Ilustrasi studio musik (Sumber gambar: Flickr/The Blackbird Academy)

Merdunya Bisnis Studio Musik & Olah Rekam Suara

06 March 2024   |   17:00 WIB
Image
Andika Prasetyo Mahasiswa IISIP Jakarta

Like
Maraknya konser musik belakangan ini menjadi angin segar bagi para pelaku usaha, salah satunya adalah bisnis penyewaan studio musik. Selain menjanjikan bagi para pelakunya, bisnis tersebut juga bisa menjadi wadah bagi para musisi/band dalam mengembangkan atau mengasah bakatnya di dunia musik.

Tidak hanya sekedar menyediakan alat musik, saat ini para pemilik usaha pun kian berinovasi dengan menawarkan jasa produksi rekaman rumahan. Meskipun terbilang menjanjikan, untuk memulai bisnis penyewaan studio musik dan produksi rekaman rumahan sangat diperlukannya modal yang cukup besar.

Baca juga: Industri Musik Berkembang Pesat, Candra Darusman: Bermusik Dianggap Profesi yang Menjanjikan

Yos Bonar Singgah (39), selaku owner Amplop Records mengungkapkan, perkembangan industri musik mendorong usaha ini tumbuh. Selain itu, maraknya keinginan menjadi "artis" inilah juga ikut membuka peluang lain, yaitu jasa rekaman.

"Saat itu saya melihat digital recording masih menjadi fenomena karena harga umumnya produksi satu lagu di studio profesional paling murah adalah Rp1 juta, sedangkan Amplop Records membanderolnya dengan Rp120.000 di tahun-tahun awal," ucap Bonar.

Bonar mengawali perjalanannya di bisnis penyewaan studio musik dan produksi rekaman rumahan sejak 2006. Mantan anak band itu, pada awalnya memang sudah tidak asing dengan industri olah rekam suara. Berkat pengetahuan ilmu rekaman musik yang dia miliki, Bonar lantas mendirikan Amplop Records pada 2008.

Awal mendirikan home recording tersebut Bonar harus merogoh kocek sebesar Rp15 juta. Modal tersebut dia gunakan untuk membeli berbagai perlengkapan, seperti komputer, sound card, speaker monitor, mic condenser, gitar, bass beserta effect, stand mic, kabel dan lain sebagainya.

Amplop Records tidak hanya menawarkan jasa sewa perlengkapan. Home recording tersebut juga turut mengerjakan semua bentuk audio visual yang berkaitan dengan musik. Mulai dari jasa perilisan lagu, artwork, music video, sampai dokumentasi audio visual live concert musisi dalam maupun luar negeri.

Tarif yang ditawarkan Amplop Records cukup beragam, mulai dari Rp1,9 juta - Rp2,8 juta. Tarif tersebut sudah termasuk dengan mixing mastering, monetize copyright Youtube, rilis digital platform, dan balancing. Bonar juga menambahkan, untuk paket termurah berkisar di angka Rp650.000 per lagu.

Sejak awal berdiri, Amplop Records mampu memproduksi hingga 8.000 lagu dari berbagai musisi/band dengan genre yang terbilang bervariatif. Hingga saat ini, home recording tersebut mampu memproduksi sekitar 7-15 band/musisi dengan pendapatan berkisar dari Rp4 juta - Rp12 juta dalam sebulannya.

Soal tantangan, menurut Bonar ada pada perkembangan teknologi, yang membuat banyak musisi/band mulai belajar untuk produksi mandiri. Maka dari itu, owner dari Amplop Records tersebut selalu ingin berinovasi agar menjadi wadah yang nyaman dan berkualitas bagi para pelaku terkait.
 

Ilustrasi audio mixer. (Sumber foto: Pexels/Andreu Marquès)

Ilustrasi audio mixer. (Sumber foto: Pexels/Andreu Marquès)

Di tempat lain ada Edho Prabowo (29), eks pegawai BUMN itu banting setir menjadi pengusaha studio rekaman. Edho yang juga mantan anak band, mengawali perjalan bisnis penyewaan studio musik dan produksi rekaman rumahan sejak 2019.

"Karena passion saya bukan kerja kantoran, akhirnya saya memutuskan untuk mendirikan usaha tersebut. Selain itu, saya juga melihat kurangnya studio musik dengan kualitas yang bagus di Jakarta, terutama di daerah tempat saya tinggal," ucap Edho.

Edho lantas mendirikan Goodriff Music Studio, sebagai wadah bagi para musisi yang ingin mengasah bakatnya. Selain studio musik, Edho juga menawarkan jasa produksi rekaman dan pembuatan video klip di YouTube.

Dalam membangun bisnisnya, Edho harus merogoh kocek sebesar Rp100 juta. Modal tersebut digunakan untuk merenovasi ruangan studio, membeli beberapa alat musik dan perlengkapan pendukung lainnya. Dikarenakan Edho yang merupakan mantan anak band, beberapa alat musik seperti drum dan gitar sudah dia miliki sejak SMA.

Sebagai upaya mempromosikan studio musik dan produksi rekaman rumahan miliknya, Edho kerap memanfaatkan berbagai platform media sosial, seperti YouTube, Tiktok, Instagram serta Google My Business. Selain itu, berbagai inovasi juga kerap dia lakukan untuk mempermudah layanan dengan pelanggan.

 "Inovasi yang saya kembangkan adalah dari segi teknologi dalam pemesanan studio. Saat ini, untuk melakukan pemesanan studio sudah full online dengan menggunakan website resmi kami, www.goodriffstudio.com," jelasnya.

Alat-alat musik yang disediakan oleh Goodriff Music Studio terbilang lengkap. Terdiri atas satu set drum, dua gitar elektrik,
bass elektrik, dan keyboard. Menurutnya, hal tersebut dia lakukan untuk mempermudah para pelanggannya sehingga tidak perlu membawa alat musik sendiri.

Tarif yang ditawarkan oleh Goodriff Music Studio sendiri cukup beragam. Untuk penyewaan studio musik, Edho mematoknya dengan kisaran harga Rp90.000/1 jam, Rp150.000/2 jam, Rp225.000/3 jam. Selanjutnya, untuk jasa produksi rekaman maupun jasa pembuatan video klip, Edho mematoknya dengan kisaran harga Rp350.000- Rp850.000 per lagu.

Dalam sebulan, Edho mampu mendapatkan 100-an pelanggan dalam penyewaan studio musik atau produksi rekaman. Hingga saat ini, pria tersebut mampu mendapatkan penghasilan yang cukup besar. Dalam sebulan, Edho mampu meraup omzet lebih dari Rp15 juta.


Wadah bagi musisi/band

Tidak hanya sebagai sumber pendapatan bagi pelaku usahanya, studio musik dan produksi rekaman rumahan juga dapat menjadi tempat untuk berkarya. Selain itu, bisnis tersebut juga dapat menjadi wadah yang penting bagi para musisi/band untuk mengekspresikan kreativitas mereka.

Seperti halnya Mochamad Noviar (32), owner dari Qais Music Studio. Menurutnya, keberadaan studio musik masih banyak dicari oleh para pelaku di industri musik. Mengingat begitu maraknya media sosial yang membuat kebutuhan akan konten musik juga semakin meningkat.

“Dari tahun ke tahun, sosial media seperti Youtube, Tiktok, Instagram dan lain sebagainya masih menjadi andalan bagi para musisi/band untuk menjual atau mempromosikan karyanya,” ucap Noviar.

Selain itu, studio musik juga memiliki peranan penting dalam menunjang eksistensi para musisi/band tersebut. Noviar mengatakan, banyak dari kalangan musisi/band yang membutuhkan wadah untuk mengasah bakatnya dengan kualitas yang bagus, tetapi dengan harga yang relatif murah.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

Editor: Nirmala Aninda

SEBELUMNYA

Rekomendasi Lagu Reggae Indonesia untuk Didengarkan Saat Santai

BERIKUTNYA

5 Fakta Seru Film Kuyang: Sekutu Iblis yang Selalu Mengintai

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: