Anggota Yes Theory saat bertualang keliling Eropa dengan taksi. (Sumber: YesTheory)

Kisah Yes Theory Lampaui Batas untuk Keluar dari Zona Nyaman

03 March 2024   |   20:40 WIB
Image
Arindra Fachri Satria Pradana Mahasiswa Mass Communication BINUS University

Di zaman yang serba instan, terkadang sangat mudah untuk terjebak ditengah kepraktiksan dan kenyamanan. Padahal dengan pola pikir seperti ini, akan lebih rentan untuk mengeluh dan emosional saat dihadapi oleh hal-hal yang tidak nyaman. Inilah hal yang memotivasi terbentuknya brand media digital Yes Theory.

“Dua kata itu telah mengubah jalan hidup kami. Kami menyadari, saat terjun payung bersama orang asing, mengadakan fashion show, dan mendorong diri melampaui batas, bahwa momen terindah dalam hidup dan hubungan bermakna ada di luar zona nyaman kita” tulis Matt Dahlia, salah satu founder dan mantan anggota Yes Theory di laman resmi mereka.

Baca juga: Mau Mengembangkan Keterampilan Digital? Cek Konten-konten dari 3 YouTuber Ini

Inilah yang memotivasi Dahlia serta rekanya Thomas Brag, Ammar Kandil, dan Derin Emre untuk mendirikan Yes Theory pada 2014.

Dari awal grup ini terbentuk, mereka sudah terletak di zona yang sangat tidak nyaman. Mereka berbagi apartemen satu kamar tidur dengan beberapa teman lainya, melakukan berbagai pekerjaan sampingan, dan membuat video YouTube di waktu luang.
 


Salah satu ide video pertama yang mereka ciptakan adalah Project 30. Termotivasi untuk merubah rutinitas sehari-hari yang membosankan, mereka memiliki ide untuk mulai melakukan 30 hal yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya dalam 30 hari, dan membuat video tentang hal tersebut setiap hari.

Mereka mencoba beragam kegiatan yang mungkin biasa dilakukan sebagian orang tapi bagi keempat anggota Yes Theory, ini adalah hal yang baru dan asing. Petualangan mereka dimulai dengan menciptakan karya lalu dicoba dijual ke galeri seni, menindik telinga, berpuasa di bulan Ramadan, hingga menjadi teman karib walikota.

Sukses dengan Project 30, usaha mereka membuahkan hasil hingga direkrut oleh Snapchat untuk membuat video spesial, pindah ke Pantai Venice di California untuk tinggal bersama, dan banyak kesuksesaan lainya. Secara konsisten Yes Theory telah mengumpulkan banyak pengikut, dan pada 2018 mereka meraih 1 juta subscriber

2018 dianggap salah satu tahun tergila untuk grup ini, selain meraih 1 juta subscriber, mereka telah mencetak berbagai video viral lainya. Salah satunya adalah berkolaborasi dengan Will Smith untuk melakukan bungee jumping dari helikopter bersama di Grand Canyon pada ulang tahunnya yang ke-50. 

Tak hanya terkenal di YouTube, grup ini juga sempat diliput berbagai kanal media di Amerika berkat video We Fooled the Internet w/ Fake Justin Bieber Burrito Photo. Di video ini mereka menipu seluruh HollyWood dengan menciptakan berita hoax, bahwa Justin Bieber memakan burrito dengan cara yang tidak lazim. 
 


Kini Yes Theory terus berkembang sebagai brand dan gerakan, dengan merilis merch dan memproduksi  proyek dokumenter terbesar mereka, Project Iceman. Dokumenter ini menceritakan  perjuangan Anders Hoffman untuk menyelesaikan triathlon jarak jauh pertama di Antartika di mana ia harus berenang, bersepeda, dan berlari di salju dengan kondisi ekstrem.

Dokumenter ini telah memenangkan berbagai penghargaan seperti Best Doc & Special Jury Award at Riviera International Film Festival 2023, Best Doc at Rome Independent Film Awards 2023, Best Picture & Best Doc at Los Angeles Film Awards 2023.

Cerita Yes Theory adalah salah satu bukti nyata bahwa dengan menantang diri di luar zona nyaman, mengingat mimpi yang ingin kita perjuangkan. Tidak ada batas yang dapat menghalangi kita untuk mencapai apapun yang kita inginkan.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

Editor: Nirmala Aninda

SEBELUMNYA

Detail Pemain dan Produksi Film Biopik Michael Jackson Terungkap

BERIKUTNYA

Segera Tampil di Bali, Cek 3 Album Psikedelik karya Tame Impala

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: