Salah satu karya Tintin Wulia dalam pameran Disclosures (sumber gambar Baik Art)

Memaknai Artikulasi Sejarah & Identitas dari Mata Tintin Wulia

12 February 2024   |   21:30 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Sebuah karya instalasi dari puluhan paspor palsu  berderet di lantai Baik Art Gallery Jakarta. Ibarat mahluk hidup, dokumen tersebut bahkan merambat di tembok, langit-langit galeri asal Korea Selatan itu, dan berakhir di sebuah kotak mesin yang galib ditemui di tempat wahana permainan.

Uniknya, para pengunjung bisa mendapatkan berbagai jenis paspor tersebut dengan membeli koin. Instalasi bertajuk Lure (mini passport installation with claw machine, variable dimension) tersebut merupakan salah satu karya seniman Tintin Wulia dalam pameran Disclosures.

Baca juga: Kala Taruntum, Pameran Reuni Seniman ISI Yogyakarta Angkatan 1993 Berlangsung di Jakarta

Sepintas, karya ini memang seperti permainan biasa, tapi ada kritik yang mendalam dari sang seniman dalam mempertanyakan identitas kewarganegaraan. Terutama bagi kalangan penyintas tragedi 1965 yang hingga saat ini mencari keadilan atas nasib mereka.

Sebagaimana karya partisipatoris, pengunjung yang tertarik memang bisa mendapatkan paspor tersebut. Namun, ada premis sederhana yang berlaku. Apakah kemampuan mereka untuk memenangkan hadiah adalah sebuah keterampilan, atau sesuatu yang harus dimiliki dengan usaha yang keras.

Karya instalasi bertarikh 2009 itu pun seolah bermain dalam dua tegangan tersebut. Di mana pengunjung seperti dapat memilih untuk menjadi warga negara mana yang diinginkan, dan akhirnya diakui secara sah oleh hukum. Namun, di situ ada berbagai faktor yang turut ambil andil.
 
"Lure adalah tentang keberuntungan dan kewarganegaraan. Orang mengatakan bahwa keberuntungan terjadi ketika peluang dipenuhi dengan persiapan. Namun, saya tidak mengerti bagaimana keberuntungan seperti ini bisa diterapkan pada  kewarganegaraan," kata Tintin Wulia.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by BAIK ART (@baikartgallery)



Beranjak ke sisi lain, pengunjung akan disuguhi karya berjudul Memory is Frail (and Truth Brittle) (installation off 115 charcoal and graphite drawings on cotton paper, variable dimension, 2019). Dibuat satu dekade selang karya pertama, instalasi berupa susunan kertas ini seperti mengisahkan tentang kehidupan keluarga sang seniman.

Secara umum, ada berbagai gambar, tulisan-tulisan tangan, serta cuplikan cerita tentang sosok ayah, paman, dan kakek dari Tintin yang terjalin dengan acak. Semuanya dijalin lewat rambu berupa gambar pesawat fighter jet dengan jejak asap panjang tanda pesawat berada dalam kecepatan yang tinggi yang menghubungkan semua cerita tersebut.

Lawat karya tersebut, Tintin seolah ingin mempertanyakan hakikat realitas dan landasan pengetahuan manusia, terutama melalui indera mereka yang terbatas. Namun, pada tingkat alegori, sang seniman juga ingin menginterogasi bagaimana pemahaman manusia tentang dunia yang sebagian besar dikonstruksi secara visual dan direkam melalui memori.

Karya ini, secara personal juga mengungkap rahasia keluarga Tintin pada 1965. Yaitu saat kakeknya diciduk pemerintah dan hingga kini tidak diketahui rimbanya. Hingga akhirnya, setelah reformasi, sang seniman mulai fokus pada isu tentang identitas hingga represifitas negara yang dijadikan sebagai titik tolok karya-karyanya.

Bahkan, salah satu instalasi tersebut juga tertulis: "Setelah kakek saya dihilangkan secara paksa pada tahun 1965, [dan] sayangnya, paman kedua saya [juga] berhenti melukis". Sementara itu, dalam visual lain juga tergambar visual wajah sang kakek yang belum pernah ditemui oleh Tintin.

Keunikan lain dari pameran ini adalah juga menghadirkan karya video bertajuk A Thousand and One Martian Night (2017). Karya ini merupakan bagian dari penelitian Tintin mengenai pembunuhan massal di Indonesia pada 1965-66 dan dampaknya dari waktu ke waktu.

 

karya video bertajuk A Thousand and One Martian Night (2017) (sumber gambar Baik Art )

karya video bertajuk A Thousand and One Martian Night (2017) (sumber gambar Baik Art )


Seperti diajak menyusuri waktu di masa depan, film ini bertolak dari sebuah kamp konsentrasi di Mars pada tahun 2165. Uniknya, film berdurasi sekitar 30 menit itu  justru menyajikan serangkaian cerita kekacauan politik yang terjadi seratus tahun sebelumnya di Indonesia.

Kisah-kisah dari film ini juga diadaptasi dari pengalaman dan kenangan sang seniman dan aktor dari para penyintas 1965. Narasi cerita juga terjalin dengan rekaman NASA yang mendokumentasikan penelitian antar planet pada tahun ketika tragedi tersebut pecah dan mengakibatkan jutaan orang tidak bersalah tewas.


Konstruksi  Narasi Sejarah

Kurator Aaron Seto mengatakan, sepilihan karya dalam pameran Disclosures memang menampilkan kumpulan karya penting Tintin Wulia yang dikembangkan selama beberapa waktu terakhir. Terutama dari hasil pengembangan dan penelitian ekstensif sang seniman di berbagai institusi pendidikan di dunia.

Menurut Aaron, sejak awal praktik seninya, karya-karya Tintin dibentuk oleh ketertarikannya pada sifat sejarah. Khususnya mengenai ingatan yang rapuh, sejarah yang bisa berubah dan cara narasi sejarah dikonstruksi melalui dinamika kekuasaan negara, dan pengaruhnya terhadap ingatan pribadi.

"Ide-ide tersebut terlihat jelas pada karya-karya di pameran ini. Minatnya memang terletak pada pemahaman interaksi antara struktur kelembagaan dan pengalaman manusia, dan bagaimana sejarah disembunyikan dan diungkap melalui mekanisme negara dan kelemahan ingatan manusia," katanya.

 karya bertajuk Absence in substantia: Frequency (ink on paper bylon tufted on polyester fibre,180x350 cm, 2023) (sumber gambar Hypeabis.id/ Prasetyo Agung)

karya bertajuk Absence in substantia: Frequency (ink on paper bylon tufted on polyester fibre,180x350 cm, 2023) (sumber gambar Hypeabis.id/ Prasetyo Agung)


Tak hanya itu,  karya-karya Tintin juga menggambarkan ruang perantara antara negara dan individu sebagai ruang liminal. Namun, sebagai seniman dia justru membuka ruang bagi praktik yang didasarkan pada dialog komunal, di mana praktik interaktif dengan pengunjung dapat memperluas potensi makna, dan dialog antar individu.

Hal itu misalnya, mewujud dalam karya bertajuk Absence in substantia: Frequency (ink on paper bylon tufted on polyester fibre,180x350 cm, 2023). Terdiri dari kertas nilon yang digunting lurus dengan lebar satu milimeter, ribuan keras tersebut dianyam menjadi semacam kain rajut yang digantung.

Sepintas, guntingan-guntingan tersebut juga  mengingatkan pada kertas yang telah dihancurkan oleh mesin penghancur dokumen. Uniknya, karya tersebut justru berasal dari hasil riset Tintin atas lebih dari 35.000 lembar arsip-arsip pemerintah Amerika Serikat yang disebut sebagai arsip Protocol of Killings, yang merujuk pada arsip rahasia tragedi 1965 di Indonesia.

"Proyek-proyek terbaru dari Tintin juga menawarkan konteks penting, yang menjelaskan keterkaitan antara kejadian-kejadian nasional dan pengaruh serta keterlibatan kekuatan-kekuatan eksternal. Artinya, dia mengungkap bagaimana kekuatan-kekuatan ini telah membentuk kontur sosio-politik sejarah modern Indonesia," jelas Aaron Seto.

Baca juga: Pameran Kartorupa, Saat Kartografi & Seni Melebur dalam Estetika Peta

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

Editor: Nirmala Aninda

SEBELUMNYA

Fakta-fakta Menarik Drakor A Killer Paradox, Cek Beda Antara Webtoon & Serialnya

BERIKUTNYA

Beyonce Bakal Rilis Album Act II: Renaissance pada 29 Maret 2024

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: