Ketua Bidang PenJurian Festival Film Indonesia 2023 Garin Nugroho (Sumber foto: Dok. FFI 2023/Arman Policist)

Eksklusif Profil Garin Nugroho: Dinamika di Balik Proses Penjurian Festival Film Indonesia 2023

06 November 2023   |   15:46 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Like
Roman semringah tampak dari wajah Garin Nugroho saat bercengkrama dengan Hypeabis.id di gedung Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Jakarta, Kamis (2/11), seusai pengumuman daftar Dewan Juri Akhir Festival Film Indonesia 2023.

Meski senyum lebar menghiasi wajahnya, sorot matanya tampak masih menyiratkan sesuatu yang tertahan. Jajaran Dewan Juri Akhir Festival Film Indonesia (FFI) 2023 memang telah diumumkan sore itu, tetapi tugasnya belum usai. Sutradara gaek asal Yogyakarta ini masih harus memantau para juri menyelesaikan penilaiannya. Lalu, para pemenang nominasi Piala Citra akan dibacakan seluruhnya pada Malam Penganugerahan yang digelar 14 November 2023.

Garin yang menjadi Ketua Bidang Penjurian FFI periode 2021-2023 ini tentu saja ingin menuntaskan masa jabatannya dengan paripurna. Selama tiga tahun terakhir, pria 62 tahun itu telah melakukan banyak hal dalam penyempurnaan sistem penjurian festival bergengsi di Indonesia tersebut.

Penentuan pemenang nominasi FFI 2023 dilakukan berjenjang. Festival yang pertama kali diadakan pada 1955 ini mengombinasikan dua metode. Pertama, sistem voting, sebagaimana banyak digunakan di festival-festival film Amerika Serikat termasuk Academy Awards. Kedua, sistem penjurian, layaknya yang kerap diimplementasikan di festival-festival film Eropa, tak terkecuali Festival Film Cannes dan Festival Film Berlin. 

Baca juga: Eksklusif: Sutradara Nia Dinata Cerita tentang Perempuan dalam Karya Filmnya

Gerbang pertama seleksi dilakukan dengan sistem voting. Film dan pelaku film yang didaftarkan ke ajang FFI akan diseleksi oleh asosiasi-asosiasi profesi yang sesuai dengan kategori yang dikompetisikan. Sistem ini tidak hanya memastikan kompetensi juri agar selalu sesuai dengan bidangnya, tetapi juga untuk menghidupkan asosiasi profesi film yang sempat terpuruk saat pandemi Covid-19.

FFI juga melibatkan Akademi Citra yang baru dibentuk pada 2022, dan dianggotai oleh para peraih Piala Citra (minimal 1 kali) untuk ikut mem-voting film-film mana saja yang layak masuk ke dalam nominasi. Ini juga menjadi bentuk penghargaan serta kontribusi berkelanjutan para insan film yang pernah meraih penghargaan tertinggi sinema Indonesia tersebut.

Setelahnya, proses penentuan nominasi terbaik akan ditentukan oleh penilaian juri. Mereka yang masuk ke dalam jajaran Dewan Juri Akhir mesti punya kompetensi yang matang serta mewakili seluruh elemen industri perfilman. Juri tersebut dipilih bersama antara asosiasi, Akademi Citra, dan FFI. 
 

Garin Nugroho (Sumber foto: Dok. FFI)

Garin Nugroho (Sumber foto: Dok. FFI)

Saat ini, para dewan juri akhir tengah bekerja untuk menyeleksi nama-nama di dalam nominasi yang layak menjadi pemenang. Tentu bukan hal mudah menentukan nominasi terbaik. Kepada Hypeabis.id, Garin berbicara FFI terakhir di periodenya dan dinamika di balik proses penjurian yang terjadi jelang Malam Penganugerahan. Berikut petikan wawancaranya:
 
Sebagai Ketua Bidang Penjurian, hal apa yang selalu membuat excited tiap kali pelaksanaan FFI?

Tentang perdebatan di dalamnya, saya selalu excited dengan hal itu. Setiap keputusan juri di festival film itu selalu menimbulkan pro dan kontra. Jadi, kalau jadi Ketua Bidang Penjurian, siap-siaplah ditelpon, ditanya, dari para peserta nominasi tentang keputusan ini itu. Ya begitulah sudah wajar di Indonesia. Kalau di luar, tentu tidak terjadi.
 
Saat ini Dewan Juri Akhir telah diumumkan, proses selanjutnya seperti apa?

Mereka akan secara simultan bekerja untuk menentukan nominasi terbaik pada tiap kategori yang menjadi bidangnya. Prosesnya, FFI akan menyediakan waktu dan tempat bagi Dewan Juri Akhir untuk menonton seluruh film yang masuk nominasi.

Kami memastikan Dewan Juri Akhir akan menonton di layar bioskop yang memenuhi syarat profesional, sehingga mereka tidak hanya menonton di layar laptop atau gawai, yang mana akan sangat sulit menilai aspek-aspek terkecil dalam film. Hal ini dilakukan untuk menjunjung nilai-nilai profesionalisme setiap unsur yang dikompetisikan.
 
Boleh diceritakan dinamika menarik apa saja yang terjadi di meja penjurian?

Wah, kalau dinamika pasti itu luar biasa. Satu, karena film sekarang yang muncul makin menunjukkan keberagaman. Kedua, saat ini sineas yang senior dan junior tumbuh secara sama-sama. Ketiga, yang sudah establish itu pencapaiannya sudah dibaca, sedangkan yang baru-baru juga makin banyak yang muncul, mereka juga menunjukkan potensinya masing-masing.

Itu semua jadi dinamika tersendiri bagi para dewan juri dalam memilih nominasi terbaik. Para dewan juri memang harus bekerja keras untuk mengatasi dinamika tersebut. Terkadang, prosesnya bisa berjalan lama, tetapi tak jarang juga bisa cepat. Tergantung jurinya. 
 
Menurut Anda, apa pencapaian FFI periode ini?

Pertama dari segi persiapan. Dulu, FFI selalu dipersiapkan sekitar 3 bulan sebelum acara. Akan tetapi, Kemendikbudristek sekarang mensponsori untuk 1 tahun sebelum acara. Ini jadi progres yang perlahan-lahan membaik sehingga persiapan kami lebih matang, termasuk mengadakan acara diskusi di medsos dan lainnya.

Kedua, terkait dengan teknologi penjurian. Setiap tahun pasti selalu ada masukkan dari juri tentang cara menjuri paling baik seperti apa. Tujuannya adalah jangan sampai juri itu melakukan pemalsuan. Mereka tidak menonton film sepenuhnya, kemudian malah asal pilih. Nah, hal kayak begini mesti dideteksi. Itu kemudian kami perbaiki dengan sistem agar tercipta proses penjurian yang proper dan berkualitas. Juri hanya bisa mengeklik tombol vote jika telah menonton filmnya secara penuh.

Ketiga, terkait perlindungan data. Kan produser ngirim filmnya ke kita, dan itu harus dijaga jangan sampai bocor. Kami kerja sama dengan Bioskop Online untuk sistem tersebut.

Persiapan FFI berjalan lebih lama dibanding era dahulu, seberapa besar pengaruhnya?

Pengaruhnya sangat besar. Karena kalau 3 bulan kamu mau kerja sama dengan asosiasi, kamu tahu sendiri organisasi di Indonesia-lah. Disuruh kumpul saja enggak kumpul-kumpul. 1 tahun ini betul-betul hanya untuk surat menyurat, agar mereka menonton saja, kita hanya mengawasi kok.

Kalau di luar negeri, organisasi itu sudah memiliki sistem yang kuat. Ada sanksi untuk yang tidak sesuai peraturan. Akan tetapi, di Indonesia sekarang tidak ada. Maka, persiapan 1 tahun adalah hal yang wajar. Dalam prosesnya, kami juga sembari membangun sistem organisasi yang belum terlalu kuat di Indonesia.

Festival film tidak hanya tentang pencapaian, tetapi juga mencakup kemampuan organisasi. Di seluruh dunia, film yang maju, baik dari industri maupun art-nya, selalu punya dua esensi: sumber daya manusia dan organisasi yang sama-sama baik. Oleh karena itu, festival film sebagai wadah penting untuk menentukan pencapaian, juga harus mampu membangun organisasi film yang memang sesuai tuntutan zaman dan undang-undang.
 
Proses penambahan atau pengurangan kategori piala FFI dilakukan berdasarkan indikator apa?

Ya, sebenarnya kita sangat berhati-hati untuk menambah unsur ya. Misalnya, kayak usul soal Piala Antemas (penghargaan film terlaris) itu kami sebenarnya pikirkan juga. Namun, kami mesti hati-hati karena sudah ada penghargaan untuk film populer pilihan penonton.

Kalau mau diadakan, Piala Antemas yang dahulu diberikan untuk film terlaris di bioskop juga sekarang mesti dipikirkan ulang penilaiannya. Sebab, sekarang kita punya bioskop, tetapi juga punya OTT. Masalah sekarang adalah tidak bisa sesuatu dirumuskan dengan mudah.

Termasuk, kategori lain yang tidak ada, misalnya kategori pendatang baru, film anak, atau serial. Ini semua tergantung juri, apakah pendatang baru perlu atau kategori anak perlu, kita perlu data-data yang lebih lanjut.
 
Kategori serial juga dahulu ada Piala Vidia, terlebih belakangan segmen ini tampak naik daun, bagaimana tanggapan Anda?

Ya, sekali lagi akan banyak pertimbangan. Kemudian, pertanyaan lain juga akan muncul, misalnya “Apakah kalau ini dihidupkan, kategori yang ada di kami akan jadi terlalu banyak?”

Contoh saja kayak kategori kritik film itu sekarang ada lagi, tetapi sebenarnya hal-hal semacam ini juga bisa dibuatkan festival tersendiri oleh organisasinya. Tak terkecuali soal serial, OTT bisa bikin festivalnya masing-masing karena akan banyak banget kan jumlahnya. Jadi, kita memang mendorong organisasi lain menumbuhkan festivalnya sendiri.
 
Apakah itu artinya ekosistem film di Indonesia masih membutuhkan lebih banyak festival, mengapa?

Betul, dengan jumlah penduduk hampir 256 juta lebih, menurut saya lebih banyak festival itu lebih bagus. Hal itu akan mendorong cara-cara menilai, mengorganisir, dan cara-cara untuk membuat peta film Indonesia jadi lebih kaya.

Baca juga: Eksklusif Profil Bene Dion: Memperkaya Keindahan Sinematik dengan Sentuhan Komedi

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Syaiful Millah 

SEBELUMNYA

Profil Ahmad Albar, Pendiri God Bless & Ikon Rock Indonesia

BERIKUTNYA

Alumni Sekolah Mode ESMOD Jakarta Tampilkan 222 Looks di Ajang Creative Show 2023

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: