CEO Paragon Pictures sekaligus sutradara Robert Ronny (Sumber gambar:Bisnis/Himawan L Nugraha)

Eksklusif Robert Ronny: Kembali ke Kursi Sutradara Jadi Upaya Pulang pada Gairah Hidup

08 February 2025   |   13:00 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

CEO Paragon Pictures sekaligus produser dan sutradara, Robert Ronny, mengawali kalimatnya dengan senyuman tiap kali membicarakan film terbarunya, The Most Beautiful Girl in the World. Raut wajahnya begitu semringah, seperti seorang ayah yang menyambut kelahiran anak. 

Sineas jebolan Akademi Film New York itu tak kuasa menyembunyikan rasa senangnya. Tahun ini dia kembali duduk di bangku sutradara dan melahirkan film baru yang akan segera dirilis ke publik tak lama lagi.

Setelah kesuksesan secara kritik pada film Critical Eleven (2017), Robert Ronny memang menepikan diri dari bangku sutradara. Padahal, film tersebut berhasil dinominasikan untuk Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik dan menang untuk Pemeran Utama Wanita Terbaik di Asian Creative Academy Awards. 

Baca juga: Eksklusif Alim Sudio: Proses Kreatif & Simpang Jalan Penulisan Skenario pada Era AI

 
CEO Paragon Pictures sekaligus sutradara Robert Ronny  (Sumber gambar: Instagram/robertronny)
Tidak, dia tidak hiatus dari dunia perfilman. Dia hanya bergeser peran menjadi produser. Bersama rumah produksi yang didirikan bersama Andi S. Boediman, yakni Paragon Pictures, Robert lebih memfokuskan diri pada urusan manajerial produksi.

Namun, dia merasa ini bukanlah dunia yang ingin diciptakannya saat pertama membentuk Paragon Pictures. Sebab, sedari awal, cita-citanya adalah menjadi sutradara. Tahun ini, Robert resmi comeback.

Meski begitu, dia tak ingin menyebut ini sebagai 'comeback'. Baginya, menjadi sutradara bukan sekadar kembali, tapi merupakan upayanya untuk pulang kepada hal-hal yang disukainya, yang setiap hari bisa membuat hidup menjadi bergairah.

Kepada Hypeabis.id, Robert Ronny berbicara mengenai dorongan personal yang membuatnya kembali duduk sebagai sutradara, kecintaannya pada genre romantic comedy, juga cerita-cerita personal yang selalu menginspirasinya dalam berkarya. Berikut adalah petikan wawancaranya: 

Setelah cukup lama fokus membangun Paragon Pictures dengan menjadi produser, apa yang mendasari Anda kembali menjadi sutradara pada tahun ini? 

Saya justru melihatnya terbalik. Saya sebenarnya adalah sutradara, sekolahnya juga di bidang penyutradaraan, dan yang dicita-citakan sejak awal ya menjadi sutradara. Menjadi produser, justru bisa dibilang terpaksa. Jadi, rasanya ini bukan comeback.

Ini adalah upaya untuk kembali menggeluti bidang yang memang saya suka, seperti pulang ke rumah. Ya, semoga setelah ini, orang akan ingat dan kenal saya sebagai sutradara ya, bukan produser malah. Karena tahun ini saja ada dua yang akan saya sutradarai, salah satunya adalah The Most Beautiful Girl in the World.

Ke depan rasanya saya juga akan lebih fokus untuk menjadi sutradara. Tentu, memproduseri masih karena saya juga menjalankan Paragon Pictures. Namun, porsi sutradara kayaknya ke depan akan lebih banyak. Tahun ini saya juga kembali akan memproduksi film dan bekerja sama dengan Netflix, tetapi itu nanti dulu. 

Setiap film yang Anda sutradarai selalu ditulis sendiri. Mengapa pendekatan ini yang selalu dipilih, apakah ada pertimbangan kreatif tertentu?

Karena saya sudah tidak muda lagi. Di Paragon saya juga cukup sibuk untuk mengurusi berbagai hal mengenai produksi. Rasanya, jika ada kesempatan untuk menyutradarai, itu jadi terasa lebih personal. Di luar itu, saya juga termasuk yang punya privilege bisa menyutradarai film yang saya mau.

Jujur, saya juga orang yang cukup sentimental terhadap sebuah cerita. Jadi, saya selalu ingin bikin sebuah film yang memang saya ingin buat, yang saya suka ceritanya. Oleh karena itu, film-film saya kerap kali juga berasal dari kegelisahaan yang saya alami, termasuk di film yang akan segera tayang, yakni The Most Beautiful Girl in the World.

Film itu telah Anda tulis sejak 2007 dan baru diproduksi sekarang. Apakah itu berasal dari kegelisahan yang sudah terpendam lama? 

Ya, naskah The Most Beautiful Girl in the World memang telah ada sejak lama. Namun, meski sudah ada sejak 18 tahun lalu, rasanya apa yang betul-betul meresahkan saya sampai saat ini masih belum hilang. Justru, saya merasa beruntung bisa mengeksekusi ide itu pada era sekarang. Sebab, rasanya pesannya akan lebih terasa. 

Waktu awal banget nih, naskah ini dibuat karena saya merasa pandangan anak-anak muda terhadap cinta dan kecantikan kok rasanya telah begitu bergeser. Mereka berpacaran atau menjalin relasi itu atas dasar hal-hal yang rasanya itu bukan cinta. Kemudian, dunia entertainment juga makin membuatnya lebih berbeda lagi, terutama soal standar kecantikan.

Kebetulan, saya juga pernah ada di industri itu dan termasuk yang tidak suka dengan acara-acara itu. Namun, kalau secara frontal ngomongin itu kan jadi berat ya. Akhirnya, saya coba meramunya ke dalam satu naskah yang elemen dasarnya adalah romantic comedy. Genre yang saya sangat suka sebenarnya. 

Baca juga: Eksklusif Slamet Rahardjo: Memaknai Hidup Sebagai Panggung Sandiwara 
 

CEO Paragon Pictures sekaligus sutradara Robert Ronny  (Sumber gambar: Instagram/robertronny)

CEO Paragon Pictures sekaligus sutradara Robert Ronny  (Sumber gambar: Instagram/robertronny)


Memang, apa definisi cinta dan cantik yang ingin ditawarkan pada era sekarang?

Ya, itulah yang akan diangkat di film ini. Dua kata itu di era sekarang makin sulit terdefinisikan. Jika pun ada definisi, rasanya itu lebih mengarah ke hal-hal yang material. Industri entertainment dan media sosial benar-benar telah membuat kita kabur dalam memahami cinta dan cantik. Semuanya rasanya diukur dengan angka.

Makin banyak yang like, langsung dianggap cantik. Orang ngomongin cinta, tetapi ada ukuran gini gitu. Kalau balik ke industri entertainment, itu kan terjadi karena memikirkan rating dan semacamnya. Padahal, hal-hal itu rasanya tak bisa diukur sesederhana dengan angka. itu yang coba saya pertanyakan di film ini. 

Pendekatan romantic comedy ini menarik. Rasanya sudah jarang ya genre ini muncul?

Ya, romantic comedy ini memang jadi genre legendaris, tetapi rasanya sudah cukup lama ditinggalkan. Ini terjadi di mana-mana. Enggak hanya Indonesia, tetapi secara global orang juga seperti melupakan genre ini, bahkan Hollywood. Di Indonesia juga begitu. Karena banyak yang telah merusak genre ini sebenarnya. Di Indonesia kenapa? FTV bisa jadi contohnya.

Oleh karena itu, ketika saya ingin bawa genre ini kembali, harus ada yang beda. Romantic comedy yang dimunculkan benar-benar standar tinggi dan meninggalkan skema romcom FTV. Semoga ketika orang nonton, orang bisa tahu 'oh ya ini berbeda dengan FTV'. Semoga ini bisa jadi revival romcom di Indonesia. Karena, sebenarnya orang kangen sih.

Apa tantangan mengeksekusi romantic comedy, terutama untuk menghindari rasanya seperti picisan?

Jujur, eksekusinya cukup susah ya dan menantang. Menggabungkan romansa dan komedi rupanya tak segampang yang mungkin orang kira. Kombinasi ini justru membuat film membutuhkan sentuhan yang sangat-sangat praktikal. Namun, rasanya tetap menyenangkan sih ha ha ha.

Saya cukup beruntung mendapatkan partner yang tepat. Karena sebenarnya, genre ini terlalu kompleks untuk jadi layar lebar sebenarnya. Bahkan, pihak Netflix menyebut film ini harusnya bisa traveling ke luar negeri. Karena standar romantic comedy sudah tinggi, tidak terlihat seperti FTV.

Film baru ini akan tayang di platform streaming. Menurut Anda, posisi platform streaming sekarang seperti apa sih. Ada yang menyebut ini menjadi wadah menarik keberagaman tema dan genre muncul, bahkan dibanding bioskop?

Jawabannya iya dan enggak. Iyanya kenapa? Jadi, ketika sebuah film diputuskan tayang di bioskop, ada banyak faktor yang perlu untuk dipikirkan. Misalnya, ada yang akan menonton enggak? Pasar tentu jadi elemen yang cukup penting, karena itu berkaitan dengan investasi, modal, dan sebagainya. Hal ini yang mungkin membuat yang terlihat saat ini horor lagi horor lagi.

Film aksi mana? kenapa orang susah bikin film aksi? karena mahal, bagaimana balik modalnya?. Begitu kira-kira gambarannya. Namun, di sisi yang lain, sebenarnya ini sangat bergantung pada sineasnya. Saya punya pengalaman itu ketika membuat film Kuasa Gelap. Film itu saya bikin butuh waktu bertahun-tahun.

Semua orang hampir selalu ngomongnya sama "kok bikin film horor eksorsis sih", kita kan negaranya banyak muslim. Dalam hati, iya sih. Namun, sebenarnya ketika kita memberi warna baru dalam film, sebenarnya penonton sekarang mau datang sih. Film itu kan dapat 1,4 juta penonton. Banyak yang enggak menyangka juga.

 Bagaimana di platform streaming?

Jujur iya sih memicu keberagaman. Kalau aku melihat, kayak film The The Shadow Strays (2024) yang digarap Timo Tjahjanto, itu rasanya bakal susah jika harus di layar lebar. Karena jadi terlalu mahal. Tapi ini tentu akan selalu jadi ruang abu-abu sih. ada benarnya, ada enggak.

Paragon juga akan kembali menghidupkan IP Losmen Bu Broto. Setelah film, kini serial. Apa Daya tarik utama yang ditawarkan?

Dulu, Losmen Bu Broto di televisi itu bagus banget. Itu juga menjadi serial favorit ayah saya. Yang membuat IP (intellectual property) ini menarik itu karena kekompleksan cerita yang ditawarkan. Kenapa? Karena setiap karakter itu selalu dapat ruang untuk berkembang. 

Jujur, ketika mengeksekusi dalam bentuk layar lebar, itu cukup menantang ya. Karena persoalan durasi. Namun, waktu itu rasanya untuk melakukan tribute, perlu membuat film dulu.

Sekarang, kita akan bawa ke ranah aslinya, yakni serial. Kalau di film fokus ke Sri. Versi serial akan fokus ke Tarjo, kemudian akan bergeser ke karakter-karakter lain. Belum banyak yang bisa diceritakan, tetapi ini akan tayang tahun ini.

Baca juga: Hypeprofil Sineas Rizal Mantovani: Menyongsong Babak Baru Bangku Produser

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Syaiful Millah 
Editor:

SEBELUMNYA

Latar Belakang sampai Makna Perubahan Nama NewJeans Jadi NJZ

BERIKUTNYA

Ozzy Osbourne Bakal Reuni dengan Black Sabbath dalam Konser Terakhir

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: