Ilustrasi pekerja (Sumber gambar: Sol/Unsplash)

Jam Kerja Panjang Picu Kematian? Ini Fakta dari ILO dan WHO

06 March 2025   |   17:00 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Bekerja keras memang penting, tetapi tahukah Genhype bahwa jam kerja yang panjang bisa berakibat fatal? Data dari International Labour Organization (ILO) dan World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa hampir 2 juta pekerja di seluruh dunia meninggal setiap tahun akibat penyakit dan cedera terkait pekerjaan.

Nah, di tengah perubahan signifikan dalam dunia kerja, budaya kerja yang sehat menjadi faktor penting dalam menjaga kesejahteraan pekerja, baik secara fisik maupun mental. Dengan pola kerja yang semakin fleksibel, terutama melalui kerja jarak jauh, menciptakan lingkungan kerja yang sehat menjadi semakin krusial.

Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI, Elvieda Sariwati, mengungkapkan bahwa tantangan kesehatan kerja saat ini sangat beragam, mencakup aspek fisik dan mental.

Baca Juga: Waspadai Tanda Kortisol Tinggi, Dampaknya Lebih dari Sekadar Stres
 
"Tantangan kesehatan kerja meliputi risiko gaya hidup sedentari, kelelahan kerja atau burnout, postur kerja yang tidak ergonomis, serta isolasi sosial, yang semuanya berdampak besar terhadap kesehatan mental," jelas Elvieda dalam peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Fleksibilitas kerja memang menawarkan berbagai keuntungan, tetapi risiko kesehatannya tidak bisa diabaikan. Misalnya, bekerja dari rumah dapat meningkatkan kecenderungan gaya hidup sedentari yang berdampak negatif pada kondisi fisik, sementara burnout dan isolasi sosial dapat memperburuk kesehatan mental pekerja.

Menurut  Elvieda, Indonesia berada dalam kondisi yang strategis dengan adanya bonus demografi. Dari total 281,6 juta penduduk Indonesia, sekitar 54%  atau 152,1 juta orang berada pada usia produktif. Hal ini membuka peluang besar untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju pada tahun 2045 dengan para pekerja sebagai aset utama dalam pembangunan.

Pekerja tidak hanya berperan dalam perekonomian negara, tetapi juga sebagai punggung keluarga yang dapat menjadi agen perubahan dalam literasi kesehatan di lingkungan keluarga mereka.
 

Produktivitas dan Kesehatan Mental Pekerja

Pentingnya budaya sehat kerja tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental pekerja. Menurut Elvieda, pekerja yang sehat secara fisik dan mental akan lebih produktif, kreatif, dan inovatif dalam menyelesaikan tugas-tugas mereka. Sebaliknya, masalah kesehatan yang dialami oleh pekerja baik fisik maupun mental bisa menyebabkan penurunan kinerja dan motivasi yang pada akhirnya berdampak pada efektivitas dan kinerja.
 
Elvieda menekankan pentingnya mengantisipasi tantangan-tantangan kesehatan yang muncul akibat perubahan kerja yang dinamis. Meski beberapa penelitian menunjukkan bahwa kerja jarak jauh dapat meningkatkan produktivitas, tantangan kesehatan seperti gangguan muskuloskeletal akibat postur yang tidak ergonomis dan isolasi sosial yang mempengaruhi kesehatan mental tidak bisa diabaikan.
 
Oleh karena itu, penting bagi setiap organisasi untuk menyediakan dukungan kesehatan yang memadai bagi para pekerja, termasuk kebijakan fleksibilitas kerja yang seimbang, pemantauan kesehatan secara berkala, dan edukasi mengenai pengelolaan psikososial di tempat kerja.

Programme Officer dari International Labour Organization (ILO) Jakarta, Abdul Hakim, menekankan pentingnya kesadaran dalam mencegah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (PAK). Menurutnya, semua pihak—baik individu, perusahaan, maupun masyarakat—harus berperan aktif dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman.

Abdul juga menyoroti besarnya dampak dari kondisi kerja yang buruk terhadap kesehatan individu. Banyak pekerja mengalami cedera atau penyakit terkait pekerjaan, bahkan hingga menyebabkan kematian.

Data dari ILO dan WHO memperkirakan bahwa hampir 2 juta orang meninggal setiap tahun akibat penyakit dan cedera terkait pekerjaan. Pada 2021, laporan ILO mencatat sekitar 750.000 pekerja meninggal akibat paparan jam kerja yang panjang.

"Dengan kata lain, hati-hati dengan tugas yang berlebihan, jam kerja yang panjang, lembur yang berlebihan, serta kebiasaan begadang yang dapat berdampak buruk pada kesehatan," kata Abdul.

Tekanan tinggi di tempat kerja, baik dari beban kerja yang berat maupun jam kerja yang panjang, tidak hanya mengancam kesehatan fisik tetapi juga psikologis pekerja. Dalam konteks kerja jarak jauh, aspek psikologis ini semakin krusial.

Abdul menjelaskan bahwa meskipun bekerja dari rumah menawarkan fleksibilitas, stres tetap menjadi masalah utama. Faktor penyebabnya bisa beragam, mulai dari ketidakadilan di tempat kerja, kurangnya dukungan sosial, hingga lingkungan kerja yang kurang kondusif, baik secara fisik maupun teknis.

Menurut Abdul, perusahaan dapat berperan lebih dalam menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan psikologis pekerja. Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah dengan mengurangi tekanan kerja, memberikan dukungan sosial yang kuat, serta memastikan kebijakan kerja yang mendukung keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.

 

Efek Stres dalam Dunia Kerja


Budaya kerja yang sehat sangat penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang produktif serta mendukung kesejahteraan mental karyawan. Menurut psikolog Rizki Nuansa Hadyan, kesehatan mental dalam konteks kerja memiliki peran vital dalam memajukan organisasi.

"Setiap individu dalam organisasi harus memiliki kesadaran diri untuk menjaga kesehatan psikologisnya agar dapat berfungsi secara optimal. Ini mencakup keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi atau work-life balance, yang penting untuk menjaga motivasi dan efektivitas kerja," jelas Rizki.

Sebuah studi dari University of Warwick mengungkapkan bahwa kebahagiaan dapat meningkatkan produktivitas sebesar 12%, sedangkan ketidakbahagiaan dapat menurunkan produktivitas hingga 10%.

Namun, Rizki juga menekankan pentingnya pendekatan inklusif terhadap kesehatan mental. Salah satu tantangan utama adalah stigma terhadap konsultasi psikologis. Banyak pekerja masih enggan berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater karena rasa malu atau takut dinilai negatif. Padahal, menurut Rizki, berkonsultasi tentang kesehatan mental bukan sekadar untuk mengatasi masalah besar, tetapi juga untuk menjaga keseimbangan agar individu dapat bekerja secara produktif dan memberikan kontribusi positif.

Masalah kesehatan mental di tempat kerja juga semakin menjadi perhatian global. "Gangguan kesehatan mental menempati peringkat pertama setelah kanker sebagai masalah kesehatan terbesar bagi para pekerja," ungkap Rizki. Ini menunjukkan bahwa kesehatan mental bukan lagi sekadar isu pribadi, tetapi sudah menjadi tantangan yang perlu ditangani oleh setiap organisasi.

 

Peran Kepemimpinan dalam Budaya Kerja Sehat


Rizki menekankan bahwa menciptakan lingkungan kerja yang sehat secara psikologis sangat penting untuk mendukung kesejahteraan mental pekerja. Prioritas yang tepat antara pekerjaan dan gaya hidup, serta kesadaran akan tuntutan waktu yang berbeda antara keduanya, menjadi kunci utama.

"Work-life balance adalah konsep yang membantu individu merasa lebih terkelola dalam hidup dan pekerjaannya. Jika keseimbangan ini tercapai, mereka akan merasa lebih puas dengan pekerjaan mereka, yang pada akhirnya meningkatkan kebahagiaan dan produktivitas," ujar Rizki.

Selain itu, kepemimpinan dalam organisasi juga memainkan peran besar dalam menciptakan budaya kerja yang sehat. Rizki mencontohkan kebijakan Netflix yang menerapkan prinsip No Brilliant Jerk, yaitu tidak mentoleransi perilaku toksik meskipun seseorang memiliki bakat luar biasa.

"Netflix memastikan bahwa lingkungan kerja mereka bebas dari individu yang merusak hubungan kerja, meskipun mereka sangat berbakat," jelasnya. Hal ini menunjukkan bahwa pemimpin yang baik harus mampu menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan mendukung, bebas dari stres berlebihan yang disebabkan oleh konflik atau perilaku tidak sehat.

Dengan menciptakan budaya kerja yang sehat, perusahaan tidak hanya meningkatkan produktivitas tetapi juga membangun lingkungan kerja yang lebih positif dan berkelanjutan bagi semua pekerja.

Baca Juga: 4 Kiat Mengatasi Stres Berlebih, Dimulai dari Olahraga

Editor: M. Taufikul Basari

SEBELUMNYA

5 Ide Menu Takjil Sehat, Dari Smoothie Pisang Hingga Pancake Matcha

BERIKUTNYA

Fakta-fakta Menarik Lagu Menyala Matahariku yang Menjadi Original Soundtrack Qodrat 2

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga