Ilustrasi (Photo by Anna Tarazevich from Pexels)

Tanda-Tanda Genhype Mengalami Toxic Productivity

08 October 2021   |   13:42 WIB
Image
Nirmala Aninda Manajer Konten Hypeabis.id

Perkembangan dunia kerja dan pandemi telah memicu budaya baru yakni toxic productivity atau perilaku produktif yang beracun (berdampak buruk). Pengelolaan waktu yang tidak ideal serta tekanan dari pekerjaan jadi faktor utama penyebab stres berat (burnout) di kalangan pekerja.

Toxic productivity secara umum didefinisikan sebagai perilaku tidak sehat yang melibatkan produktivitas konstan dengan mengorbankan kesejahteraan diri. Perilaku ini menunjukkan kecenderungan seseorang memaksimalkan produktivitas secara terus-menerus dan eksponensial.

"Mumpung lagi di rumah terus, kenapa enggak melakukan sesuatu yang produktif?”

Mungkin, pikiran itulah yang tebersit di kepalamu, bahkan setelah setahun lebih menjalani masa pandemi. Rasanya, ketika kita berleha-leha di rumah, banyak waktu malah justru terbuang sia-sia.

Toxic productivity itu memunculkan rasa bersalah kalau tidak mengerjakan sesuatu. Ujung-ujungnya, mengalami burnout yang membahayakan kesehatan, dan itu harus dihindari," ujar Graheta Rara Purwasono, M.Psi, psikolog, salah satu psikolog Riliv.

Pada akhirnya, tidak ada quality time bersama teman dan keluarga buatmu—apalagi, waktu untuk me-time—karena kamu terlalu sibuk untuk bekerja setiap saat.

Namun, jangan khawatir. Selalu ada solusi untuk segala permasalahan, termasuk toxic productivity.
 

1. Buat batasan yang jelas

Ketika pekerjaan adalah satu-satunya hal yang berputar dalam pikiranmu, maka sulit untuk memikirkan hal lain yang sama pentingnya.

Apa contohnya? Mendapatkan istirahat yang berkualitas, atau menghabiskan waktu bersama keluarga terkasih.

Nah, kamu bisa menentukan batasan yang mengubah mindset-mu dari yang hanya memikirkan pekerjaan ke hal-hal lain yang berarti dalam hidup, seperti:
  • Tidak boleh bekerja selama tiga jam tanpa diselingi break
  • Harus quality time dengan keluarga di minggu ini
  • Harus tidur cukup selama 8 jam setiap hari


2. Terapkan professional detachment

Ini khusus buat Genhype yang meeting lima kali dalam sehari, atau lebih. Ingat, ada yang lebih penting daripada pekerjaan, dan itu adalah kesehatan fisik dan mentalmu sendiri.

Pahami bahwa menjadi pekerja bukanlah identitasmu satu-satunya. Kamu bukan hanya seorang pekerja, tetapi juga orang tua, pacar, teman, dan lain sebagainya.

Saat kamu menerapkan professional detachment, kamu memperlakukan pekerjaan sebagai sesuatu yang akan kamu tangani setelah menjalankan tanggung jawab lain di luar itu.
 

3. Praktikkan mindfulness

Sudah bukan menjadi rahasia lagi kalau mindfulness dapat membantumu berhubungan dengan dunia dengan cara yang lebih sehat.

Melalui mindfulness, kamu akan lebih mudah untuk menyadari apa yang dibutuhkan oleh tubuh dan pikiranmu—dan hal itu bukan toxic productivity.

Genhype dapat menerapkan mindfulness dengan meditasi di Riliv Hening. Mudah dan praktis. Hanya perlu duduk diam, pejamkan mata, dan pikiranmu akan dijernihkan.

Mulai sekarang, yuk, tinggalkan toxic productivity. Produktivitas yang baik adalah produktivitas yang memberimu waktu untuk beristirahat, dan pada saat yang bersamaan, mendorongmu untuk mencapai tujuan dengan cara yang sehat.


Editor: Avicenna

SEBELUMNYA

Fitur Ini Memudahkan Kreator Konten & Pengguna YouTube

BERIKUTNYA

Kembangkan Ekosistem VR Horizon, Facebook Investasi US$10 Juta

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: