. “Apa pun yang kalian rasakan, itulah bentuk bagaimana musik mampu memengaruhi emosi kita,” kata Isyana.
Isyana mengatakan dalam dunia musik, itu kerap disebut sebagai efek Mozart. Suatu fenomena psikologis yang akan dirasakan oleh setiap orang ketika sedang mendengar musik-musik klasik. Efeknya beragam, dari mengurangi stres sampai ketakutan.
Isyana meyakini perasaan-perasaan seperti itu kini tak hanya bisa didapat dari musik klasik, tetapi berbagai jenis musik lainnya juga. Baginya, musik lebih dari sekadar entertainment.
Menurutnya, musik medium yang mampu memberikan segala jenis efek emosional dan psikologi. Dari musik, segala hal yang tadinya tampak abu atau mungkin sukar dibicarakan, bisa menjadi lebih lentur.
Isyana percaya musik adalah medium efektif untuk melihat berbagai spektrum unik di dalam kehidupan manusia. Di beberapa potretnya, musik pun bisa bersalin rupa menjadi perwakilan kolektif dari sebuah perjuangan sosial hingga ekspresi kebebasan.
“Di Indonesia, kita tentu mengenal lagu Bento… Bento… Bento… Asyik! Yang telah lama menjadi anthem untuk ketahanan sosial dan politik,” jelasnya.
Musik, baginya, bukan sekadar hiburan, melainkan jendela menuju pemahaman yang lebih terhadap dunia, terutama soal harmoni. Lewat musik, lanjutnya, rasanya dunia bisa bersatu dan menuju ke arah yang lebih baik.
“Saya selalu bermimpi musik bisa menunjukkan pesan-pesan penting. Apakah itu tentang sejarah, budaya, atau masalah sosial. Karena saya percaya, banyak lagu yang bisa membuka mata generasi berikutnya,” ungkap pelantun lagu Tetap Dalam Jiwa tersebut.
Sebagai musisi, nilai-nilai itu juga terus dibawanya. Dia selalu ingin memiliki karya yang bertanggung jawab, tidak hanya untuk hiburan, tetapi juga memberikan nilai positif. Menurutnya, sudah seharusnya musik sekarang dijadikan sebagai ruang untuk kita berkembang, memahami dunia, dan menemukan makna dalam jalan hidup setiap orang. Begitu pula yang terjadi pada dirinya.
Isyana mengatakan genre di musiknya selalu berbeda karena alasan tersebut. Selama satu dekade berkarya, Isyana Sarasvati terus mengeksplorasi berbagai genre musik.
Perjalanan musikalnya sering kali dianggap penuh kejutan, bahkan ekstrem bagi sebagian orang. Ada masa di mana ia membawakan lagu-lagu bernuansa pop yang ringan, lalu di periode berikutnya justru mendalami musik metal. Tak berhenti di situ, album selanjutnya menunjukkan sisi berbeda dirinya, di mana ia kembali mengeksplorasi dunia musik klasik.
“Saya menganggap menulis lagu sebagai diari saya, terapi saya. Anda bisa mendengar seluruh cerita hidup saya melalui musik yang saya ciptakan, dari apa-apa yang coba saya jelajahi. Saya hanya ingin berterus terang lewat musik,” ucap Isyana.
Isyana berharap setiap orang dapat segera menemukan musiknya sendiri untuk lebih mengenal dirinya sendiri atau dunia yang lebih luas lagi.

Penyanyi Isyana Sarasvati (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
TEDxSampoernaUniversity tahun ini merupakan edisi kelima. Digelar oleh Sampoerna University bersama Badan Eksekutif Mahasiswa, tahun ini acara ini mengusung tema “UpNext”.
Tema ini diambil untuk memotivasi generasi muda dalam mengatasi tantangan yang muncul, serta mengembangkan keterampilan dan pola pikir yang diperlukan untuk bertindak dan mengambil peran aktif dalam menciptakan solusi dan inovasi yang dibutuhkan di masa depan.
Tema UpNex juga dipilih sebagai tema penutup dari trilogi tema sebelumnya, yakni Hindsight (2023) yang mengajak publik merenungkan masa lalu dan pelajaran yang dapat diambil, Status Quo (2024) yang fokus pada pemahaman kondisi dan tantangan saat ini, lalu UpNext (2025) yang mencoba menatap masa depan dengan antisipasi, mempersiapkan diri untuk perubahan positif, dan menciptakan peluang baru.
Ketiga tema ini menggambarkan perjalanan waktu yang menghubungkan pembelajaran dari masa lalu, realitas masa kini, dan potensi yang akan datang, menginspirasi kita untuk berpikir kritis dan bertindak inovatif demi masa depan yang lebih baik.
Baca juga: Musikal Mar: Ketika Sejarah dan Fiksi Diramu lewat Karya Ismail Marzuki
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor: Syaiful Millah
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.