3 Pameran Seni Kontemporer Terbesar Siap Hadir di Museum MACAN Sepanjang 2025
03 March 2025 |
17:30 WIB
Kabar gembira buat para penikmat seni rupa kontemporer. Pasalnya, Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) bakal menampilkan tiga pameran seni terbesar sepanjang 2025. Termasuk menyoroti inovasi artistik kontemporer, refleksi sejarah, dan mendorong batas-batas seni masa kini.
Direktur Museum MACAN, Venus Lau mengatakan bahwa tahun ini pihaknya akan menghadirkan presentasi koleksi museum yang dirancang dengan rekontekstualisasi dari koleksi yang telah dikenal publik. Salah satunya lewat debut dari eksplorasi Kei Imazu yang mendalami narasi kolonial dan ekologi Indonesia.
Baca juga: Seniman Lintas Generasi Gelar Pameran Marhaban ya Ramadan di Neo Gallery
Lain dari itu, pihaknya juga akan menampilkan karya instalasi imersif Olafur Eliasson yang menyoroti isu-isu sosial dan lingkungan yang krusial. Senarai pameran ini menurutnya tidak hanya untuk merayakan keunggulan artistik, akan tetapi juga mendorong pengunjung untuk merefleksikan kompleksitas dunia.
"Kami dengan bangga mempersembahkan program pameran 2025 di Museum MACAN. Pamerin ini menawarkan perspektif baru tentang bagaimana seni membentuk dan menantang pemahaman kita," katanya dalam taklimat tertulis.
Lantas bakal ada keseruan serta pameran dari siapa saja sepanjang 2025 di Museum MACAN? Dihimpun Hypeabis.id dari sumber resmi berikut di antaranya:
Ini adalah pameran koleksi Museum MACAN yang menjelajahi hubungan dinamis antara tubuh dan ruang, yang menantang anggapan bahwa keterhubungan keduanya adalah netral. Sereleng ini juga menyoroti bagaimana perupa menavigasi dan mempersoalkan bagaimana tubuh berinteraksi dengan dan membentuk lingkungannya.
Berlangsung pada 10 Mei dan 24 Mei sampai 5 Oktober 2025, pameran ini akan menyoroti beberapa karya perupa sperti Ed Ruscha, Josef Albers, Affandi, Ay Tjoe Christine, Kazuo Shiraga, Mark Grotjahn, Julian Opie, Pinaree Sanpitak, A.D. Pirous, Yayoi Kusama, Lee Bul, Sudjana Kerton, Ahmad Sadali, Lee Man Fong, dan lain-lain.
Karya-karya dalam pameran ini disebut akan mengeksplorasi kemampuan adaptasi, ketahanan, dan kerentanan tubuh. Para perupa juga akan mempertimbangkan bagaimana gestur tubuh dapat mengkomunikasikan makna di luar kata-kata, dan mengungkap perannya dalam mengekspresikan gerakan sosial dan budaya.
Laut Nyaris Tak Beriak akan menyusuri ‘peta waktu’ yang menghubungkan masa lalu kolonial Indonesia, tantangan ekologis masa kini, dan mitologi lokal. Terinspirasi dari tragedi tenggelamnya kapal Batavia pada 1628, pameran ini menyoroti warisan kolonial yang masih berlangsung serta isu-isu lingkungan yang mendesak di Jakarta.
Berlangsung pada 24 Mei sampai 5 Oktober 2025, pameran ini juga menampilkan figur mitologis Indonesia seperti Dewi Sri dan Nyi Roro Kidul sebagai narasi tandingan terhadap paradigma kolonial yang antroposentris. Termasuk mengaburkan batas antara sejarah, mitos, dan fiksi, serta mengajak publik merenungkan keterhubungan manusia dengan sejarah berlapis, alam, dan waktu.
Kei Imazu adalah perupa yang berbasis di Bandung yang memadukan teknik artistik tradisional dengan teknologi digital untuk menavigasi dan menggali sejarah secara non- linear. Sejak berpindah ke Bandung pada 2018, Imazu telah memperluas risetnya melintasi berbagai temporalitas dan geografi, mengeksplorasi narasi warisan kolonial dan transformasi lingkungan.
Merupakan pameran keliling yang menghadirkan beragam karya seni lintas media dari praktik Olafur Eliasson. Seniman Islandia-Denmark ini dikenal dengan karya-karya lintas disiplin dan telah berpameran di museum-museum internasional dan ruang publik ternama di seluruh dunia sejak 1997. Instalasi-instalasinya memukau dan menjadikan hal-hal tak berwujud menjadi nyata.
Berlangsung pada 22 November 2025 sampai 5 April 2026, pameran ini mengundang audiens untuk terlibat dalam eksplorasi Eliasson mengenai kesadaran sensori dan ekologis, menawarkan kesempatan unik untuk merasakan dampak visioner dari karyanya yang mendalam dan menggugah pemikiran. Di Museum MACAN, pameran ini juga akan menampilkan karya dari koleksi museum.
Baca juga: Bawa Karya Gigantik, Arkiv Vilmansa Soroti Isu Biota Laut Indonesia Lewat Pameran di Galnas
Selama tiga dekade eksplorasi artistiknya, karya-karya Eliasson terus mempertanyakan persepsi, mendefinisikan ulang pengalaman spasial, dan menanggapi tantangan lingkungan. Sebagai bagian dari tur Asia Pasifik, Your curious journey juga telah dipresentasikan di Singapore Art Museum, Auckland Art Gallery Toi o Tamaki, dan Taipei Fine Arts Museum.
Editor: Fajar Sidik
Direktur Museum MACAN, Venus Lau mengatakan bahwa tahun ini pihaknya akan menghadirkan presentasi koleksi museum yang dirancang dengan rekontekstualisasi dari koleksi yang telah dikenal publik. Salah satunya lewat debut dari eksplorasi Kei Imazu yang mendalami narasi kolonial dan ekologi Indonesia.
Baca juga: Seniman Lintas Generasi Gelar Pameran Marhaban ya Ramadan di Neo Gallery
Lain dari itu, pihaknya juga akan menampilkan karya instalasi imersif Olafur Eliasson yang menyoroti isu-isu sosial dan lingkungan yang krusial. Senarai pameran ini menurutnya tidak hanya untuk merayakan keunggulan artistik, akan tetapi juga mendorong pengunjung untuk merefleksikan kompleksitas dunia.
"Kami dengan bangga mempersembahkan program pameran 2025 di Museum MACAN. Pamerin ini menawarkan perspektif baru tentang bagaimana seni membentuk dan menantang pemahaman kita," katanya dalam taklimat tertulis.
Lantas bakal ada keseruan serta pameran dari siapa saja sepanjang 2025 di Museum MACAN? Dihimpun Hypeabis.id dari sumber resmi berikut di antaranya:
1. Pointing to the Synchronous Windows
Ini adalah pameran koleksi Museum MACAN yang menjelajahi hubungan dinamis antara tubuh dan ruang, yang menantang anggapan bahwa keterhubungan keduanya adalah netral. Sereleng ini juga menyoroti bagaimana perupa menavigasi dan mempersoalkan bagaimana tubuh berinteraksi dengan dan membentuk lingkungannya.Berlangsung pada 10 Mei dan 24 Mei sampai 5 Oktober 2025, pameran ini akan menyoroti beberapa karya perupa sperti Ed Ruscha, Josef Albers, Affandi, Ay Tjoe Christine, Kazuo Shiraga, Mark Grotjahn, Julian Opie, Pinaree Sanpitak, A.D. Pirous, Yayoi Kusama, Lee Bul, Sudjana Kerton, Ahmad Sadali, Lee Man Fong, dan lain-lain.
Karya-karya dalam pameran ini disebut akan mengeksplorasi kemampuan adaptasi, ketahanan, dan kerentanan tubuh. Para perupa juga akan mempertimbangkan bagaimana gestur tubuh dapat mengkomunikasikan makna di luar kata-kata, dan mengungkap perannya dalam mengekspresikan gerakan sosial dan budaya.
2. Kei Imazu: The Sea is Barely Wrinkled- Laut Nyaris Tak Beriak
Laut Nyaris Tak Beriak akan menyusuri ‘peta waktu’ yang menghubungkan masa lalu kolonial Indonesia, tantangan ekologis masa kini, dan mitologi lokal. Terinspirasi dari tragedi tenggelamnya kapal Batavia pada 1628, pameran ini menyoroti warisan kolonial yang masih berlangsung serta isu-isu lingkungan yang mendesak di Jakarta.
Berlangsung pada 24 Mei sampai 5 Oktober 2025, pameran ini juga menampilkan figur mitologis Indonesia seperti Dewi Sri dan Nyi Roro Kidul sebagai narasi tandingan terhadap paradigma kolonial yang antroposentris. Termasuk mengaburkan batas antara sejarah, mitos, dan fiksi, serta mengajak publik merenungkan keterhubungan manusia dengan sejarah berlapis, alam, dan waktu.
Kei Imazu adalah perupa yang berbasis di Bandung yang memadukan teknik artistik tradisional dengan teknologi digital untuk menavigasi dan menggali sejarah secara non- linear. Sejak berpindah ke Bandung pada 2018, Imazu telah memperluas risetnya melintasi berbagai temporalitas dan geografi, mengeksplorasi narasi warisan kolonial dan transformasi lingkungan.
3. Olafur Eliasson: Your curious journey
Merupakan pameran keliling yang menghadirkan beragam karya seni lintas media dari praktik Olafur Eliasson. Seniman Islandia-Denmark ini dikenal dengan karya-karya lintas disiplin dan telah berpameran di museum-museum internasional dan ruang publik ternama di seluruh dunia sejak 1997. Instalasi-instalasinya memukau dan menjadikan hal-hal tak berwujud menjadi nyata.
Berlangsung pada 22 November 2025 sampai 5 April 2026, pameran ini mengundang audiens untuk terlibat dalam eksplorasi Eliasson mengenai kesadaran sensori dan ekologis, menawarkan kesempatan unik untuk merasakan dampak visioner dari karyanya yang mendalam dan menggugah pemikiran. Di Museum MACAN, pameran ini juga akan menampilkan karya dari koleksi museum.
Baca juga: Bawa Karya Gigantik, Arkiv Vilmansa Soroti Isu Biota Laut Indonesia Lewat Pameran di Galnas
Selama tiga dekade eksplorasi artistiknya, karya-karya Eliasson terus mempertanyakan persepsi, mendefinisikan ulang pengalaman spasial, dan menanggapi tantangan lingkungan. Sebagai bagian dari tur Asia Pasifik, Your curious journey juga telah dipresentasikan di Singapore Art Museum, Auckland Art Gallery Toi o Tamaki, dan Taipei Fine Arts Museum.
Editor: Fajar Sidik
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.