International Women's Day atau Hari Perempuan Internasional diperingati 8 Maret tiap tahunnya. (Sumber gambar: Unseen Histories/Unsplash)

Sejarah Hari Perempuan Internasional yang Diperingati Tiap 8 Maret

08 March 2025   |   08:31 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

International Women's Day atau Hari Perempuan Internasional diperingati 8 Maret tiap tahunnya. Peringatan yang telah berlangsung satu abad lebih sejak 1911 ini merupakan hari global untuk merayakan pencapaian sosial, ekonomi, budaya, dan politik kaum perempuan. Termasuk, menjadi momen menyuarakan pentingnya percepatan kesetaraan gender.
 
Pada 8 Maret tiap tahunnya, jutaan orang di seluruh dunia memperingati Hari Perempuan Internasional (IWD) untuk mendukung kesetaraan gender sebagai agenda global yang memberikan dampak positif bagi perempuan. 

Baca juga: Tema Hari Perempuan Internasional 2025, Dorong Percepatan Kesetaraan Gender Global
 
Mengutip situs resmi International Women's Day, gagasan mengenai IWD telah muncul sejak awal tahun 1900-an, masa ekspansi dan pergolakan besar di dunia industri dengan ledakan pertumbuhan populasi serta bangkitnya ideologi radikal.
 
Seiring waktu, kerusuhan besar dan perdebatan kritis terjadi di kalangan perempuan. Penindasan dan ketidaksetaraan yang dialami perempuan mendorong mereka untuk lebih vokal dan aktif dalam mengkampanyekan perubahan. Kemudian pada 1908, sebanyak 15.000 perempuan berbaris di New York City menuntut jam kerja yang lebih pendek, gaji yang lebih baik, serta hak pilih.
 
Sesuai dengan deklarasi Partai Sosialis Amerika, akhirnya terbentuk National Women's Day atau Hari Perempuan Nasional (NWD) pertama, yang diperingati di seluruh Amerika Serikat pada 28 Februari 1909. Para perempuan pun terus merayakan NWD tiap hari Minggu terakhir bulan Februari hingga 1913.
 
Pada 1910, Konferensi Internasional Perempuan Pekerja kedua diadakan di Kopenhagen, Denmark. Seorang perempuan bernama Clara Zetkin, Pemimpin Kantor Perempuan untuk Partai Sosial Demokrat di Jerman, mengajukan gagasan tentang Hari Perempuan Internasional (IWD).
 
Dia mengusulkan agar setiap tahun di setiap negara harus ada perayaan pada hari yang sama mengenai Hari Perempuan untuk memperjuangkan tuntutan mereka. Konferensi yang dihadiri lebih dari 100 perempuan dari 17 negara, yang mewakili serikat pekerja, partai sosialis, dan klub perempuan pekerja itu pun menyambut usulan Zetkin. Akhirnya tercipta sebuah kesepakatan yang buat, dan dengan demikian Hari Perempuan Internasional pun lahir.
 
Setelah keputusan tersebut, Hari Perempuan Internasional akhirnya diperingati untuk pertama kalinya di Austria, Denmark, Jerman, dan Swiss pada 19 Maret 1911. Lebih dari satu juta perempuan dan laki-laki menghadiri rapat umum Hari Perempuan Internasional yang mengkampanyekan hak-hak perempuan untuk bekerja, memilih, mendapatkan pelatihan, menduduki jabatan publik, dan mengakhiri diskriminasi.
 
Namun, kurang dari seminggu kemudian, tepatnya pada 25 Maret 1911, terjadi peristiwa tragis yang dinamakan 'Kebakaran Segitiga' di Kota New York, yang merenggut nyawa lebih dari 140 perempuan pekerja, yang didominasi imigran Italia dan Yahudi.
 
Peristiwa bencana ini menarik perhatian besar terhadap kondisi kerja dan undang-undang ketenagakerjaan di Amerika Serikat yang menjadi fokus acara-acara Hari Perempuan Internasional berikutnya. Pada tahun yang sama, seorang aktivis perempuan Amerika bernama Helen Todd memperkenalkan slogan 'bread and roses', untuk memperjuangkan hak pilih perempuan.
 
Setelah melalui proses diskusi, Hari Perempuan Internasional disetujui untuk diperingati setiap tahun pada 8 Maret. Penetapan itu diterjemahkan dalam kalender Gregorian dan diadopsi secara luas mulai tanggal 23 Februari hingga 8 Maret, yang tetap menjadi tanggal global untuk Hari Perempuan Internasional sejak saat itu.
 
Pada 1914, lebih banyak perempuan di seluruh Eropa yang mengadakan rapat umum untuk mengkampanyekan perlawanan terhadap diskriminasi serts untuk mengekspresikan solidaritas perempuan. 
 
Misalnya, di London, Inggris Raya, ada pawai dari Bow ke Trafalgar Square untuk mendukung hak pilih perempuan pada 8 Maret 1914. Hal tersebut menyebabkan aktivis Sylvia Pankhurst ditangkap di depan stasiun Charing Cross dalam perjalanannya untuk berpidato di Trafalgar Square.
 
Pada akhir Februari 1917, perempuan Rusia melakukan aksi mogok kerja yang diberi nama "Bread and Peace" sebagai respons atas tewasnya lebih dari 2 juta tentara Rusia dalam Perang Dunia 1. Meski ditentang oleh para pemimpin politik, para perempuan terus melakukan aksi mogok hingga empat hari kemudian Mantan Kaisar Tsar dipaksa turun takhta dan pemerintah sementara memberikan hak pilih kepada perempuan.
 
Hari Perempuan Internasional diperingati pertama kalinya oleh organisasi dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) enam dekade kemudian yakni pada 1975. Kemudian pada Desember 1977, Majelis Umum mengadopsi resolusi yang menyatakan Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Hak-Hak Perempuan dan Perdamaian Internasional yang akan diperingati pada hari apa pun sepanjang tahun oleh negara-negara anggota, sesuai dengan tradisi historis dan nasional mereka.
 
Pada 1996, PBB mengumumkan tema IWD pertama yakni "Merayakan masa lalu, Merencanakan Masa Depan" yang diikuti pada 1997 dengan "Perempuan di meja perdamaian", pada 1998 dengan "Perempuan dan Hak Asasi Manusia", pada 1999 dengan "Dunia Bebas dari Kekerasan terhadap Perempuan", dan seterusnya setiap tahun hingga saat ini.
 
Menjelang era milenium baru pada 2000, hanya ada sedikit kegiatan utama yang diadakan untuk Hari Perempuan Internasional di sebagian besar negara. Di tengah kondisi tersebut, ada kebutuhan yang kuat untuk menghidupkan kembali Hari Perempuan Internasional dan melibatkan masyarakat sipil untuk mendorong serta mendukung tindakan kolektif menuju kesetaraan gender.
 
Setelah setahun perencanaan dan percakapan kolaboratif dengan berbagai kelompok perempuan, badan amal, dan organisasi lainnya, platform internationalwomensday.com diluncurkan pada 2001. Situs ini dibuat untuk menghidupkan kembali peringatan IWD dan mengundang partisipasi massa, dengan merayakan dan membuat pencapaian perempuan menjadi terlihat, sambil melanjutkan seruan untuk mempercepat kesetaraan gender. 
 
Tak hanya website, kampanye juga meluas hingga ke beberapa media sosial seperti Facebook. Hal ini membuat informasi tentang IWD dan isu gender yang lebih luas menjadi lebih mudah diakses hingga menciptakan gelombang massa yang lebih besar. Setiap tahunnya, dibuat juga tema kampanye global sebagai kerangka kerja dan arah untuk aktivitas tahunan IWD, serta seruan untuk bertindak demi kesetaraan gender.
 
Selain itu, situs website IWD juga berfungsi sebagai kendaraan penting bagi badan amal, mengumpulkan dana dengan 100 persen sumbangan langsung diberikan kepada badan amal terpilih yakni World Association of Girl Guides and Girl Scouts (WAGGGS), dan organisasi pekerja wanita global Catalyst Inc. Adapun, Aliansi Amal IWD terbuka untuk lembaga amal terdaftar yang berfokus pada wanita dari seluruh dunia.
 
Pada 2011 menandai peringatan 100 tahun Hari Perempuan Internasional yang diadakan di sejumlah negara yang berkaitan dengan sejarah lahirnya IWD seperti Austria, Denmark, Jerman, dan Swiss. Sementara di Amerika Serikat, Presiden Barack Obama kala itu mencanangkan Maret 2011 sebagai "Bulan Sejarah Perempuan", mengajak warga Amerika untuk memperingati IWD dengan merenungkan prestasi luar biasa perempuan dalam membentuk sejarah negara. 

Baca juga: Marie Claire Soroti Film Hollywood Kian Berani Kritik Stigma Penuaan pada Perempuan
 
Menteri Luar Negeri saat itu, Hillary Clinton, meluncurkan "Inisiatif 100 Perempuan: Memberdayakan Perempuan dan Anak Perempuan melalui Pertukaran Internasional". Banyaknya pemimpin dan aktivis selebritis yang secara aktif mendukung, membuat IWD akhirnya mulai menjadi lebih umum dan inklusif, dengan makin banyaknya kelompok yang berpartisipasi sampai saat ini.
 
Tahun ini, PBB melalui organisasi UN Women menetapkan tema IWD 2025 yakni For all women and girls: Rights. Equality. Empowerment atau yang berarti 'untuk semua perempuan dan anak perempuan: hak, kesetaraan, pemberdayaan'.
 
Tema tersebut diusung guna menyerukan upaya global yang dapat mewujudkan hak, kekuasaan, dan kesempatan yang sama bagi semua orang dan masa depan. Inti dari visi ini adalah memberdayakan generasi berikutnya, pemuda, khususnya perempuan muda dan gadis remaja sebagai katalisator perubahan yang berkelanjutan. 

Editor: Fajar Sidik 

SEBELUMNYA

Awas Data Dijual di Dark Web Jika Daftar Discord dan Netflix Pakai Email Perusahaan

BERIKUTNYA

Rich Brian Siap Rilis Album Where Is My Head? 23 Mei 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: