Scuderia Ferrari SF-21 Dengan Sponsor Mission Winnow (Sumber: missionwinnow.com/en/scuderia-ferrari/)

3 Sponsor Teraneh dan Penuh Kontroversi di Formula 1

18 March 2024   |   14:14 WIB
Image
Arindra Fachri Satria Pradana Mahasiswa Mass Communication BINUS University

Like
Sebagai ajang balapan bergengsi dunia, Formula 1 menjadi sebuah medan bisnis dengan perputaran uang yang sangat besar. Terdapat berbagai sumber pendapatan yang membuat ajang balapan ini menjadi ladang bisnis yang menjanjikan, salah satunya adalah dari sponsor.

Ajang balapan Formula 1 yang menjanjikan untuk promosi ini pun menjadi rebutan para sponsor untuk melakukan branding. Bahkan, beberapa sponsor tersebut terkadang bersifat aneh dan menimbulkan berbagai kontroversi. 

Baca juga: F1 Manager 2022 Resmi Rilis, Begini Sensasi Jadi Manajer Tim Balap di Lintasan Formula 1

Melansir dari Sport Business, Formula 1 (F1) sukses menghasilkan lebih dari $445 juta pendapatan sponsor pada 2023 lalu, yang peningkatan sebesar 18,9 persen dari 2022. Dengan angka sebesar ini, tentunya sponsor sangat berperan penting untuk keberlangsungan seri balap secara keseluruhan, dan bagi para tim yang bertanding.

Jika sebuah tim F1 ingin beroperasi layaknya sebuah mesin yang tarikannya halus dan lancar, mereka butuh dukungan sponsor sebagai pelumasnya. Tim F1 akan mengalokasikan dana sponsor itu ke beberapa hal seperti penelitian dan pengembangan, manufaktur sparepart, kebutuhan logistik, gaji pembalap dan kru, serta biaya operasional setiap balapan. 

Dapat dikatakan bahwa tim-tim F1, terutama yang sedang berjuang, sangat menyambut baik dan berkolaborasi dengan merek manapun dari berbagai industri. Meskipun demikian, mereka tetap harus berhati-hati dengan tujuan sebenarnya dari kolaborasi tersebut, serta mengawasi aktivitas finansial dari merek-merek tersebut.

Jika tidak berhati-hati, maka tim balapan tersebut akan merugi, tak hanya dari segi finansial, tetapi juga berisiko meninggalkan noda buruk pada reputasi mereka. Mulai dari minuman energi 'ghaib' sampai penipuan pangeran Nigeria, berikut adalah 3 sponsor teraneh di Formula 1:


1. Mission Winnow

Sebagai salah satu tim terbesar di Formula 1, Scuderia Ferrari disponsori oleh beberapa nama yang tidak asing seperti Shell, Puma, Richard Mille, dan berbagai nama besar lainya. Namun dalam seri balapan Japanese Grand Prix musim 2018, terdapat sebuah logo hitam yang menyerupai sebuah panah pada livery Ferrari. Ternyata logo tersebut adalah mirip perusahaan bernama Mission Winnow.

Kala itu, nama Mission Winnow masih menjadi pertanyaan yang membingungkan semua penggemar Formula 1, karena mereka tidak mengetahui perusahaan tersebut. Halaman resmi Mission Winnow tidak menjelaskan produk dan jasa yang mereka tawarkan secara detail, sehingga menciptakan skeptisisme dan misteri.

Para penggemar F1 semakin penasaran dan skeptis, karena bagaimana merek dengan identitas yang tidak jelas, dapat mensponsori salah satu tim terbesar di ajang balapan paling populer di dunia.

Namun setelah beberapa saat, publik akhirnya mengetahui identitas Mission Winnow sebenarnya, yaitu perusahaan inisiatif yang didanai Philip Morris International (PMI). Scuderia Ferrari memang sebelumnya pernah berkolaborasi dengan Philip Morris, melalui merek rokok mereka Marlboro, yang menciptakan salah satu livery legendaris dalam sejarah Formula 1.

Namun kolaborasi ini diberhentikan pada 2006, saat FIA (badan regulasi Formula 1), memutuskan untuk melarang sponsor rokok pada livery tim yang berkompetisi, karena desakan dari World Health Organization.

Banyak penggemar F1 yang berspekulasi bahwa Mission Winnow adalah sebuah cangkang untuk menutupi fakta bahwa PMI masih bersangkutan dan ingin mendanai Ferrari secara tidak langsung.

Menguatnya skeptisisme yang menciptakan ketidakpercayaan publik pada Formula 1 dan Ferrari, branding dan sponsorship Mission Winnow untuk Scuderia Ferrari akhirnya dicabut dari semua rangka mobil Formula 1 SF21 Ferrari untuk semua balapan di Uni Eropa musim 2021, mulai dari Grand Prix Prancis. 


2. Rich Energy

Formula 1 memiliki 2 sponsor minuman berenergi, yaitu Red Bull dan Monster. Namun pada musim 2019, Rich Energy mengumumkan bahwa mereka akan menjadi sponsor minuman berenergi ketiga di ajang balap ini, sebagai title sponsor (sponsor terbesar) dari tim HAAS.

Kala itu, HAAS memang dalam posisi yang sangat tidak kompetitif, kerap mengalami kegagalan mekanis, koordinasi strategis yang buruk, dan masalah-masalah lainnya.

Kepala tim HAAS saat itu Guenther Steiner, menerima tawaran sponsor dari Rich Energy karena putus asa, dan berharap uang itu akan membantu mereka bertahan dalam persaingan yang semakin keras untuk timnya. 

Segalanya mulai menurun untuk tim kecil ini, ketika penggemar F1 mempertanyakan legitimisasi bisnis Rich Energy, karena mereka tidak pernah menemukan minuman Rich Energy di mana pun.

Isu itu tidak membuat khawatir  CEO Rich Energy William Storey, yang tiba-tiba mulai melontarkan omong kosong dan hinaan ke tim lain seperti Red Bull. Tak hanya itu, dia mengeklaim perusahaan telah mengakhiri kemitraan tanpa persetujuan dengan HAAS karena kinerja buruk yang kurang memuaskan.

Setelah berbagai masalah dalam F1, Rich Energy menimbulkan berbagai masalah baru di luar dunia balap, seperti digugat denda sebesar $44.500 karena meniru logo manufaktur sepeda, White Bikes. HAAS yang sudah muak dan menyadari bahwa sponsornya membawa lebih banyak kerugian dibanding keuntungan, mengumumkan kolaborasinya resmi berakhir pada 1 Maret 2021.
 

3. T-Minus

Kasus sponsor aneh ini melibatkan seorang bangsawan, yaitu Pangeran Malik Ado Ibrahim dari Nigeria. Dia mendirikan sebuah merek bernama T-Minus, yang didambakan akan menjual minuman berenergi, merchandise, dan produk-produk lainnya termasuk sepeda motor.

Dengan karismanya, Pangeran Ibrahim berhasil membujuk tim Arrows Grand Prix untuk menjadikan perusahaannya sebagai salah satu sponsor.  Namun sampai September 1999, T-Minus tidak tercatat berhasil menciptakan keuntungan yang signifikan.

Mereka juga dianggap tidak memberikan dukungan finansial apapun kepada tim Arrows, karena Pangeran Ibrahim belum menyelesaikan pembelian bagian kepemilikannya dalam tim tersebut. 

Baca juga: 5 Fakta Menarik Formula E Jakarta 2023, Kemenangan Maximilian Hingga Penampilan Alan Walker

Pengurus tim Arrows pun muak dengan kelakuan Pangeran Ibrahim, dan menyebutnya sebagai seorang penipu. Pada akhir musim 1999, Arrows mengumumkan secara resmi bahwa mereka telah memutus hubungan dengan Pangeran Ibrahim dan perusahaannya.

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

5 Rekomendasi Variety Show Idol K-Pop, Run BTS sampai Treasure Map

BERIKUTNYA

Intip Koleksi Busana Serba Putih Spesial Hari Raya dari Sejauh Mata Memandang

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: