Ilustrasi sumber air bersih. (Sumber gambar : Rawpixel/Freepik)

Mengenal Komunitas Resan, Penjaga Sumber Air di Gunungkidul

28 March 2024   |   19:00 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Menjaga sumber air bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Sejumlah inisiatif seperti komunitas pun belakangan muncul untuk melakukan konservasi demi tersedianya air bersih yang bisa dinikmati secara gratis. Salah satunya datang dari Resan Gunungkidul.

Komunitas Resan menjalankan beberapa program konservasi seperti membuat Rumah Bibit Resan (RBS), lalu melakukan pembibitan dan penanaman pohon resan. Kemudian, membuat manuskrip tentang sejarah sumber atau mata air di wilayahnya, serta melakukan sosialisasi ke masyarakat sekitar.

Baca juga: Ancaman Krisis Air Bersih Kian Nyata di Indonesia

Pegiat Komunitas Resan Gunungkidul Edi Padmo menyampaikan pihaknya turut melakukan normalisasi terhadap sumber atau mata air. Mereka mengajak masyarakat sekitar untuk peduli terhadap sumber kehidupan ini “Kami bersihkan. Rata-rata sumber atau mata air ini terbengkalai. Terkadang teruruk, kita gali kembali, kita temukan kembali,” ujarnya saat berbincang dengan Hypeabis.id beberapa waktu lalu.
 

Dia menilai permasalahan sumber air di tiga zona Gunungkidul, yakni wilayah utara, tengah, dan selatan memiliki kompleksitas masing-masing. Salah satu yang sering menjadi sorotan yakni zona Gunungkidul Selatan yang dekat dengan pantai. 

Edi menyebut daerah ini mayoritas terdiri dari batuan kapur berpori alias karst. Sistem hidrologi kawasan karst terbilang memiliki karakter unik. Permukaannya terlihat tandus dan kering, namun sumber air terbesar ternyata berada di bawah tanah. “Airnya banyak tetapi di dalam, di atas angka 100 meter,” terangnya.

Sumber air permukaan kawasan karst memang sangat terbatas. Pada sistem air permukaan, terdapat sumber air yang bernama telaga. Baik yang alami maupun buatan, ada ratusan telaga di Kabupaten Gunungkidul, mayoritas berada di kawasan selatan. 

Kendati demikian, fungsi telaga kini sudah berubah dan kerap kali terbengkalai. Hal ini terjadi karena semakin mudahnya masyarakat mendapatkan air bersih hasil dari komersialisasi.

Edi mengungkapkan pola pikir masyarakat berubah terhadap air. Mereka lebih menyukai air ‘instan’. Tinggal membayar, untuk mendapatkan air untuk aktivitas harian, bahkan ketika kualitas air komersil menurun ketika musim hujan. “Mindset masyarakat berubah. Sumber air dulu dijaga karena sumber kehidupan. Ketika berubah mindset, banyak sumber air terabaikan, akhirnya terbengkalai,” tegasnya.

Memang dilematis. Meskipun kebutuhan air bersih yang cepat menjadi solusi, setidaknya menurut Edi sumber air harus tetap terjaga. Sebab, krisis air bisa saja datang tiba-tiba di tengah masalah iklim yang semakin buruk. 

Ketersediaan sumber air tidak selalu berpangku tangan kepada pemerintah. Cadangan air bawah tanah harus tetap terjaga mengingat masih banyak aktivitas yang membutuhkan air secara berkala seperti irigasi di lahan pertanian. Perawatan vegetasi permukaan, termasuk menanam pohon menjadi penting untuk tangkapan air hujan. 

Ketika tidak terjaga, bibit air bawah tanah bisa menurun. Kala kemarau datang, sungai bawah tanah pun akan mengering dan menjadi bencana bagi manusia itu sendiri.

Baca juga: Langkah Sederhana Menjaga Krisis Air

Editor: Dika Irawan

SEBELUMNYA

Waduh 40 Persen Sungai di Indonesia Diperkirakan Tercemar, Wilayah Ini Paling Parah

BERIKUTNYA

RRQ Lemon Comeback & Siap Membawa Angin Perubahan bagi Tim

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: