Pameran Rongka bertema Mistika karya anak-anak SMAS HelloMotion (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Pameran Seni Rongka Bertema Mistika: Meraba yang Terlihat, Menalar yang Gaib

22 February 2025   |   19:03 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Like
Mistik dan Logika, dua hal yang sering dianggap bertolak belakang, dipadukan dalam pameran seni bertajuk Rongka. Diselenggarakan oleh anak-anak kelas XII SMA HelloMotion, pameran ini mencoba mengeksplorasi dunia mistik dengan pendekatan rasional yang menggugah nalar. 

Seni rupa kontemporer memang kerap memberi banyak kejutan, begitu pula pameran ini. Daya khayal Symponia (sebutan angkatan ke-6 SMA HelloMotion) menerabas segala batas. Imajinasi mereka tak terpenjara sebatas bingkai.

Mereka menjadikan dunia mistik, sesuatu yang mungkin kerap dihindari atau ditakuti, menjadi lahan kreativitas. Setiap karya yang ditampilkan di pameran ini akan mendedah antara yang ada dan tiada, rasional dan irasional, atau terkadang juga membaca yang lalu dan yang kini. 

Baca juga: Bawa Karya Gigantik, Arkiv Vilmansa Soroti Isu Biota Laut Indonesia Lewat Pameran di Galnas

Kontradiksi ini bukan sekadar ketidaksesuaian. Bukan pula menggurui dan seolah memutus kepercayaan masa lalu. Melalui seni, kontradiksi menjadi harmoni, lalu saling memeluk mengantarkan manusia menjelajahi pemikiran yang unik.

Salah satu yang menggugah mata pengunjung dalam pameran ini adalah karya Cut Keysha Aya Sofya. Karya instalasi interaktifnya berjudul Melati tampak mencoba bermain-main dengan psikologi dan persepsi. Seperti namanya, dalam karya ini, melati menjadi medium bagi Cut Keysha untuk memberi sudut pandang lain tentang hal-hal mistik yang melingkupi bunga tersebut.

Dalam budaya tertentu, bau melati sering dikaitkan dengan hal-hal gaib, misalnya sebagai tanda kehadiran makhluk halus atau peristiwa supernatural. Pengetahuan kolektif ini rupanya berdampak panjang, memicu semacam asosiasi traumatis. Ketika tercium bau itu, orang cenderung takut.
 

Instalasi Melati (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Instalasi Melati (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Dalam instalasinya, Cut Keysha mendesain ruangannya berbentuk lorong, dengan ujung berupa sudut yang lebih luas. Memasuki ruang instalasinya, pengunjung akan disambut nuansa remang, yang cenderung gelap.

Di lorong gelap tersebut, samar-samar bau melati menguar. Tampak pengunjung yang mencoba ‘wahana’ ini mulai menunjukkan reaksi. Ada yang mulai takut, yang lain memegang tangan teman, sementara sisanya berbisik-bisik.

Mereka yang berani akan melanjutkan langkah, hingga di ruang tengah mereka menemukan instalasi pohon bercahaya. Pohon itu cukup gigantik dan indah, kontras dengan apa yang mungkin terlintas ketika memasuki ruang ini.

“Di sini aku mencoba mengangkat mitos wangi melati. Dari dulu sampai sekarang, orang masih banyak yang mikir kalau mencium bau melati di sekitar kita, itu tanda ada makhluk halus,” ungkap Cut Keysha.

Dalam karya ini, dia ingin menghadirkan sebuah refleksi tentang bagaimana mitos membentuk cara pandang seseorang akan sesuatu. Lalu, mencoba menawarkan sudut pandang lain, yakni melihat melati secara apa adanya.

Melati, baginya punya daya tarik menarik. Alih-alih sebagai simbol supranatural, Cut Keysha lebih memilih menghadirkannya sebagai simbol keindahan, kesucian, dan harapan. Instalasi pohon bercahaya, yang mirip Cemara, tampak melambangkan itu. “Padahal, melati juga bisa relaksasi, menghilangkan stres, bisa juga dekorasi atau keindahan,” tuturnya, sembari tersenyum.

Beranjak ke karya lain, Kenobi Haidar Akmal mencoba melakukan pendekatan berbeda. Lewat karyanya berjudul Jenglot Indonesia Vampire Art, dia tampak mencoba mengetengahkan makhluk mitologi jenglot sebagai representasi ketakutan kolektif.
 

Jenglot Indonesia Vampire Art

Jenglot Indonesia Vampire Art (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Instalasinya cukup detail. Dia menghadirkan sosok jenglot dalam visual tubuh kering, rambut panjang, kuku panjang, dan wajah menakutkan. Akan tetapi, alih-alih dibuat kecil, jenglot itu justru diperbesar.

Suasana dibuat temaram, dengan cahaya merah menghiasi dari atas. Di samping jenglot itu, ada dua patung dipajang. Ruangan ini seperti sebuah tempat ritual, ketika para dukun memainkan jenglot mereka. 

Hal menariknya, Jenglot itu ditaruh di dalam sebuah peti, seperti tradisi di dalam makhluk vampir. Kenobi menyebut jenglot dan vampir cukup mirip karena sama-sama butuh darah. “Ya, kekuatan mistis selalu bergantung pada pengorbanan dan keyakinan spiritual,” imbuhnya. 
 

 The Balancing Act

The Balancing Act (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Dalam karya yang lain, Betrand Zeusef Zuriel mencoba menyajikan sisi mistik ke dalam medium animasi. Karyanya berjudul The Balancing Act mencoba mengeksplorasi fenomena atlet yang kerap mengandalkan ritual atau jimat untuk mengurangi kecemasan.

Melalui animasi, Betrand ingin menyuguhkan sudut pandang lain akan cara mengatasi kecemasan. Bukan dengan jimat, melainkan kerja keras dan latihan konsisten. “Kebetulan, aku juga atlet figure skating. Ketika muncul tema ini, aku mencoba menggali pengalaman aku sendiri sih,” ucapnya.

Animasi berdurasi tujuh menit itu dibuatnya selama kurang lebih 6 bulan. Dia mengerjakannya sendiri, dibantu beberapa teman untuk mengisi suara karakternya.  Menurutnya, tantangan terbesar dalam mengeksekusi animasi ini ialah perihal konsep. Bukan hanya soal cerita, melainkan juga pemilihan warna. Kedua hal itu, baginya, menjadi elemen penting dalam animasi. 

Di luar ketiga karya ini, masih ada sekitar 70-an karya lain yang tak kalah menggugah. Setiap karya, seperti tengah menjembatani dunia mistik dan logika dengan pendekatan yang apik. Ada yang menggunakan metode rasional untuk menggambarkan hal bersifat mistis, sedang yang lain menggunakan elemen mistik untuk mengeksplorasi gagasan rasional.

Pada akhirnya, seni memberi ruang untuk mempertanyakan, mengimajinasikan, dan bahkan mempercayai sesuatu di luar batas logika. Mungkin justru di antara dua dunia inilah seni menemukan esensinya—sebagai medium yang menghubungkan yang nyata dan yang tidak terjelaskan. 

Baca juga: D Gallerie Gelar Pameran Duo Nunung WS & Nashar, Telisik Lirisisme Seni Rupa Indonesia 
 

Mistika dalam Perspektif Anak Muda 

d

Pameran Rongka bertema Mistika karya anak-anak SMAS HelloMotion (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan di Hellomotion High School, Trada Lardiatama, mengatakan bahwa pameran ini sengaja mengambil tajuk Rongka. Kata tersebut dipilih untuk mewakili pertanyaan besar apakah hal ini salah atau sudah seharusnya terjadi.

Tema pameran ini adalah mistika (mistake, logic, mystical). Dalam pameran ini, para siswa ditantang untuk melihat fenomena mistis yang masih lekat dalam pemikiran masyarakat Indonesia. “Hal-hal mistis ini coba dikritisi lagi oleh anak-anak, Mereka merespons semua yang ada di sekitarnya, lalu mengubahnya menjadi karya,” ucap Trada.

Pendekatan ini membuat karya seni yang dibuat para siswa sebenarnya adalah sesuatu yang dekat dengan mereka atau bahkan pernah dialami. Dengan demikian, Trada menyebut objek visual yang akhirnya muncul dalam pameran ini pun bisa punya layer yang lebih dalam, tidak hanya menarik, tetapi juga menyuguhkan pernyataan filosofis.

Menurutnya, karya-karya di pameran Rongka mencoba menggugah rasa ingin tahu dan menentang batasan mitos dan kenyataan. Dalam praktiknya, ada yang mencoba menawarkan gagasan baru, mengamini dengan catatan, sampai melihatnya dalam sudut pandang nasihat.
 

a

Pameran Rongka bertema Mistika karya anak-anak SMAS HelloMotion (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Sementara itu, salah seorang guru, Kurniawan, mengatakan bahwa seni bisa menjadi jembatan antara kepercayaan dan pemikiran rasional. Dengan sentuhan kreativitas, dunia mistik yang sering dianggap irasional kini bisa dinikmati dengan perspektif yang lebih mendalam dan masuk akal.

Pria yang karib disapa Wawan itu menyebut pameran ini tidak hanya menjadi ajang unjuk bakat, tetapi juga ruang dialog bagi mereka yang tertarik pada pertemuan antara dunia mistis dan rasional.

“Pameran ini tidak dibatasi media. Jadi, para siswa memang mengaktualisasi dirinya sesuai keahlian masing-masing. Ada sekitar 70 karya, meliputi buku, instalasi, film, animasi, dan media interaktif,” tegasnya.

Wawan berharap pameran rutin tahunan anak-anak kelas 3 SMA HelloMotion ini bisa punya manfaat dan dampak, bukan hanya bagi para siswa, melainkan juga pencinta seni. Di luar itu, dia juga berharap para siswa mengembangkan karyanya dan tak berhenti di pameran ini saja.

Pameran Rongka merupakan hasil karya final project kelas XIII SMAS HelloMotion. Pameran ini digelar satu hari penuh di Omotesando Mall Bintaro pada Sabtu (22/2/2025). 

Baca juga: Usung Tajuk Fragmen, Agus Suwage Gelar Pameran Tunggal di Nadi Gallery

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

Editor: Syaiful Millah 

SEBELUMNYA

Begini Pandangan Seniman Arkiv Melihat Potensi IP untuk Berkarya

BERIKUTNYA

Maybank Indonesia Dorong Generasi Muda Melek Teknologi Lewat Kompetisi Nasional Codeavour 6.0

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: