Melirik Potensi Pasar Industri Kecantikan di Indonesia yang Tembus Ratusan Triliun
11 February 2025 |
06:00 WIB
Industri kecantikan di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang pesat, seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perawatan diri. Diperkirakan, nilai pasar industri kecantikan di Indonesia mencapai Rp146 triliun pada 2024, dengan estimasi 100.400 salon, 5.000 barbershop, dan 3,97 juta unit ritel mendistribusikan produk kecantikan dan perawatan pribadi.
Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar produk kecantikan paling potensial di dunia yang menjadi peluang besar bagi para pelaku industri. Junaid Murtaza, Presiden Direktur L’Oréal Indonesia mengatakan, industri kecantikan tidak hanya berkembang dalam skala bisnis tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap ekonomi nasional.
"Dengan komitmen untuk menciptakan kecantikan yang menggerakkan Indonesia, industri ini telah menjadi bagian penting dalam kemajuan sosial-ekonomi. Studi yang dilakukan oleh Asterès menunjukkan bahwa setiap satu pekerjaan penuh waktu di industri kecantikan mampu menciptakan 27,8 lapangan kerja di ekosistem terkait, angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata industri lainnya," ungkapnya.
Baca juga: Kisah Tasya Farasya Bawa Kecantikan Lokal ke Level Baru lewat Mother of Pearl
Sejalan dengan pertumbuhan ini, Faisol Riza, Wakil Menteri Perindustrian Republik Indonesia menyatakan bahwa sektor kosmetik turut mendorong perkembangan industri manufaktur di Indonesia.
"Berdasarkan laporan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia, sektor ini terus menunjukkan pertumbuhan yang positif. Kontribusi industri kecantikan, termasuk manufaktur kosmetik, memainkan peran penting dalam perekonomian nasional," jelasnya.
Lebih dari sekadar estetika, kecantikan kini menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Studi menunjukkan bahwa rata-rata seseorang menggunakan 4-5 produk makeup setiap hari, dengan 79% di antaranya merasa lebih percaya diri saat tampil di depan umum dengan riasan. 57% masyarakat Indonesia secara rutin mengalokasikan dana untuk perawatan rambut, sementara 96% perempuan Indonesia menganggap perawatan kulit sebagai investasi.
Tren ini turut mendorong inovasi di industri kecantikan, dengan meningkatnya permintaan terhadap produk berbasis bahan alami, keberlanjutan, serta teknologi canggih dalam perawatan kulit.
Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, menyoroti pentingnya pemanfaatan sumber daya lokal dalam industri ini. "Kami sangat mendukung pemanfaatan bahan alami Indonesia, seperti nilam, untuk menciptakan produk kecantikan yang dapat bersaing di pasar global. Ke depan, industri kecantikan diharapkan semakin berkembang dengan mengedepankan inovasi dan keberlanjutan," ucapnya.
Seiring dengan berkembangnya tren kecantikan, perusahaan-perusahaan besar seperti L’Oréal Indonesia terus beradaptasi dengan inovasi yang berbasis riset. Dengan melibatkan lebih dari 26.000 konsumen dan 1.500 dermatolog di Indonesia, berbagai produk dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang dinamis.
Selain inovasi produk, keberlanjutan juga menjadi perhatian utama dalam industri kecantikan. "Kami telah mencapai 100% penggunaan energi terbarukan dan berhasil mengumpulkan serta mendaur ulang lebih dari 300 ton limbah pasca-konsumen dalam setahun terakhir," tambah Junaid Murtaza.
Dengan pertumbuhan yang terus meningkat dan inovasi yang semakin berkembang, industri kecantikan di Indonesia diprediksi akan terus menjadi sektor yang menjanjikan, baik dari sisi bisnis maupun dampaknya terhadap ekonomi dan masyarakat secara luas.
Editor: Fajar Sidik
Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar produk kecantikan paling potensial di dunia yang menjadi peluang besar bagi para pelaku industri. Junaid Murtaza, Presiden Direktur L’Oréal Indonesia mengatakan, industri kecantikan tidak hanya berkembang dalam skala bisnis tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap ekonomi nasional.
"Dengan komitmen untuk menciptakan kecantikan yang menggerakkan Indonesia, industri ini telah menjadi bagian penting dalam kemajuan sosial-ekonomi. Studi yang dilakukan oleh Asterès menunjukkan bahwa setiap satu pekerjaan penuh waktu di industri kecantikan mampu menciptakan 27,8 lapangan kerja di ekosistem terkait, angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata industri lainnya," ungkapnya.
Baca juga: Kisah Tasya Farasya Bawa Kecantikan Lokal ke Level Baru lewat Mother of Pearl
Sejalan dengan pertumbuhan ini, Faisol Riza, Wakil Menteri Perindustrian Republik Indonesia menyatakan bahwa sektor kosmetik turut mendorong perkembangan industri manufaktur di Indonesia.
"Berdasarkan laporan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia, sektor ini terus menunjukkan pertumbuhan yang positif. Kontribusi industri kecantikan, termasuk manufaktur kosmetik, memainkan peran penting dalam perekonomian nasional," jelasnya.
Lebih dari sekadar estetika, kecantikan kini menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Studi menunjukkan bahwa rata-rata seseorang menggunakan 4-5 produk makeup setiap hari, dengan 79% di antaranya merasa lebih percaya diri saat tampil di depan umum dengan riasan. 57% masyarakat Indonesia secara rutin mengalokasikan dana untuk perawatan rambut, sementara 96% perempuan Indonesia menganggap perawatan kulit sebagai investasi.
Tren ini turut mendorong inovasi di industri kecantikan, dengan meningkatnya permintaan terhadap produk berbasis bahan alami, keberlanjutan, serta teknologi canggih dalam perawatan kulit.
Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, menyoroti pentingnya pemanfaatan sumber daya lokal dalam industri ini. "Kami sangat mendukung pemanfaatan bahan alami Indonesia, seperti nilam, untuk menciptakan produk kecantikan yang dapat bersaing di pasar global. Ke depan, industri kecantikan diharapkan semakin berkembang dengan mengedepankan inovasi dan keberlanjutan," ucapnya.
Seiring dengan berkembangnya tren kecantikan, perusahaan-perusahaan besar seperti L’Oréal Indonesia terus beradaptasi dengan inovasi yang berbasis riset. Dengan melibatkan lebih dari 26.000 konsumen dan 1.500 dermatolog di Indonesia, berbagai produk dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang dinamis.
Selain inovasi produk, keberlanjutan juga menjadi perhatian utama dalam industri kecantikan. "Kami telah mencapai 100% penggunaan energi terbarukan dan berhasil mengumpulkan serta mendaur ulang lebih dari 300 ton limbah pasca-konsumen dalam setahun terakhir," tambah Junaid Murtaza.
Dengan pertumbuhan yang terus meningkat dan inovasi yang semakin berkembang, industri kecantikan di Indonesia diprediksi akan terus menjadi sektor yang menjanjikan, baik dari sisi bisnis maupun dampaknya terhadap ekonomi dan masyarakat secara luas.
Editor: Fajar Sidik
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.