Kelompok Artswara melakukan gladi resik pertunjukan musikal MAR di Ciputra Artpreneur, Jakarta pada Rabu, 26 Februari 2025. (sumber gambar:Hypeabis.id/Arief Hermawan P)

Musikal Mar: Ketika Sejarah dan Fiksi Diramu lewat Karya Ismail Marzuki

03 March 2025   |   14:55 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Riwayat tentang kemerdekaan Indonesia sudah banyak dikisahkan dalam buku sejarah hingga panggung-panggung pertunjukan. Terbaru, kisah tersebut disajikan dengan ciamik lewat drama musikal Mar yang dihelat oleh rumah produksi ArtSwara.

Alunan lagu keroncong lamat-lamat terdengar Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta pada 26-28 Februari 2025. Sebuah set panggung ruang tamu disoroti cahaya. Di dalamnya, dua perempuan-nenenda dan sang cucu-  bercengkrama di atas sofa bermotif bunga.

Baca juga: Romansa Perang Berbalut Karya Ismail Marzuki Dipentaskan dalam Musikal MAR

Di sela perbincangan, sang nenek memegangi sebuah potret usang. Dia yang sebelumnya terbatuk-batuk mulai bercerita. Ingatannya melayang pada masa saat kemerdekaan sedang disongsong dari kota Parahyangan. Lokasi tempat dirinya dan sang kakek bertemu.

"Di sanalah Nin berjumpa dan berkenalan dengan seorang prajurit bernama Sersan Mayor Marzuki, kakek buyutmu" kata sang nenenda yang diperankan oleh Widyawati Adisura. Arkian, sorot lampu menggelap. Adegan beralih ke sebuah warung. Bandung 1946.

Begitulah cuplikan awal pembuka drama musikal Mar yang menjadi produksi ke-13 dari Artswara. Mengambil latar peristiwa era revolusi kemerdekaan, musikal yang disutradarai Wawan Sofwan ini, mengungkai romansa para pejuang di masa revolusi Indonesia.
 

Kelompok Artswara melakukan gladi resik pertunjukan musikal MAR di Ciputra Artpreneur, Jakarta pada Rabu, 26 Februari 2025. (sumber gambar:Hypeabis.id/Arief Hermawan P)

Kelompok Artswara melakukan gladi resik pertunjukan musikal MAR di Ciputra Artpreneur, Jakarta pada Rabu, 26 Februari 2025. (sumber gambar:Hypeabis.id/Arief Hermawan P)


Mar menguliti kisah-kisah di balik Bandung Lautan Api dan Agresi Militer di Yogyakarta. Tak semuanya memang diambil dari kisah nyata. Ada jalinan fiksi di sana. Namun, selain nostalgia sejarah, musikal ini juga menawarkan tafsir baru atas warisan Ismail Marzuki.

Tak kurang 40 lagu ciptaan komponis asal Jakarta, itu ditafsir ulang dalam pementasan berdurasi 3 jam. Selain aransemen bernuansa jazz, tentu juga bertalian dengan alur kisah. Khususnya romansa antara Mar dan Nin (Aryati), Kopral Jono dan Mara. Empat karakter yang mendominasi cerita.

Sejumlah lagu Ismail Marzuki, seperti Juwita Malam, Rindu Lukisan, dan Payung Fantasi, dinyanyikan dengan ciamik oleh para pemain. Mereka di antaranya adalah Gabriel Harvianto, Galabby Thahira, Taufan Purbo Kusumo, Ni Made Ayu Vania Aurellia, Bima Zeno Pooroe, dan Witrie.

Sutradara Wawan Sofwan mengatakan, dipilihnya jazz sebagai pendekatan musik dalam drama ini bukan tanpa alasan. Selain bentuk aktualisasi zaman, pemilihan musik jazz juga menjadi tantangan baru baginya alih-alih menyajikan drama musikal dengan musik yang mainstream.

"Kalau orang mau menggarap [naskah] tentang Ismail Marzuki, pertanyaan penonton adalah mau dibuat seperti apa. Itu pertanyaan besar penonton dan saya juga. Jadi kalau musiknya biasa saja apa tantangannya," katanya.

Baca juga: Potret Narasi Personal Hingga Isu Sosial dalam Pentas Buku Foto 2025


Kisah Menyentuh

Musikal Mar, sedikit banyak memang mengajak penonton bernostalgia. Masa saat ketidakpastian perang memporak-porandakan nasib. Namun, selalu ada sesuatu yang lain. Lapisan-lapisan yang tak tercatat buku sejarah, tentang penghidupan, tentang rasa syukur.

Lihatlah bagaimana Ambu (diperankan oleh Chandra Satria) dengan ceria selalu menyanyi dari balik dapur. Menyuguhkan masakan dengan riang gembira. Dan saat hari berganti, melantunkan kawih Sunda dengan alunan suling. Di luar karakternya, Ambu juga menjadi narator kisah.

Dengan gaya bicaranya yang khas, Ambu turut merepresentasikan bagaimana latar budaya Bandung saat perang berkecamuk. Kisah cinta antar sejoli dalam musikal ini juga dianggit lewat lagu Panon Hideung, sebuah lagu tentang asmara, yang diciptakan Ismail Marzuki pada 1936-1937.

Sialnya, cinta selalu terikat ruang dan waktu. Mar, sebagai prajurit Tentara Keamanan Rakyat (TKR) harus hijrah ke Jogja seiring perpindahan ibu kota. Nin juga ditugaskan ke Jakarta. Meski mereka berhasil mengikat janji, peristiwa lain yang kelak menjadi sejarah siap menerkam mereka.
 

Kelompok Artswara melakukan gladi resik pertunjukan musikal MAR di Ciputra Artpreneur, Jakarta pada Rabu, 26 Februari 2025. (sumber gambar:Hypeabis.id/Arief Hermawan P)

Kelompok Artswara melakukan gladi resik pertunjukan musikal MAR di Ciputra Artpreneur, Jakarta pada Rabu, 26 Februari 2025. (sumber gambar:Hypeabis.id/Arief Hermawan P)


Syahdan, periode Bandung Lautan Api meletus. Mar yang sudah kembali ke tanah Parahyangan gugur di antara ledakan mortir. Kekacauan ini turut digambarkan lewat sinematografi yang bernas. Disorot pula peran Laskar Wanita Indonesia, kelompok pejuang perempuan yang ikut turun ke medan laga.

Keberhasilan musikal Mar dalam menarasikan cerita ini patut diacungi jempol. Sentuhan tangan Dian HP sebagai komposer, yang menggubah lagu-lagu Ismail Marzuki seperti Sapu Tangan, Selendang Sutra, Bandung Selatan, Ibu Pertiwi, dan Gugur Bunga, tampil menjadi pemanis konflik hingga klimaks berakhir.

Kualitas akting dari Gabriel dan Galabby sebagai tokoh utama cerita juga terjaga dengan baik, dari awal hingga akhir pementasan. Mereka berhasil menyajikan keseimbangan antara teknik vokal, koreografi, dan ekspresi yang tak berlebihan selama pertunjukan berlangsung.

Baca juga: Pentas Dag Dig Dug Teater Populer, Saat Kematian Jadi Penuh Absurditas

Produser Mar, Narindra Kukila mengatakan, proses produksi dari lakon ini memang memakan waktu lebih lama dari biasanya. Selain penggodokan konsep, fokus dari musikal ini adalah aransemen lagu dan koreografi. Dia mengungkap kekuatan utama musikal ini memang nyanyian, tarian, dan akting.

"Saya ingin mengenalkan lagu-lagu Ismail Marzuki kepada generasi sekarang agar mereka tidak hanya mengenal karya seni kontemporer, tetapi juga seni dari maestro," katanya. 

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

7 Puncak Tertinggi (Seven Summits) di Indonesia, Ada Carstensz Pyramid

BERIKUTNYA

Survei: Animo Nonton Konser Masih Tinggi, Rela Pakai Paylater hingga Pinjol

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga