Penari ternama sekaligus akademisi Nungki Kusumastuti (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Penari Nungki Kusumastuti Beberkan Periode Emas Seni Tari di Buku Terbarunya

27 February 2025   |   16:30 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Di setiap era, tari berkembang mengikuti alur sejarah bangsanya. Dari gerakan mistis di ritual purba, sampai koreografi penuh estetika di istana raja. Tarian selalu menemukan jalan untuk bertahan, bersinar, sekaligus menemukan konteks zamannya.

Penari ternama sekaligus akademisi Nungki Kusumastuti mengatakan seni tari punya riwayat yang panjang di Indonesia. Dalam olahan risetnya yang tertuang di buku Tari Indonesia dan Sejarahnya, Nungki menyebut tari sudah berkembang di Indonesia sejak zaman prasejarah.

Baca juga: Road to Pagelaran Sabang Merauke, 50 Penari Lintas Daerah Siap Unjuk Gigi di The Audition

Seni tari kemudian terus hadir dan menjadi warna kebudayaan di zaman Hindu-Budha. Tak berhenti di situ, pada era kerajaan Islam berdiri, zaman penjajahan, kemerdekaan, sampai pasc Indonesia merdeka, tari tetap jadi satu budaya yang hidup.

Baginya, tari dapat menjadi salah satu seni yang juga menjadi alat rekam zaman yang menarik. Sebab, jenis-jenis tarian yang muncul kerap kali menggambarkan suatu kondisi zaman.

Namun, sebuah pertanyaan lantas muncul, kapan sebenarnya tari Indonesia mencapai periode emasnya? Apakah ketika kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit dan Sriwijaya menjadikannya bagian dari diplomasi dan ritus agama? Ataukah justru saat seni tari melebur dengan kemerdekaan yang dibalut kebebasan?

Jawabannya rupanya tak sesederhana itu. Nungki mengatakan perkembangan seni tari di Indonesia dari masa ke masa cenderung sangat dinamis. Oleh karena itu, cukup sulit untuk menunjuk ada satu periodisasi yang patut disorot karena menjadi periode emas bagi kesenian ini.

"Melihat perkembangan tari itu kan tidak hanya berdasarkan kuantitas, tetapi juga kualitas. Ada satu masa yang sebenarnya enggak banyak (tarian), tetapi berkualitas. Dalam hal ini, tentu pembandingnya mesti jelas," ungkap Nungki.

Dalam hal ini, setiap periode tari di Indonesia rupanya tak bisa dibandingkan satu sama lain begitu saja. Sebab, sebenarnya masih banyak sisi abu-abu yang belum tergali sempurna dan butuh penelitian lebih lainjut.

Nungki mencontohkan ada cukup banyak tarian di masa lalu yang belum tercatat, tetapi keberadaannya kini, tetapi ada indikasi seni pada masa itu luar biasa dan magis. Saat ini, orang-orang hanya bisa menduganya lewat penelitian para ahli, seperti ahli sejarah, antroplogi, dan sebagainya.

Misalnya, soal tarian-tarian yang muncul di relief. Kala itu tentu saja kemunculan gambar tari di relief adalah pertanda kesenian ini punya makna penting pada masyarakat. Sebab, tidak semua simbol dapat masuk ke dalam relief.

Selain itu, beberapa tarian juga menjadi penting karena dianggap sekaligus bagian dari ritus kepercayaan yang dianutnya. Tari benar-benar menjadi satu kebudayaan yang sakral.

"Yang tercatat di relief atau prasasti tentu ada di dalam masa kejayaan suatu negara atau kerajaan kala itu. Di sana ada, bisa dibayangkan ada kerajaan yang makmur yang kemudian membuat seni dan budayanya, termasuk tarian dapat terpelihara dengan baik," jelasnya.

Kemudian, tarian yang muncul pada fase di dalam keraton dan di luar keraton juga menarik. Keduanya dapat berjalan berbarengan. Tentu, lanjutnya, publik dapat menduga hal tersebut dapat terjadi ketika sebuah negara telah selesai dengan hal-hal dasar, sehingga energi mereka bisa tertuang begitu hebatnya ke seni.

Kendati tak menutup kemungkinan juga, seni juga sangat bisa tumbuh dalam keterbatasan. Hal menarik lainnya, lanjut Nungki, muncul saat transisi keraton dan era penjajahan.

Pada kala itu, mungkin ada banyak keraton atau kerajaan yang terpecah dan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Seni tari, tuturnya, rupanya juga beradaptasi dengan kondisi tersebut.

Alih-alih dilupakan, tari di era tersebut justru berkembang makin pesat. Sebab, masing-masing kerajaan justru mengadopsi tarian yang ada, lalu mengembangkannya sesuai dengan kekhasan sendiri-sendiri.

Di luar itu, perlu diakui juga pada fase ini, ada pula yang hilang. Tarian bisa hilang karena tidak disukai lagi, tidak diperlukan lagi, dan tidak ada pendukungnya lagi

“Kendati demikian, ini tak bisa mengungkap mana yang terbaiknya. Sebab, rasanya setiap periode tentu punya cerita dan fungsi yang membuat tari bisa berubah,” imbuhnya.

Nungki Kusumastuti baru saja merilis buku terbarunya bertajuk Tari Indonesia dan Sejarahnya. Buku ini juga memuat berbagai pengetahuan tentang tari di Indonesia dan sejarahnya dengan alur periodisasi.

Setiap tulisannya akan membedah bagaimana sebuah tari tradisional tercipta, bertahan hingga kini, dan tetap didukung oleh masyarakat pada masa sekarang. Sejarah di buku ini akan dimulai dari kemunculan seni tari di Indonesia sejak zaman prasejarah, Hindu-Budha, Islam, penjajahan, sampai sesudah kemerdekaan.

Seluruhnya dijabarkan dengan pola penceritaan yang menarik, juga dilengkapi beberapa gambar pendukung untuk visualisasi.  Karya ini pun diharapkan menjadi referensi penting bagi para peneliti, praktisi seni, maupun awam sekalipun yang tertarik mendalami kekayaan tari Indonesia.

Buku Tari Indonesia dan Sejarahnya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Desain sampul buku ini digarap oleh Suprianto, sedangkan penyuntingan buku ini dipercayakan kepada Miguel Angelo Jonathan dan Ardi Yunanto.

Baca juga: Tayang di Amerika Serikat, Badarawuhi di Desa Penari Dapat Skor Segini di Rotten Tomatoes

Editor: Dika Irawan

SEBELUMNYA

Sinopsis 3 Film Horor Mulai Tayang di Bioskop, Pernikahan Arwah hingga Jagal Teluh

BERIKUTNYA

Kunci Sukses Bisnis Kuliner Anti Gagal Menurut Pakar Marketing

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: