Kunci Sukses Bisnis Kuliner Anti Gagal Menurut Pakar Marketing
27 February 2025 |
12:16 WIB
Bisnis kuliner kerap dianggap sebagai salah satu jenis usaha yang tidak akan pernah mati dari waktu ke waktu. Alasannya sederhana, karena makan adalah kebutuhan primer dari semua individu. Orang-orang mungkin dapat menahan nafsunya untuk berbelanja yang menjadi kebutuhan sekunder, akan tetapi, rasa lapar di perut tidak akan bisa ditahan.
Meski demikian, bisnis kuliner juga merupakan usaha yang cukup fluktuatif. Artinya, mudah naik ataupun turun, terlebih jika produk kuliner yang dijual ialah makanan kekinian yang memanfaatkan tren atau dan ketenaran figur publik seperti artis. Hal tersebut yang membuat akhirnya bisnis kuliner rentan mengalami kegagalan, seperti yang terjadi pada RANS Nusantara Hebat.
RANS Nusantara Hebat merupakan pusat kuliner yang didirikan oleh Raffi Ahmad dan Kaesang Pangarep. Sentra kuliner yang berlokasi di BSD, Tangerang Selatan itu mendadak menjadi sorotan setelah mengumumkan akan berhenti beroperasi sementara waktu mulai 28 Februari 2025 mendatang.
Baca Juga: Fakta-Fakta RANS Nusantara Hebat, Bisnis Kuliner Raffi Ahmad & Kaesang yang Tutup Sementara
Kabar penutupan sementara itu mengejutkan publik terutama para penikmat kuliner. Pasalnya, keputusan itu diambil saat RANS Nusantara Hebat masih seumur jagung. Penutupan sementara RANS Nusantara Hebat dilakukan disaat usianya belum genap setahun, sejak dibuka pada Sabtu, 30 Maret 2024.
Managing Partner Inventure, Yuswohady, menilai banyaknya bisnis kuliner yang gagal lantaran seringkali menciptakan produk berasal dari keinginan atau konsep pelaku usaha sendiri, bukan menurut selera atau kebutuhan konsumen. Hal itu akhirnya tidak menciptakan product-market fit yang sebenarnya sangat penting untuk bisnis kuliner.
Product-market fit adalah kondisi yang menggambarkan bahwa suatu produk mampu memenuhi dan memuaskan kebutuhan pasar. Dalam kondisi ini, pelanggan bukan hanya puas dengan kebutuhan pasar, tetapi juga memiliki kecenderungan untuk membagikan informasi dan menceritakan produk tersebut ke orang lain.
"Itulah sebabnya kemudian dari hari ke hari, minggu atau bulan ke bulan kemudian jadi makin turun [penjualannya]. Karena sebenarnya product-market fit itu masih belum terwujud," katanya saat dihubungi Hypeabis.id, Selasa (26/2/2025).
Yuswohady menjelaskan sebelum menjalankan bisnis kuliner, penting bagi pelaku usaha untuk mencari product-market fit. Artinya, memahami produk apa yang paling dibutuhkan dan dicari oleh konsumen. Hal itu bisa didapatkan melalui proses eksperimen sebelum memulai usaha.
Dia memberi contoh seperti Mc Donalds yang telah menerapkan product-market fit sesuai dengan selera dan budaya konsumen di tiap-tiap negara. Meski di negara asalnya dikenal dengan produk burger, brand tersebut justru lebih mengedepankan paket nasi dan ayam ketika beroperasi di Indonesia dan Thailand.
Contoh lain yakni brand Domino Pizza. Semula, Domino menawarkan gerai pizza untuk dine-in atau makan di tempat mengikuti beberapa brand pizza lainnya. Namun, seiring waktu, mereka lebih mengedepankan layanan pizza delivery, mengikuti kecenderungan masyarakat Indonesia yang lebih gemar mengonsumsi pizza di rumah.
"Itu melalui agile testing bertahun-tahun. Jadi kalau tes A enggak cocok, tes B. Begitupun kalau tes B enggak cocok, ke C gitu, sehingga ketemu product-market fit itu. Makanya pebisnis kuliner itu enggak bisa cuma konsep saat agile testing itu. Harusnya dia luncurkan produk, begitu enggak nendang, konsepnya harus digeser atau diubah," ucapnya.
Yuswohady juga mengingatkan sebaiknya para calon pebisnis kuliner jangan terburu-buru untuk meluncurkan sebuah brand atau produk, sebelum menemukan product-market fit. Terlebih, jika konsep yang mau diusung yakni kuliner kekinian yang memanfaatkan tren seperti jajanan khas dari negara lain. Jika tidak direncanakan dengan matang, yang terjadi hanya akan mendatangkan konsumen FOMO, lalu perlahan ditinggalkan.
"Jadi jangan launching dulu. Begitu produk market fit-nya sudah mulai kebentuk, kayaknya demand [permintaan]-nya ada dan kayaknya sustain, baru mulai kita launching kemudian ekspansi, buka cabang dan seterusnya," tuturnya.
Dia menambahkan dalam bisnis kuliner, biasanya loyalitas konsumen bisa dilihat dalam tiga tahap, yakni pada tiga minggu, tiga bulan, hingga tiga tahun. Jika bisnis kuliner hanya ramai pengunjung di tiga minggu pertama, biasanya brand tersebut hanya mengandalkan tren FOMO semata, tanpa memperhatikan kualitas produk dan pengalaman yang baik.
Namun, jika brand kekinian tersebut dibarengi dengan kualitas produk dan pengalaman yang baik, biasanya akan diburu konsumen hingga 3 bulan pertama. Jika itu sudah dipenuhi ditambah dengan terus melakukan inovasi-inovasi, maka besar kemungkinan brand kuliner tersebut akan bertahan hingga 3 tahun.
"Kalau sampai dia [brand kuliner] bisa bertahan tiga tahun, maka untuk bisa stabil berikutnya kemungkinannya besar. Tapi kalau setelah 3 bulan mulai sepi, itu biasanya pelan-pelan akhirnya tutup. Banyak yang terjadi begitu," katanya.
Baca Juga: Mengulik Kesuksesan JumpStart, Ide Bisnis yang Muncul Dari Keresahan
Editor: M. Taufikul Basari
Meski demikian, bisnis kuliner juga merupakan usaha yang cukup fluktuatif. Artinya, mudah naik ataupun turun, terlebih jika produk kuliner yang dijual ialah makanan kekinian yang memanfaatkan tren atau dan ketenaran figur publik seperti artis. Hal tersebut yang membuat akhirnya bisnis kuliner rentan mengalami kegagalan, seperti yang terjadi pada RANS Nusantara Hebat.
RANS Nusantara Hebat merupakan pusat kuliner yang didirikan oleh Raffi Ahmad dan Kaesang Pangarep. Sentra kuliner yang berlokasi di BSD, Tangerang Selatan itu mendadak menjadi sorotan setelah mengumumkan akan berhenti beroperasi sementara waktu mulai 28 Februari 2025 mendatang.
Baca Juga: Fakta-Fakta RANS Nusantara Hebat, Bisnis Kuliner Raffi Ahmad & Kaesang yang Tutup Sementara
Kabar penutupan sementara itu mengejutkan publik terutama para penikmat kuliner. Pasalnya, keputusan itu diambil saat RANS Nusantara Hebat masih seumur jagung. Penutupan sementara RANS Nusantara Hebat dilakukan disaat usianya belum genap setahun, sejak dibuka pada Sabtu, 30 Maret 2024.
Managing Partner Inventure, Yuswohady, menilai banyaknya bisnis kuliner yang gagal lantaran seringkali menciptakan produk berasal dari keinginan atau konsep pelaku usaha sendiri, bukan menurut selera atau kebutuhan konsumen. Hal itu akhirnya tidak menciptakan product-market fit yang sebenarnya sangat penting untuk bisnis kuliner.
Product-market fit adalah kondisi yang menggambarkan bahwa suatu produk mampu memenuhi dan memuaskan kebutuhan pasar. Dalam kondisi ini, pelanggan bukan hanya puas dengan kebutuhan pasar, tetapi juga memiliki kecenderungan untuk membagikan informasi dan menceritakan produk tersebut ke orang lain.
"Itulah sebabnya kemudian dari hari ke hari, minggu atau bulan ke bulan kemudian jadi makin turun [penjualannya]. Karena sebenarnya product-market fit itu masih belum terwujud," katanya saat dihubungi Hypeabis.id, Selasa (26/2/2025).

Penting untuk mengenali product-market fit dalam berbisnis kuliner. (Sumber gambar: Brett Sayles/Pexels)
Dia memberi contoh seperti Mc Donalds yang telah menerapkan product-market fit sesuai dengan selera dan budaya konsumen di tiap-tiap negara. Meski di negara asalnya dikenal dengan produk burger, brand tersebut justru lebih mengedepankan paket nasi dan ayam ketika beroperasi di Indonesia dan Thailand.
Contoh lain yakni brand Domino Pizza. Semula, Domino menawarkan gerai pizza untuk dine-in atau makan di tempat mengikuti beberapa brand pizza lainnya. Namun, seiring waktu, mereka lebih mengedepankan layanan pizza delivery, mengikuti kecenderungan masyarakat Indonesia yang lebih gemar mengonsumsi pizza di rumah.
"Itu melalui agile testing bertahun-tahun. Jadi kalau tes A enggak cocok, tes B. Begitupun kalau tes B enggak cocok, ke C gitu, sehingga ketemu product-market fit itu. Makanya pebisnis kuliner itu enggak bisa cuma konsep saat agile testing itu. Harusnya dia luncurkan produk, begitu enggak nendang, konsepnya harus digeser atau diubah," ucapnya.
Yuswohady juga mengingatkan sebaiknya para calon pebisnis kuliner jangan terburu-buru untuk meluncurkan sebuah brand atau produk, sebelum menemukan product-market fit. Terlebih, jika konsep yang mau diusung yakni kuliner kekinian yang memanfaatkan tren seperti jajanan khas dari negara lain. Jika tidak direncanakan dengan matang, yang terjadi hanya akan mendatangkan konsumen FOMO, lalu perlahan ditinggalkan.
"Jadi jangan launching dulu. Begitu produk market fit-nya sudah mulai kebentuk, kayaknya demand [permintaan]-nya ada dan kayaknya sustain, baru mulai kita launching kemudian ekspansi, buka cabang dan seterusnya," tuturnya.
Dia menambahkan dalam bisnis kuliner, biasanya loyalitas konsumen bisa dilihat dalam tiga tahap, yakni pada tiga minggu, tiga bulan, hingga tiga tahun. Jika bisnis kuliner hanya ramai pengunjung di tiga minggu pertama, biasanya brand tersebut hanya mengandalkan tren FOMO semata, tanpa memperhatikan kualitas produk dan pengalaman yang baik.
Namun, jika brand kekinian tersebut dibarengi dengan kualitas produk dan pengalaman yang baik, biasanya akan diburu konsumen hingga 3 bulan pertama. Jika itu sudah dipenuhi ditambah dengan terus melakukan inovasi-inovasi, maka besar kemungkinan brand kuliner tersebut akan bertahan hingga 3 tahun.
"Kalau sampai dia [brand kuliner] bisa bertahan tiga tahun, maka untuk bisa stabil berikutnya kemungkinannya besar. Tapi kalau setelah 3 bulan mulai sepi, itu biasanya pelan-pelan akhirnya tutup. Banyak yang terjadi begitu," katanya.
Baca Juga: Mengulik Kesuksesan JumpStart, Ide Bisnis yang Muncul Dari Keresahan
Editor: M. Taufikul Basari
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.