Pelawak dan Pendiri Lenong Rumpi Harry de Fretes berpose seusai wawancara dengan Hypeabis di Jakarta, Kamis (15/2/2024). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Himawan L Nugraha)

Eksklusif Harry de Fretes: Lika-liku Lenong Rumpi dan Upaya Menjaga Eksistensi Budaya Betawi

02 April 2024   |   21:45 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Dari balik set rumah Betawi bercorak kuning dan hijau, sesekali Harry de Fretes mengintip ke arah luar. Dari celah-celah pintunya itu, senyumnya terlihat mengembang. Set panggung pertunjukan lenong yang digelarnya di Mbloc Space, Jakarta Selatan, sore itu rupanya masih memantik banyak orang untuk datang.

Pada usianya yang menginjak kepala lima, sang pendiri Lenong Rumpi itu kembali berpentas. Harry masih membuktikan kesetiannya bersama kesenian yang telah membesarkan namanya lebih dari tiga dekade lalu.

Semangat berkeseniannya masih tinggi. Di tengah disrupsi budaya yang makin menjadi, tekadnya untuk terus melestarikan kesenian asal Betawi tersebut tak pernah benar-benar luntur. 

Baca juga: Eksklusif Lola Amaria: Cerita di Balik Pembuatan & Penayangan Film Eksil

Sore itu, Harry membawa lakon baru bertajuk Meo dan Iyet. Menggandeng talenta-talenta muda, pentas yang diberi nama Lenong Jaman Now ini ingin hadir bukan hanya sebagai hiburan, melainkan penanda eksistensi dari kesenian yang belakangan makin jarang muncul di publik.
 

Seniman Betawi Harry de Fretes (tengah) menampilkan drama lenong berjudul Meo & Iyet di Jakarta, Sabtu (23/3/2024).

Seniman Betawi Harry de Fretes (tengah) menampilkan drama lenong berjudul Meo & Iyet di Jakarta, Sabtu (23/3/2024). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Himawan L Nugraha)


Harry menyadari kesenian lenong memang seolah makin terpinggirkan. Namun, bukan berarti lenong telah ditinggalkan. Dengan pentas-pentas seperti inilah lenong bisa eksis dan bukan tidak mungkin bisa menjaring banyak penikmat barunya lagi, seperti yang terjadi pada 1990-an.

Dekade 90-an adalah waktu yang istimewa bagi lenong. Pagelaran ini selalu ditunggu-tunggu banyak orang. Pada era itu, Harry bersama kelompoknya bernama Lenong Rumpi juga mencapai masa-masa emas.

Dianggotai Debby Sahertian, Ira Wibowo, Titi DJ, Robby Tumewu, Jimmy Gideon, Ade Juwita, Inggrid Widjanarko, grup ini bahkan menjelma menjadi legenda baru lenong. Berawal dari pentas panggung ke panggung, Lenong Rumpi mulai masuk ke televisi, membintangi iklan, hingga membuat filmnya sendiri.

Namun, di tengah puncak karier, sesuatu terjadi. Lenong Rumpi tak lagi tayang di televisi setelah menjadi program komedi yang meledak. Perlahan, kesenian lenong pun tak lagi jadi sorotan.

Kepada Hypeabis.id, Harry de Fretes berbicara mengenai awal mula kecintaannya pada dunia lenong, pertemuannya dengan para anggota Lenong Rumpi, hingga kondisi kesenian Betawi saat ini. Berikut petikan wawancaranya:

 
Pelawak dan Pendiri Lenong Rumpi Harry de Fretes berpose seusai wawancara dengan Hypeabis di Jakarta, Kamis (15/2/2024). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Himawan L Nugraha)
Boleh diceritakan masa kecil Anda dan bagaimana awal mula mulai menyukai lenong?

Masa kecil saya itu nomaden. Saya cukup sering berpindah-pindah karena ayah saya bekerja di perusahaan minyak, sehingga kerap berpindah-pindah tempat tugas. Saya melewati masa SD itu di kota Bogor. Dari SD ini sebenarnya saya mulai suka hal-hal berbau kesenian.

Lalu, masa SMP saya dihabiskan di Balikpapan. Di sini, karena cukup enak kotanya, saya jadi lebih suka belajarnya malah, beberapa kali juara kelas. Dari situ, saya mulai terpikir saya ingin melanjutkan studi di Jakarta.

Ternyata benar, saya keterima di SMA 3 Setiabudi Jakarta.  Dari sinilah, saya kemudian mulai kenal dengan Swara Maharddhika (kelompok seni yang didirikan pada 1977 oleh putra bungsu Presiden pertama RI, Soekarno).

Saya merasa kelompok ini cukup banyak mengubah cara pandang saya melihat dunia seni dan hiburan. Di situ, saya juga mulai kenal dengan beberapa pesohor, dari Titi DJ, Deni Malik, hingga almarhum Chrisye.

Di Swara Maharddhika ini kebetulan saya itu lebih sering jadi pengurus, orang yang  di balik panggung, yang mengurusi bagaimana mereka berpentas. Saya akhirnya belajar tentang hal teknis, dari kontrak, pemain yang akan pentas, dan sistem manajemen tampil.

Kapan akhirnya mulai tercetus membuat Lenong Rumpi?
Karena sudah cukup mengerti dunia hiburan, pada 1989 saya mulai tergerak ingin membuat grup seni sendiri. Waktu itu yang kepikiran adalah grup lenong karena saya memang menggemari lenong.

Saat itu lenong itu belum masuk televisi. Lenong masih jadi kesenian jalanan. Namun, aku mikir ini sebenarnya bisa lebih. Akhirnya, berbekal jejaring di Swara Maharddhika, saya mulai ajak orang-orang di sana.

Waktu itu pentas internal dahulu, masa-masa awal ini ada Deni Malik, Memes, dan senior-senior lain. Pentas pertama itu di hari ulang tahun Mas Guruh (putra bungsu Presiden pertama RI, Soekarno). Ternyata acaranya sukses dan menghibur.

Di acara itu ternyata juga ada promotor yang lihat. Akhirnya ditawari untuk tampil lagi di panggung yang lebih besar dengan penonton umum. Saya waktu itu modal pede aja bilang mau.

Ternyata ketika saya bilang ke teman-teman lain, mereka bilang “ih lu aja kali, gue mah enggak hahaha”. Saya bingung awalnya karena teman-teman awal ini rupanya hanya mau pentas internal.

Akhirnya, saya coba hubungi teman dan relasi lain yang di luar Swara Mahhardhika. Satu per satu itu saya hubungi, dari Debby Sahertian, Robby Tumewu, dan teman-teman lainnya.

Akhirnya munculah kita di panggung dengan penonton umum untuk pertama kali. Waktu itu dapat pentas di daerah Kuningan. Ternyata pentas itu sukses juga dan kebetulan ada wartawan yang datang dan menuliskan Lenong Rumpi sebagai sajian lenong yang unik dan baru yang dimainkan oleh selebritis Jakarta.

Dari situ, tawaran pentas mulai banyak karena makin banyak pula yang sudah kenal. Gongnya adalah di Oriental Diskotik. Saat itu salah satu penontonnya adalah produser RCTI.

Tawaran masuk televisi itu muncul setelah berapa lama?
Kita tentu tidak langsung terkenal dan masuk televisi. Kita awalnya tetap pentas dari panggung ke panggung dulu. Ya, sekitar dua tahunan sampai kemudian mulai dilirik televisi

Pada awalnya tidak langsung diterima di televisi. Kami disuruh tes terlebih dahulu. Kami pun akhirnya jalanlah ke studio televisi. Awalnya sudah senang karena dipikirnya akan langsung lolos dan jadi program.

Rupanya, semua rencana itu buyar. Entah kenapa semua lelucon yang sudah disiapkan itu sama sekali enggak bikin para produser ketawa. Setelah tes, muka para produser juga pada jutek. Kami akhirnya cukup pesimis.

Akan tetapi, pada minggu ketiga, kami dipanggil lagi untuk tes. Di tes kedua ini, para lelucon kami mulai masuk. Produser pada tertawa. Ternyata, tes pertama itu mereka berstrategi untuk tidak ketawa, untuk tes kami aja. Barulah yang kedua semuanya lepas. Kami lalu ditawari program.

Saya tentu senang banget karena saya itu penggemar lenong dan akhirnya lenong bisa masuk televisi lagi. Kami merasa saat itu melanjutkan apa yang sudah dimulai legenda lenong sebelumnya, seperti Bokir, Mpok Siti, Nasir, Anen, dan lainnya.
 

Pelawak dan Pendiri Lenong Rumpi Harry de Fretes berpose seusai wawancara dengan Hypeabis di Jakarta, Kamis (15/2/2024). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Himawan L Nugraha)

Yayasan Lenong Rumpi Jakarta, Mitra Seni Indonesia, dan Bamus Betawi menggelar acara Lenong Jaman Now, Meo & Iyet dengan sutradara Harry De Fretes (kanan) dalam rangka ngabuburit atau menjelang buka puasa di Jakarta, Sabtu (23/3/2024). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Himawan L Nugraha)


Ketika sudah masuk televisi, panggung offline masih berjalan?
Kami jalanin itu dua-duanya. Karena syuting di televisi rupanya cukup fleksibel. secara produksi, kita itu syuting tiga hari saja buat bikin 13 episode. Ya, ini kan jadi efisien. Selain praktis buat si televisi, kami juga bisa mengambil job off air lain.

Jadi, di luar tiga hari itu, Lenong Rumpi bisa tetap ambil kerjaan offline lain. Ini yang membuat Lenong Rumpi juga akhirnya cukup mengakar karena tidak hanya di televisi, tetapi juga di jalanan. Bahkan, dalam masa-masa itu, kami pernah satu hari mendapat tiga pentas. Satu pentas pagi, siang, lalu malam.

Bagaimana proses kreatifnya sebelum pentas, baik di televisi dan panggung offline?
Sebagai pemain dan sutradara, dua panggung ini lebih banyak dieksekusi oleh saya di sisi kreatifnya. Adapun anggota Lenong Rumpi lain lebih banyak terlibat sebagai aktor panggung, meski beberapa kali mereka juga membantu dari sisi cerita.

Sebelum syuting dimulai, dirinya akan menyodorkan sebuah cerita dalam bentuk sinopsis dan gambaran alurnya. Berbekal sinopsis tersebut, para anggota Lenong Rumpi pun mulai berlatih. Namun, sebenarnya semua yang terjadi di Lenong Rumpi adalah sebuah spontanitas.

Dari sinopsis dan gambaran alur sederhana, para pemain akan merangkai sendiri naskah ceritanya. Cara ini dipilih agar komedi yang tercipta benar-benar menggelitik dan alami. Sebab, jika semua hal dikonsepkan di awal, justru para pemain bisa jadi kaku dan sangat terpaku pada naskah.

Dengan pola seperti ini, tektokan para pemain menjadi kunci mengalirnya sebuah pertunjukan. Di titik inilah, saya menyadari kalau komedian sebenarnya adalah orang-orang yang pintar. Mungkin, apa yang dilakukannya di atas panggung bisa terlihat sebuah hal yang bodoh, tetapi dari tawa penonton yang muncul, ada kecerdasan dari si komedian tersebut.

Bisa dibilang anggota Lenong Rumpi punya ruang yang besar untuk mengeksplorasi naskah. Terkadang para pemain juga saling berdiskusi tentang apa yang akan dilakukannya. Jadi meski ada sebuah ruang bebas yang diciptakan, komedi ala Lenong Rumpi bisa lebih terarah dan terstruktur dengan sendirinya lewat obrolan-obrolan tersebut. 

Pengalaman para pemain ketika di panggung off air juga turut membentuk kematangan komedi mereka di layar kaca. Hal ini berimbas pada acara televisi yang sangat disukai oleh penonton Indonesia saat itu.

Ide cerita naskah biasanya terinspirasi dari mana?
Saya kadang melakukan riset kecil-kecilan. Dalam minggu-minggu tertentu, saya sengaja pergi ke tempat yang jauh dengan menggunakan transportasi umum. Dari situ, saya mendengar dan melihat secara langsung kondisi sosial yang ada.

Pengalaman tersebut kemudian diramu menjadi sebuah sinopsis dan makin mempertajam kekuatan lenong sebagai kesenian yang mampu menceritakan kehidupan sehari-hari masyarakat secara nyata.

Berbeda dari lenong sejenis pada zamannya, saya juga sengaja membuat cerita lenong memungkinkan kehadiran karakter lain dari luar Betawi.

Dalam lakon Arisan Nusantara misalnya, saya memasukkan unsur Papua, Manado, Jawa, Padang, bahkan China ke dalam Lenong Rumpi. Hal ini membuat terciptanya asimilasi budaya sehingga disukai lebih banyak orang.

 
Pelawak dan Pendiri Lenong Rumpi Harry de Fretes berpose seusai wawancara dengan Hypeabis di Jakarta, Kamis (15/2/2024). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Himawan L Nugraha)
Apa yang membuat Lenong Rumpi berhenti tayang di televisi?
Lenong Rumpi itu masuk televisi dari 1990 sampai 1992 akhir. Jadi, sekitar tiga tahun. kita menandai kontrak 2 kali 52 episode. Sama ada satu kontrak lagi sebenarnya, tetapi baru setengah jalan Lenong Rumpi disetop.

Diberhentikan dalam artian kontraknya tidak dilanjutkan ya. Alasannya karena saya waktu itu ikut kampanye praktis PDI yang diajak mas Guruh. Era itu kekuasaan Orde Baru itu lagi kencang-kencangnya.

Waktu itu memang ada beberapa yang lain yang datang. Tapi mungkin karena itu Lenong Rumpi lagi tinggi penontonnya dan saya muncul di sana, jadi sorotannya adalah ke saya. Dua minggu setelahnya, akhirnya pihak televisi memutuskan kontrak saya.

Banyak memang yang bilang dan menyayangkan hal itu. Akan tetapi, saya merasa itu tidak untuk disesali. Ini adalah bagian dari kehidupan berbangsa.

Jalan ceritanya memang seperti itu dan sampai sekarang masih banyak yang tanya juga sih. Kenapa kok Lenong Rumpi kayak tiba-tiba hilang dan itulah jawabannya.

Waktu itu, sebenarnya tidak langsung benar-benar berhenti. Panggung offline masih jalan. Film juga masih satu kali tayang. Namun, setelah itu, ya bagaimana ya, stigma itu cukup menganggu.

Pada 2016 Anda memilih menutup buku Lenong Rumpi dan menjadikannya yayasan, apa latar belakangnya?
Ya, pada 2016 itu saya bikin perayaan 25 tahun Lenong Rumpi. Hari itu juga jadi tanda kalau Lenong Rumpi resmi ditutup dan tidak akan lagi muncul sebagai grup pangung. Sekarang Lenong Rumpi sudah berbentuk yayasan. Kami masih ada, tetapi bergerak di bidang sosial kemasyarakatan.

Salah satu alasannya adalah sudah ada beberapa personel yang meninggal dunia. Beberapa personel lain juga sudah fokus pada bidang barunya, ada yang ke film, musik dan sebagainya.

Ya sudah, daripada kemudian dipaksakan memang tidak akan pernah jadi juga. Saya pernah mencoba untuk menggantikan dengan personel lain misalnya, tetapi juga sulit. Namanya chemistry itu tidak bisa dipaksakan. Jadi, biarkan itu jadi kenangan manis saja.

Apa mimpi baru setelah jadi yayasan?
Jujur, belum terlalu banyak juga yang bisa dilakukan. Namun, semoga ke depan yayasan Lenong Rumpi bisa lebih berkiprah ke depan. Sekali pun bukan sebagai grup panggung lagi, tetapi kami tetap ingin jadi bagian pelestarian budaya.

Yayasan ini mungkin lebih kepada mendukung kegiatan kesenian, khususnya lenong. Beberapa waktu lalu, kita juga membuka lomba lenong untuk pelajar. Jadi, supaya generasi muda ini mau menggeluti lenong dan kebudayaan lenong dan Betawi secara umum.

Jadi, saya merasa Lenong Rumpi ini sudah di tahap payback. Kalau dulu kita lebih banyak menerima, sekarang kita ingin mengembalikannya kepada kemajuan kesenian betawi.
 

Seniman Betawi Harry de Fretes (tengah) menampilkan drama lenong berjudul Meo & Iyet di Jakarta, Sabtu (23/3/2024). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Himawan L Nugraha)

Yayasan Lenong Rumpi Jakarta, Mitra Seni Indonesia, dan Bamus Betawi menggelar acara Lenong Jaman Now, Meo & Iyet dengan sutradara Harry De Fretes (kiri) dalam rangka ngabuburit atau menjelang buka puasa di Jakarta, Sabtu (23/3/2024). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Himawan L Nugraha)


Hubungan dengan para anggota Lenong Rumpi lain masih baik?
Ya, kita masih bersahabat. Kita masih tergabung dalam WA grup yang sama. Memang sudah tidak banyak juga karena sudah banyak yang meninggal juga. Kita masih saling berkabar, mengucapkan selamat ulang tahun, dan lainnya.

Bagaimana Anda melihat kesenian lenong saat ini? Apa harapannya?
Ya, begitu ya. Sudah cukup jarang. Walaupun sebenarnya tidak benar-benar ditinggalkan. Ketika saya live streaming sebenarnya banyak juga yang meminta kesenian lenong ini untuk terus ada lagi.

Jadi, kerinduan pada lenong sebenarnya masih besar sekali. Untuk itu, saya baru-baru ini juga membuat lenong baru dengan nama Lenong Zaman Now dengan mengambil lakon Meo dan Iyet. Meo dan Iyet ini adalah pelesetan dari Rome dan Juliet. 

Baca juga: Eksklusif Sutradara Joko Anwar: Siksa Kubur Bukan Sinema Dakwah atau Film Setan

Dengan menggandeng talenta-talenta muda, saya berharap grup ini bisa terus melestarian kesenian Lenong. Nanti akan ada pentas besar di Juni dalam rangka Ulang Tahun Kota Jakarta. Selain akan pentas, pihaknya juga membuat single baru dengan nama yang sama, yakni Meo dan Iyet. 

Editor: Fajar Sidik 

SEBELUMNYA

Art Jakarta Gardens 2024, Perayaan Patung di Ruang Publik Segera Digelar

BERIKUTNYA

Kiat Kelola THR Sebagai Investasi untuk Membeli Rumah Idaman

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: