Ilustrasi penggunaan headphone pada anak (Sumber gambar: alireza attari/Unsplash)

Jaga Kesehatan Pendengaran Anak, Begini Cara Penggunaan Audio yang Bijak

16 April 2024   |   07:30 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Usia anak masuk dalam kategori dengan faktor risiko gangguan pendengaran di dunia. Dari data Badan Kesehatan Dunia (WHO), tercatat 32 juta anak-anak dari 360 juta orang di dunia hidup dengan gangguan pendengaran. Padahal, 60 persen dari kasus gangguan pendengaran dapat dicegah sejak masa kanak-kanak.

Terdata sekitar 1,1 miliar orang dengan rentang usia 12-35 tahun di seluruh dunia juga memiliki masalah pada pendengaran. Karena anak-anak menjadi salah satu dari kelompok dengan faktor risiko gangguan telinga, orang tua juga perlu bijak dalam mengawasi penggunaan audio anak.

Baca juga: Cara Menggunakan Perangkat Audio yang Aman bagi Kesehatan Telinga

Dokter Spesialis THT-KL RS Metropolitan Medical Centre (MMC) Anggina Diksita Pamasya mengatakan, anak-anak disarankan untuk menggunakan perangkat dengan fitur batasan volume yang dapat diatur langsung dari perangkat seperti TWS dan headphone.

“Jadi kita bisa jaga anak kita dengan pembatasan volume. Di beberapa perangkat sudah ada. Kita juga bisa pantau apakah ada suara yang terdengar keluar, artinya volumenya sudah kebesaran,” ujarnya.
 
Anggini menyebut belum ada literatur khusus yang menyatakan batas usia anak-anak dalam menggunakan perangkat audio. Selagi anak-anak sudah mampu bertanggung jawab menggunakan perangkat audio, Anggini menyebut orang tua bisa memperbolehkannya dengan catatan tetap memantau penggunaannya secara bijak.
 

Ilustrasi penggunaan headphone pada anak (Sumber gambar: alireza attari/Unsplash)

Ilustrasi penggunaan headphone pada anak (Sumber gambar: alireza attari/Unsplash)


Memantau penggunaan audio sejak usia dini berperan besar dalam membantu merawat kesehatan telinganya hingga dewasa. Dokter Spesialis THT Bedah Kepala dan Leher Konsultan Otologi  RS Pondok Indah Rangga Rayendra Saleh mengatakan, penting bagi orang tua mengawasi kesehatan pendengaran anak. Sebab, indra pendengaran merupakan gerbang awal masuknya informasi bagi anak.
 
Gangguan pendengaran pada anak tentu akan berpengaruh besar dalam aspek komunikasi dan sosialisasi anak di masa pendidikannya.

“Biasanya anak dengan gangguan pendengaran juga mengalami terlambat bicara, speech delay, dan gangguan kognitif. Bahkan untuk terapi bicara pun, harus dipastikan fungsi pendengarannya normal dahulu supaya terapi lainnya bisa berjalan efektif,” kata  Rangga.
 
Rangga mengatakan, gangguan pendengaran termasuk dalam jenis silent disability dimana gangguannya tidak terlihat jelas alias samar, utamanya pada anak-anak. Pada kasus gangguan pendengaran pun, anak-anak masih bisa beraktivitas seperti biasa, sehingga memang diperlukan skrining dan deteksi gangguan pendengaran.

Tingkat kebisingan dengan intensitas desibel yang tinggi tentu akan mendorong rasa tidak nyaman. Sebab, tiap individu memiliki batas toleransinya masing-masing terkait level kebisingan. Namun pada anak-anak, intensitas dan durasi paparan terhadap kebisingan tentu lebih sensitif. Misalnya untuk paparan audio setingkat 95 desibel, sebaiknya tidak didengarkan dalam waktu lebih dari 2 jam.
 
Selain  itu, orang tua juga bisa melihat tanda gangguan telinga pada anak dengan memperhatikan respon anak saat orang tua berinteraksi, serta melihat perkembangan milestone anak. “Perhatikan pada 3 bulan pertama karena bayi sudah bisa merespon rangsang bunyi, pada 6 bulan juga bayi biasanya sudah bisa babbling,” kata Rangga.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

Editor: Nirmala Aninda

SEBELUMNYA

Instagram Bikin Kebijakan dan Fitur Baru Terkait Konten Dewasa & Seksual

BERIKUTNYA

Viral Turis Rusak Pohon Sakura di Jepang, Simak Etiket yang Benar Berikut Ini

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: