Festival Teater Jakarta (FTJ) 2023 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. (Sumber foto: JIBI/Hypeabis/Himawan L Nugraha)

Panggung Pentas Makin Didominasi Anak Muda, Apa Saja Tantangannya?

07 May 2024   |   08:00 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Gegap gempita industri seni pertunjukkan kian cemerlang. Alasan sederhananya, seni pertunjukkan tak pernah sepi peminat seiring zaman dan nafas panjang teater lokal terus berlanjut. Kini, anak muda banyak mengambil tempat dalam skena teater didukung dengan peminat seni pertunjukkan dari kalangan muda yang juga tinggi.
 
Sutradara Drama Musikal Paulus Simangunsong berpendapat, kini teater musikal cukup mendapat hati yang besar di kalangan anak muda. Namun menariknya, seni pertunjukan saat ini tidak lagi terasa dimonopoli oleh 2-3 kelompok teater yang besar. Paulus menyambut positif inisiatif skena teater muda yang terus berkembang.

Baca juga: Kaleidoskop 2023: Pertunjukan Seni & Teater yang Memukau Sepanjang 2023
 
Menurutnya, kondisi ini memberi harapan yang positif apabila dilihat dari segi minat. “Saya rasa mereka dipengaruhi akses informasi juga, sehingga mereka bisa membentuk kelompok khusus dalam memainkan teater, khususnya musikal yang terlihatnya makin banyak disukai seperti adaptasi Broadway atau West End, juga cerita lokal yang diangkat ke musikal,” kata Paulus.
 
Paulus mengatakan, momentum pascapandemi memberi angin segar bagi industri pertunjukkan. Selama pandemi lalu, Paulus menyebut kegiatan kesenian bak mati suri. Sebagian besar agenda pertunjukkan dilakukan secara online dan tapping.

Pada masa itu pun, teater musikal lebih banyak mendominasi pasar daring. Ini menunjukkan minat terhadap teater musikal yang besar. Bagi Paulus, kondisi industri musik yang terus berkembang seiring dengan minat teater juga membuat peminat seni terpapar dengan keduanya. Pasar musik dan teater hadir sebagai bentuk akselerasi dari seni lainnya.
 
Terlepas dari minat yang dipandang mengalami tren positif, Paulus juga menyoroti masih adanya kendala dalam industri teater. Bolak-balik, pendanaan masih menjadi salah satu kendala yang dihadapi khususnya bagi teater-teater di daerah. Persoalan dana ini menyentuh banyak aspek, mulai dari keterlibatan narasumber untuk riset penceritaan, program latihan, hingga properti yang rumit dan memakan biaya. Padahal, Paulus menilai minat terhadap teater mulai merekah di daerah-daerah.
 
“Dahulu terasa sekali antara daerah dan kota besar jomplang [industri teaternya]. Namun, di daerah sekarang mulai naik, yang saya rasa terjadi karena pengaruh daerah yang banyak menjadi tujuan wisata,” katanya. Bagi kelompok teater amatir, Paulus melihat kecenderungan produksi yang rajin dan mulai ramai mendapat pasar.
 
Sumbangan pemerintah dalam mendorong degup teater di daerah juga dilihat mulai bersemi. Menurut Paulus, beberapa program dari Kementerian terkait tampak berjalan beriringan. Sayangnya, sokongan pendanaan saja tidaklah cukup. Paulus melihat perlunya pemerintah membangun sumber daya dalam menciptakan ekosistem teater yang kuat dari hulu ke hilir.

“Sebab ilmu seni terus berkembang dan sagat dinamis, tiap tahun ada pendekatan melalui jenis musik, alir, hingga set dan properti yang beda,” katanya.
 
Sebagaimana diketahui, Kementerian Pendidikan, Riset, dan Budaya (Kemdikbud RI) menggelontorkan program untuk mengedukasi siswa mengenai kesenian. Salah satu program yang diselenggarakan adalah Seniman Mengajar yang mengajak satu seniman terjun ke daerah tertinggal untuk mengajarkan kesenian.

Meski sudah mengapresiasi langkah ini, Paulus masih memiliki impian untuk mendukung program ini lebih maksimal. “Saya selalu punya mimpi, seniman daerah datang dan membuat teater dari nol di sana. Ini terkait dengan ekosistem dan tidak terbatas event saja,” katanya.

 
Dukungan Penting Bagi Industri Teater

 

Ilustrasi teater (Sumber gambar: Yiran Ding/Unspalash)

Ilustrasi teater (Sumber gambar: Yiran Ding/Unspalash)


Co-Artistic Director Papermoon Puppet Theatre Maria Tri Sulistyani  atau Ria Papermoon menjelaskan, dukungan pemerintah ke daerah juga  kian terasa. Papermoon Puppet Theater, sebuah teater boneka yang berbasis di Yogyakarta selama 18 tahun  menerima dorongan yang kian besar.

Ria menjelaskan, dukungan terhadap seniman kontemporer yang banyak melakukan eksperimen di dunia seni kini mulai berimbang dengan dukungan terhadap seni-seni tradisi.

“Dalam 10 tahun terakhir, mulai terasa ada dukungan besar bagi seniman kontemporer dalam hal peluang, akses ke hibah dan dana, hingga dukungan untuk undangan-undangan ke luar negeri juga sistemnya sudah dipersiapkan dengan baik,” katanya.
 
Dari skala pusat hingga daerah, Ria berpendapat harusnya ekosistem teater bisa dibangunlebih kencang. Dukungan-dukungan yang sudah ada harusnya tidak terbatas pada event dan bantuan dana, melainkan dalam hal literasi dan pendidikan juga.

“Saya punya impian di mana siswa di Indonesia per kelasnya minimal satu bulan sekali menonton pertunjukan. Aktivitas itu ‘bolong’ sekali. Padahal menikmati pertunjukkan itu penting sekali untuk melatih apresiasi sejak dini,” katanya.
 
Menurut Ria, pemerintah perlu mendorong kebiasaan masyarakat sejak dini untuk mengapresiasi pertunjukkan. Sebab, seni pertunjukkan penting dalam menumbuhkan rasa hingga menguatkan sense artistik. “Menarik sekali jka pemerintah bisa memasukan program-program ini dalam kurikulum. Karena audience development sendiri memang masih jarang dibicarakan dalam forum-forum seni pertunjukan,” katanya.
 
Menurut Ria, pemerintah bisa memanfaatkan cultural center atau taman budaya yang hampir dimiliki tiap-tiap provinsi. Program ini tidak hanya memacu sense seni siswa, tetap juga menghidupkan seniman-seniman lokal atau daerah. “Jadi tidak terbatas pada seniman mengajar ke sekolah, tapi kita tumbuhkan sense curious, experience, dan apresiasi mereka terhadap seni,” katanya. Ria menyebut, perspektif mengenai audiens pertunjukan masih belum banyak dijamah.

“Kebijakan pemerintah bisa menyentuh banyak aspek dari segi pendidikan hingga bantuan ke senimannya sendiri. Karena kalau seniman sendiri yang bergerak kan sulit sebab keterbatasan akses. Dukungan pemerintah memulai kebijakan tentu sangat memudahkan,” kata Ria.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

Editor: Nirmala Aninda

SEBELUMNYA

Mikael Jasin Sabet Gelar Juara dalam Ajang World Barista Championship 2024

BERIKUTNYA

Marak Anak-anak Main Gim Berkonten Kekerasan, Pemerintah Diminta Tindak Tegas

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: