Tak Sekadar Halal, Begini Strategi Baru Memenangkan Pasar Muslim
09 March 2025 |
06:00 WIB
Perkembangan pasar muslim di Indonesia saat ini terbilang cukup pesat, membuka peluang besar bagi berbagai industri, tidak hanya untuk produk makanan dan minuman saja tetapi juga produk fesyen, farmasi dan kosmetik, hingga media dan hiburan.
Sebagai sektor dengan pangsa pasar terbesar dalam industri halal, permintaan terhadap makanan dan minuman halal terus meningkat. Terlebih dengan berkembangnya tren konsumsi sehat dan bersih (thoyyib) juga semakin diperhatikan oleh konsumen Muslim.
Selain itu, produk di sektor kosmetik dan farmasi halal juga terus berkembang pesat, terutama di kalangan generasi muda yang lebih sadar akan bahan-bahan dalam produk perawatan mereka.
Baca juga: Kontribusi Indonesia di Pasar Halal Dunia Masih Minim, Ini Tantangan Utamanya
Berdasarkan riset Inventure-Rumah Zakat kesadaran terhadap produk halal mengalami lonjakan yang signifikan, dengan 96 persen konsumen di Indonesia mendukung aturan sertifikasi halal, khususnya untuk semua produk kosmetik yang akan diberlakukan pada 2026.
Begitu pula dengan produk fesyen muslim dan modest fesyen. Indonesia saat ini memiliki ekosistem modest fashion yang kuat, dengan banyak desainer lokal yang mulai mengembangkan koleksi berbasis etika Islam. Perhelatan Jakarta Modest Fashion Week (JMFW), misalnya, menjadi ajang untuk memperkenalkan fesyen Muslim Indonesia ke pasar global.
Yuswohady Managing Partner Inventure mengatakan, meskipun potensi pasar muslim di Indonesia masih sangat besar tapi masih banyak brand yang menargetkan segmen ini dengan hanya berfokus pada manfaat spiritual (spiritual benefit) sebagai daya tarik utama.
Padahal, tren terbaru menunjukkan bahwa agar bisa memenangkan hati konsumen muslim, brand harus menawarkan manfaat fungsional (functional benefit) sekaligus manfaat emosional (emotional benefit) yang unggul, tak cukup hanya manfaat spiritual.
“Spiritual benefit seperti kesesuaian dengan nilai-nilai Islam memang penting, tetapi itu bukan lagi faktor pembeda di pasar. Saat ini, konsumen muslim semakin kritis dan menuntut functional benefit dan emotional benefit yang lebih nyata, seperti kualitas produk, harga kompetitif, inovasi teknologi, serta kemudahan akses,” ujar Yuswohady di sela acara Indonesia Muslim Market Outlook 2025.
Berdasarkan data terbaru dari Inventure 2025, terlihat bahwa banyak produk yang mengusung label syariah atau halal masih menghadapi tantangan dalam memperluas pangsa pasar. Salah satu contoh nyata adalah industri perbankan syariah.
Meskipun bank syariah telah hadir lebih dari tiga dekade, data Inventure 2023 menunjukkan bahwa hanya 6 persen responden yang memiliki produk syariah. Dari kelompok kecil ini, alasan utama mereka memilih bank syariah adalah karena spiritual benefit, seperti menghindari riba, kesesuaian dengan ajaran Islam, dan ketenangan hati.
“Namun, spiritual benefit ternyata tidak cukup kuat untuk meyakinkan 94 persen konsumen perbankan konvensional agar beralih ke bank syariah,” ucapnya.
Sementara itu, brand kosmetik seperti Wardah dinilai menjadi salah satu contoh keberhasilan penerapan strategi functional benefit sebagai brand kosmetik halal terbesar di Indonesia. Menurut Yuswohady, pada awal kemunculannya, Wardah menonjolkan branding Islam sebagai diferensiasi utama.
Namun, seiring dengan meningkatnya persaingan di industri kosmetik, Wardah mulai memperkuat functional benefit dengan menggunakan bahan-bahan yang aman, mengembangkan teknologi kecantikan yang lebih baik, serta meningkatkan kualitas produk melalui inovasi formula.
“Strategi ini terbukti efektif dalam memperluas pangsa pasar mereka, tidak hanya di kalangan muslim tetapi juga konsumen yang lebih luas,” terangnya.
Di sisi lain, Yuswohady juga melihat adanya perubahan perilaku konsumen muslim yang saat ini tidak hanya melihat hukum Islam sebagai aturan yang kaku tetapi memiliki tujuan utama (maqashid) untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dan kemaslahatan manusia. “Prinsip maqashid ini dipraktikkan secara adapted mengikuti perkembangan zaman untuk mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin,” ujarnya.
Muslim 5.0 terinspirasi dari Transformasi Society 5.0 yang digagas di Jepang. Konsep ini menekankan pada penggunaan teknologi untuk menciptakan masyarakat yang lebih humanis dan etis, yang sejalan dengan nilai nilai Islam.
“Dalam konteks ini, konsumen muslim tidak hanya dilihat sebagai pasar, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat global yang memiliki tanggung jawab moral dan sosial,” tambah Yuswohady.
Irvan Nugraha, CEO Rumah Zakat mengamini hal tersebut. Menurutnya, konsumen muslim saat ini makin sadar dengan produk halal sekaligus juga makin peduli dengan isu-isu global seperti Palestina, yang tercermin dalam fenomena pemboikotan produk-produk yang dianggap pro-Israel.
Irvan juga menambahkan bahwa kini konsumen muslim tak hanya peduli kepada manfaat teknis produk, tapi mulai melihat konsumsi sebagai bagian dari kepedulian kepada isu-isu holistik seperti persoalan kemanusiaan, keadilan dan ketimpangan sosial, hingga kesejahteraan umat.
Baca juga: Urgensi Sertifikat Halal Bagi Pelaku Usaha Makanan dan Minuman
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor: Syaiful Millah
Sebagai sektor dengan pangsa pasar terbesar dalam industri halal, permintaan terhadap makanan dan minuman halal terus meningkat. Terlebih dengan berkembangnya tren konsumsi sehat dan bersih (thoyyib) juga semakin diperhatikan oleh konsumen Muslim.
Selain itu, produk di sektor kosmetik dan farmasi halal juga terus berkembang pesat, terutama di kalangan generasi muda yang lebih sadar akan bahan-bahan dalam produk perawatan mereka.
Baca juga: Kontribusi Indonesia di Pasar Halal Dunia Masih Minim, Ini Tantangan Utamanya
Berdasarkan riset Inventure-Rumah Zakat kesadaran terhadap produk halal mengalami lonjakan yang signifikan, dengan 96 persen konsumen di Indonesia mendukung aturan sertifikasi halal, khususnya untuk semua produk kosmetik yang akan diberlakukan pada 2026.
Begitu pula dengan produk fesyen muslim dan modest fesyen. Indonesia saat ini memiliki ekosistem modest fashion yang kuat, dengan banyak desainer lokal yang mulai mengembangkan koleksi berbasis etika Islam. Perhelatan Jakarta Modest Fashion Week (JMFW), misalnya, menjadi ajang untuk memperkenalkan fesyen Muslim Indonesia ke pasar global.
Yuswohady Managing Partner Inventure mengatakan, meskipun potensi pasar muslim di Indonesia masih sangat besar tapi masih banyak brand yang menargetkan segmen ini dengan hanya berfokus pada manfaat spiritual (spiritual benefit) sebagai daya tarik utama.
Padahal, tren terbaru menunjukkan bahwa agar bisa memenangkan hati konsumen muslim, brand harus menawarkan manfaat fungsional (functional benefit) sekaligus manfaat emosional (emotional benefit) yang unggul, tak cukup hanya manfaat spiritual.
“Spiritual benefit seperti kesesuaian dengan nilai-nilai Islam memang penting, tetapi itu bukan lagi faktor pembeda di pasar. Saat ini, konsumen muslim semakin kritis dan menuntut functional benefit dan emotional benefit yang lebih nyata, seperti kualitas produk, harga kompetitif, inovasi teknologi, serta kemudahan akses,” ujar Yuswohady di sela acara Indonesia Muslim Market Outlook 2025.
Berdasarkan data terbaru dari Inventure 2025, terlihat bahwa banyak produk yang mengusung label syariah atau halal masih menghadapi tantangan dalam memperluas pangsa pasar. Salah satu contoh nyata adalah industri perbankan syariah.
Meskipun bank syariah telah hadir lebih dari tiga dekade, data Inventure 2023 menunjukkan bahwa hanya 6 persen responden yang memiliki produk syariah. Dari kelompok kecil ini, alasan utama mereka memilih bank syariah adalah karena spiritual benefit, seperti menghindari riba, kesesuaian dengan ajaran Islam, dan ketenangan hati.
“Namun, spiritual benefit ternyata tidak cukup kuat untuk meyakinkan 94 persen konsumen perbankan konvensional agar beralih ke bank syariah,” ucapnya.
Sementara itu, brand kosmetik seperti Wardah dinilai menjadi salah satu contoh keberhasilan penerapan strategi functional benefit sebagai brand kosmetik halal terbesar di Indonesia. Menurut Yuswohady, pada awal kemunculannya, Wardah menonjolkan branding Islam sebagai diferensiasi utama.
Namun, seiring dengan meningkatnya persaingan di industri kosmetik, Wardah mulai memperkuat functional benefit dengan menggunakan bahan-bahan yang aman, mengembangkan teknologi kecantikan yang lebih baik, serta meningkatkan kualitas produk melalui inovasi formula.
“Strategi ini terbukti efektif dalam memperluas pangsa pasar mereka, tidak hanya di kalangan muslim tetapi juga konsumen yang lebih luas,” terangnya.
Di sisi lain, Yuswohady juga melihat adanya perubahan perilaku konsumen muslim yang saat ini tidak hanya melihat hukum Islam sebagai aturan yang kaku tetapi memiliki tujuan utama (maqashid) untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dan kemaslahatan manusia. “Prinsip maqashid ini dipraktikkan secara adapted mengikuti perkembangan zaman untuk mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin,” ujarnya.
Muslim 5.0 terinspirasi dari Transformasi Society 5.0 yang digagas di Jepang. Konsep ini menekankan pada penggunaan teknologi untuk menciptakan masyarakat yang lebih humanis dan etis, yang sejalan dengan nilai nilai Islam.
“Dalam konteks ini, konsumen muslim tidak hanya dilihat sebagai pasar, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat global yang memiliki tanggung jawab moral dan sosial,” tambah Yuswohady.
Irvan Nugraha, CEO Rumah Zakat mengamini hal tersebut. Menurutnya, konsumen muslim saat ini makin sadar dengan produk halal sekaligus juga makin peduli dengan isu-isu global seperti Palestina, yang tercermin dalam fenomena pemboikotan produk-produk yang dianggap pro-Israel.
Irvan juga menambahkan bahwa kini konsumen muslim tak hanya peduli kepada manfaat teknis produk, tapi mulai melihat konsumsi sebagai bagian dari kepedulian kepada isu-isu holistik seperti persoalan kemanusiaan, keadilan dan ketimpangan sosial, hingga kesejahteraan umat.
Baca juga: Urgensi Sertifikat Halal Bagi Pelaku Usaha Makanan dan Minuman
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor: Syaiful Millah
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.