Sebuah Kuil Shinto Di Kota Kawagoe, Jepang (Sumber: unsplash.com/@thirdcultureken)

Kenali 3 Perbedaan Kuil Buddha dan Shinto di Jepang yang Terkenal dengan Jimat Omamori

30 April 2024   |   16:04 WIB
Image
Arindra Fachri Satria Pradana Mahasiswa Mass Communication BINUS University

Saat berlibur ke Jepang, Genhype kemungkinan besar akan menemukan kuil tradisional, baik dari agama Buddha atau Shinto. Meski terlihat mirip, kuil-kuil ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan dan perlu diketahui sebelum memasuki bangunan-bangunan suci tersebut.

Sebelum membahas perbedaan dari kedua kuil tersebut, pertama kita harus mengetahui asal usul dari Agama Shinto dan Buddha. Kedua agama ini memiliki dampak yang cukup besar pada budaya dan sejarah masyarakat lokal.

Agama Shinto dapat disebut sebagai agama asli Jepang yang dipraktikkan sejak abad ke-8 dalam kultur Yayoi. Menurut World History Encyclopedia, Shinto dapat diartikan sebagai Jalan Para Dewa, karena penganut kepercayaan ini menyembah dewa, roh, kekuatan supernatural, dan esensi yang dikenal sebagai Kami.

Baca juga: Menarik dan Ikonik, Berikut 4 Festival Musim Semi di Jepang

Kami mengatur alam dalam segala bentuknya dan diyakini menghuni tempat-tempat sakral dengan keindahan alam tertentu. Beberapa pelajaran kunci dari Shintoisme meliputi kemurnian, keharmonisan, rasa hormat terhadap keluarga, dan subordinasi individu terhadap masyarakat. Selain itu, agama ini berbeda dari agama lain karena tidak memiliki pendiri atau kitab suci.

Jika Shinto adalah agama tertua di Jepang, Buddha adalah salah satu agama tertua di dunia yang dimulai sejak 2.500 tahun yang lalu di India menurut National Geographic. Penganut agama ini percaya bahwa kehidupan manusia adalah  siklus penderitaan dan kelahiran kembali. Namun melalui meditasi, pekerjaan spiritual dan fisik, serta perilaku baik umat manusia dapat mencapai pencerahan.

Nah, setelah mengetahui asal-usul kedua agama tersebut, apa saja perbedaan dari kuil-kuil suci yang ada di Jepang? Simak tiga perbedaan kuil Buddha dan kuil Shinto di Jepang yang dirangkum dari berbagai sumber.
 

1. Fungsi & Tujuan Kuil

Tujuan utama didirikanya sebuah Kuil Shinto adalah mengirimkan doa dan persembahan kepada satu atau lebih Kami. Dengan melakukan praktik keagamaan ini, kuil Shinto akan menyucikan dan melindungi masyarakat sekitar dari roh-roh jahat. Selain itu, kuil Shinto kerap mengadakan berbagai festival sepanjang tahun dan sering digunakan untuk acara pernikahan.

Adapun kuil Buddha didedikasikan terhadap Buddha dan ajarannya, Dharma. Penduduk setempat yang beragama Buddha akan datang untuk bermeditasi, melantunkan mantra, dan mempelajari Dharma untuk mencapai kedamaian lahir dan batin. 


2. Arsitektur & Ornamen Kuil

Menurut Japan Guide, terdapat enam struktur utama yang dimiliki oleh sebagian besar kuil Buddha, yaitu aula utama, Kodo, pagoda, gerbang Sanmon, lonceng, dan kuburan. 

Aula utama adalah tempat dipajangnya benda-benda suci seperti patung Buddha. Kodo berfungsi sebagai ruang belajar dan meditasi, dan pagoda dibangun untuk melestarikan dan melindungi peninggalan dan artefak Buddha.

Adapun kuil Shinto ditandai dengan Torri, gerbang kayu atau batu yang menandai peralihan dari hal biasa ke hal sakral. Di dekat pintu masuk kuil, terdapat Chozuya atau tempat penyimpanan air yang digunakan untuk menyucikan diri sebelum memasuki kuil. 

Terdapat dua bagian dari kuil Shinto, Haiden atau tempat berbagai upacara berlangsung, dan Honden,  bangunan tertutup yang didedikasikan bagi para Kami dan benda-benda yang melambangkannya.


3. Omamori 

Saat berkunjung ke kuil Shinto dan kuil Buddha di Jepang, Genhype dapat membeli Omamori, alias jimat suci yang dipercaya dapat melindungi pemiliknya. Melansir dari University of Illinois Urbana-Champaign, kekuatan dari Omamori Shinto berasal dari Kami yang diabadikan dalamnya dan disebut sebagai Goshintai. 

Baca juga: 4 Filosofi Jepang untuk Menciptakan Hidup yang Lebih Tentram

Sedangkan Omamori dalam Agama Buddha dapat dianggap sebagai Gohonzon dengan ukuran kecil. Gohonzon sendiri adalah istilah umum untuk benda-benda suci yang dihormati dalam Agama Buddha di Jepang, karena dianggap sebagai alat untuk pertumbuhan spiritual.

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Ketahui 6 Jenis Facial Treatment Untuk Berbagai Jenis Permasalahan Kulit

BERIKUTNYA

Hasil Timnas Indonesia vs Uzbekistan 0-2, Drama VAR Anulir Gol & Kartu Merah

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: