Film Pusaka (Sumber gambar: MVP Pictures)

Review Film Pusaka, Alegori Kutukan Ketika Manusia Menganggap Sejarah Sebelah Mata

22 July 2024   |   18:07 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Bioskop Indonesia kembali kedatangan satu film horor yang membawa premis segar. Berjudul Pusaka, film garapan Rizal Mantovani ini menceritakan tentang kutukan mematikan yang tak sengaja terlepas dari sebuah keris yang tersimpan di rumah tua.

Namun, alih-alih hanya menampilkan teror dan kekejaman semata, film ini mengubah tragedi kutukan menjadi alegori untuk menggambarkan kehidupan manusia modern yang kerap semena-mena pada benda-benda bersejarah, dan hal-hal yang berasal dari masa lalu lainnya.

Rizal lantas menyajikan kutukan sebagai garis penghubung antara masa lalu dan masa kini. Satu benang merah ini akan membuka kotak pandora yang penuh kritik.

Baca juga: Review Film Marni: The Story of Wewe Gombel, Cerita tentang Ibu, Pola Asuh Anak & Penyesalan
 

Film Pusaka dimulai dari perjalanan tim arkeologi yang dipimpin Nina (Shareefa Daanish) dan beranggotakan Hanna (Susan Sameh), David (Ajil Ditto), Sandra (Ully Triani), serta Ade (Ikhsan Samiaji). 

Mereka sedang menuju ke rumah milik kolektor benda-benda bersejarah bernama Risang Wisangko (Slamet Rahardjo). Rumah yang telah diwariskan ke kedua anaknya, Randi Wisangko (Bukie B Mansyur) dan Bian Wisangko (Shofia Shireen), itu rencananya akan diubah jadi museum.

Sepanjang menit-menit awal, film ini berjalan cukup pelan dan memberikan waktu yang cukup bagi penonton untuk mengenal masing-masing karakter di dalamnya. Rizal cukup berhasil meramu world building film ini dengan baik, sehingga penonton pun dengan mudah mengetahui peran dari tiap-tiap karakter di film ini.

Sejak awal film, penonton sudah disuguhkan dengan production value film yang tampak mewah. Set rumah Risang Wisangko, sebagai lokasi utama digarap dengan sangat baik oleh tim artistik. Penonton dapat melihat kalau rumah tersebut memanglah dipunyai kolektor kelas kakap yang punya beragam benda antik.

Kemudian, tanpa banyak basa-basi, Pusaka mulai menampilkan ketegangan dan kengerian saat film baru berjalan sepertiga babak. Penonton pun mulai disuguhkan berbagai adegan menyeramkan, gore, dan cenderung sadis saat kutukan berbahaya dari benda di rumah tersebut terlepas.

Kini, seisi rumah mulai mendapat ancaman teror. Setiap adegan yang berbau gore benar-benar dieksekusi dengan baik. Sisi brutalnya sangat ditonjolkan. Salah satu yang cukup apik tentu saja adalah scene pemotong rumput.

Jika film Evil Dead (2013) punya kengerian dari properti gergaji mesin, film Pusaka memiliki hal serupa dari pemotong rumput. Di tengah kebrutalan yang muncul, penonton pun diajak untuk menebak siapa yang akan menjadi korban selanjutnya.

Tak hanya itu, secara perlahan, karakter di film ini pun mengalami perkembangan signifikan. Dimulai dari hanya menerka-nerka apa yang terjadi, mempelajari situasi, hingga mencoba bertahan apa pun caranya itu.

Situasi ini membuat sisi antagonis dan protagonis terlepas. Sisi baik dan sisi buruk seolah jadi abu-abu karena semua orang kini lebih mementingkan untuk bisa bertahan hidup.
 

Sepanjang film ini, setiap aktor juga menampilkan range akting yang baik. Setiap emosi yang dibutuhkan pada adegan mampu dikeluarkan dengan baik. Salah satunya, Ully Triani, pemeran Sandra yang mampu menunjukkan karakter berbeda saat dirinya kesurupan.

Akting Ully ketika sedang kesurupan patut diacungi jempol. Detail-detail kecil, seperti cara dia berjalan, caranya menatap, hingga gayanya ketika memegang keris membuat penonton bergidik.

Secara cerita, film ini juga makin berkembang. Satu per satu rahasia mulai terungkap dengan cara yang unik. Hal yang menarik, film ini menunjukkan layer cerita yang dalam, yang mengungkap tiga periode yang berbeda, yakni era ketika benda pusaka itu dibuat, era Risang Wisangko, dan era anaknya, Randi Wisangko.

Kutukan yang terjadi pada tiga era ini seolah jadi alegori tentang manusia yang tak pernah belajar pada sejarah. Hal tersebut membuat kutukan dan hukuman selalu berulang.

Baca juga: Review Nightmares and Daydreams, Satire Puitis & Imajinatif Joko Anwar Menyoal Realitas Sosial

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Syaiful Millah 

SEBELUMNYA

Penjualan DVD dan Blu-ray Terus Meningkat di Tengah Tren Platform Streaming

BERIKUTNYA

Drakor Moving Sabet Daesang di Blue Dragon Series Awards 2024

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: