ISI Denpasar Resmi Berubah Menjadi ISI Bali, Perkuat Peran dalam Pemajuan Budaya
05 March 2025 |
08:00 WIB
Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar kini resmi berganti nama menjadi ISI Bali. Perubahan ini ditetapkan melalui Peraturan Presiden No. 14 Tahun 2025, yang menegaskan peran strategis ISI Bali dalam ekosistem kebudayaan nasional.
Pergantian nama ini diharapkan semakin memperkuat posisi ISI Bali sebagai pusat riset, regenerasi, dan diplomasi budaya di tingkat nasional maupun global.
“Transformasi ini bukan hanya perubahan nomenklatur, melainkan penguatan peran ISI Bali dalam ekosistem kebudayaan nasional. ISI Bali harus menjadi pusat riset, regenerasi, dan diplomasi budaya yang mengangkat Indonesia ke peta kebudayaan dunia,” ujar Fadli pada Jumat (28/2/2025).
Baca juga: Setelah Rekonstruksi Ulang, Anggaran Kementerian Kebudayaan Jadi Rp1,2 T
Dalam sambutannya, Fadli Zon juga menyampaikan bahwa ISI Bali kini memiliki tanggung jawab lebih besar sebagai laboratorium kreatif yang menghubungkan tradisi dengan inovasi, seni dengan teknologi, serta kearifan lokal dengan ekosistem global.
Sebagai ikon kebudayaan dunia, Bali, papar Fadli telah lama menjadi jembatan yang menghubungkan tradisi Nusantara dengan komunitas global. “Dengan fondasi akademik yang kuat, saya yakin ISI Bali akan terus berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi seni terkemuka di dunia,” tambahnya.
Politikus Partai Gerindra itu juga menegaskan bahwa dalam visi Indonesia Emas 2045, seni dan kebudayaan harus menjadi pilar utama pembangunan bangsa. Oleh karena itu karya-karya yang lahir dari ISI Bali, menurutnya harus menjadi narasi kebangsaan yang menggema di forum-forum dunia.
Selain meresmikan perubahan nama ISI Bali, Menbud juga membuka Festival Nasional Bali Sangga Dwipantara V di tempat yang sama. Ini adalh perhelatan tahunan yang menjadi ruang bagi para maestro, akademisi, dan mahasiswa untuk menampilkan karya seni dan mendiskusikan arah kebudayaan nasional.
“Melalui festival ini, saya harap kita dapat semakin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia bukan hanya negara dengan warisan budaya yang kaya, tetapi juga bangsa yang terus mencipta, meregenerasi, dan memproyeksikan budayanya ke masa depan,” tegas Fadli.
Diketahui, Presiden Prabowo Subianto sebelumnya memang menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 14 Tahun 2025 yang mengatur perubahan nama Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Bali pada 12 Februari 2025.
Dilansir dari laman JDIH Setneg, Perpres ini juga juga mengatur ISI Bali sebagai perguruan tinggi di lingkungan kementerian yang mengurusi bidang pendidikan tinggi. Status mahasiswanya juga akan berubah dari yang semula bernama ISI Denpasar menjadi ISI Bali.
"Pada saat Peraturan Presiden ini mulai berlaku, Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2003 tentang Pendirian Institut Seni Indonesia Denpasar dicabut dan dinyatakan tidak berlaku," tulis catatan dalam abstrak Perpres tersebut.
ISI Denpasar didirikan pada Mei 2003 berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2003. ISI Denpasar awalnya merupakan gabungan dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar dan Program Studi Seni Rupa dan Desain (PSSRD) Universitas Udayana.
Dilansir dari laman resmi ISI Denpasar, saat ini kampus seni tersebut memiliki dua fakultas yakni Fakultas Seni Pertunjukan dan Fakultas Seni Rupa dan Desain. Kedua fakultas tersebut menawarkan 12 program studi yang beragam bagi mahasiswa seni yang ingin menempuh pendidikan di sana.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor: Nirmala Aninda
Pergantian nama ini diharapkan semakin memperkuat posisi ISI Bali sebagai pusat riset, regenerasi, dan diplomasi budaya di tingkat nasional maupun global.
“Transformasi ini bukan hanya perubahan nomenklatur, melainkan penguatan peran ISI Bali dalam ekosistem kebudayaan nasional. ISI Bali harus menjadi pusat riset, regenerasi, dan diplomasi budaya yang mengangkat Indonesia ke peta kebudayaan dunia,” ujar Fadli pada Jumat (28/2/2025).
Baca juga: Setelah Rekonstruksi Ulang, Anggaran Kementerian Kebudayaan Jadi Rp1,2 T
Dalam sambutannya, Fadli Zon juga menyampaikan bahwa ISI Bali kini memiliki tanggung jawab lebih besar sebagai laboratorium kreatif yang menghubungkan tradisi dengan inovasi, seni dengan teknologi, serta kearifan lokal dengan ekosistem global.
Sebagai ikon kebudayaan dunia, Bali, papar Fadli telah lama menjadi jembatan yang menghubungkan tradisi Nusantara dengan komunitas global. “Dengan fondasi akademik yang kuat, saya yakin ISI Bali akan terus berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi seni terkemuka di dunia,” tambahnya.
Politikus Partai Gerindra itu juga menegaskan bahwa dalam visi Indonesia Emas 2045, seni dan kebudayaan harus menjadi pilar utama pembangunan bangsa. Oleh karena itu karya-karya yang lahir dari ISI Bali, menurutnya harus menjadi narasi kebangsaan yang menggema di forum-forum dunia.
Selain meresmikan perubahan nama ISI Bali, Menbud juga membuka Festival Nasional Bali Sangga Dwipantara V di tempat yang sama. Ini adalh perhelatan tahunan yang menjadi ruang bagi para maestro, akademisi, dan mahasiswa untuk menampilkan karya seni dan mendiskusikan arah kebudayaan nasional.
“Melalui festival ini, saya harap kita dapat semakin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia bukan hanya negara dengan warisan budaya yang kaya, tetapi juga bangsa yang terus mencipta, meregenerasi, dan memproyeksikan budayanya ke masa depan,” tegas Fadli.
Diketahui, Presiden Prabowo Subianto sebelumnya memang menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 14 Tahun 2025 yang mengatur perubahan nama Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Bali pada 12 Februari 2025.
Dilansir dari laman JDIH Setneg, Perpres ini juga juga mengatur ISI Bali sebagai perguruan tinggi di lingkungan kementerian yang mengurusi bidang pendidikan tinggi. Status mahasiswanya juga akan berubah dari yang semula bernama ISI Denpasar menjadi ISI Bali.
"Pada saat Peraturan Presiden ini mulai berlaku, Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2003 tentang Pendirian Institut Seni Indonesia Denpasar dicabut dan dinyatakan tidak berlaku," tulis catatan dalam abstrak Perpres tersebut.
ISI Denpasar didirikan pada Mei 2003 berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2003. ISI Denpasar awalnya merupakan gabungan dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar dan Program Studi Seni Rupa dan Desain (PSSRD) Universitas Udayana.
Dilansir dari laman resmi ISI Denpasar, saat ini kampus seni tersebut memiliki dua fakultas yakni Fakultas Seni Pertunjukan dan Fakultas Seni Rupa dan Desain. Kedua fakultas tersebut menawarkan 12 program studi yang beragam bagi mahasiswa seni yang ingin menempuh pendidikan di sana.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor: Nirmala Aninda
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.