Pantai Pasir Putih Atapupu, Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). (Sumber foto: JIBI/Hypeabis/Himawan L Nugraha)

Punya Potensi Besar, Ini Tantangan Pariwisata Indonesia Menurut Ahli 

26 December 2023   |   18:21 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Industri pariwisata dan ekonomi kreatif semakin menguat seiring endemi. Terlebih, kualitas pariwisata di Tanah Air juga mulai diperhitungkan para wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Indonesia dengan durasi yang lama. Berbagai tren liburan pun bermunculan dengan tuntutan agar kualitas pariwisata kian meningkat.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kunjungan wisman  pada triwulan I 2023 secara kumulatif mencapai 2,5 juta kunjungan atau naik 508,87 persen dibandingkan periode sama tahun 2022. Bahkan, penerimaan devisa tersebut mencapai US$6,08 miliar pada paruh pertama 2023.

Baca juga: Outlook Industri Pariwisata 2024 : Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Jadi Kunci Utama

Bangkitnya sektor pariwisata juga menciptakan sebuah tren wisata baru. Salah satunya adalah quality tourism, yang diprediksi bakal digemari wisatawan mancanegara (wisman) pada tahun depan. Terutama untuk mengeksplorasi berbagai destinasi wisata, dan tinggal lebih lama di Tanah Air.

Pengamat pariwisata Chusmeru, mengatakan, proyeksi tren pariwisata dan industri turisme Indonesia pada 2024 memang cukup prospektif. Salah satu indikatornya adalah tercapainya target kunjungan wisman ke Indonesia tahun 2023 yang mencapai lebih dari 9 juta wisatawan.

Rencana kebijakan Kemenparekraf untuk memberikan bebas visa kepada 20 negara, diharapkan juga dapat mendongkrak angka kunjungan wisman ke Indonesia. Sebab, menurutnya 20 negara tersebut merupakan negara potensial penyumbang wisatawan dengan length of stay dan spending money yang tinggi.

"Dengan catatan tersebut, saya prediksi, target wisman sebesar 14,3 juta orang tahun 2024 yang ditetapkan Sandiaga Uno bakal tercapai," katanya saat dihubungi Hypeabis.id.
 



Namun, persiapan untuk meningkatkan okupansi tersebut harus dipastikan dengan tepat. Pertama, meliputi infrastruktur atau sarana dan prasarana pendukung pariwisata. Termasuk aksesibilitas menuju destinasi wisata, kesiapan bandara, pelabuhan, maupun transportasi darat.

Kedua, produk wisata pada destinasi wisata unggulan, harus ada innovativeness atau paling tidak ada unsur kebaruan, sehingga tidak menimbulkan kejenuhan bagi repeated tourist. Ketiga, kesiapan SDM pariwisata yang harus ditingkatkan, untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada wisatawan.

Adapun, terkait aspek yang perlu ditingkatkan agar membuat wisman semakin betah saat mengunjungi destinasi tertentu, adalah dengan membuat wisatawan at home dalam satu destinasi. Caranya, dengan memperbanyak event pada semua destinasi unggulan, seperti festival seni budaya, maupun event olahraga bertaraf internasional.

"Jadi, paket wisata yang hanya menyajikan alam atau view saja tidak cukup. Harus dibarengi dengan event yang membuat wisatawan menambah lama durasi tinggal di di Indonesia," terangnya.

Selaras, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengatakan, tren peningkatan quality tourism memang sedang naik daun. Salah satunya karena adanya kegiatan-kegiatan internasional di Tanah Air yang dihelat oleh pemerintah.

Menurut Yusran, tren pergerakan wisatawan di Indonesia juga sudah mencapai lebih dari 50 persen, pascapandemi Covid-19. Oleh karena itu dia optimis bisa mengejar target pada tahun depan, terutama untuk menggeber kunjungan wisatawan di berbagai wilayah wisata unggulan, seperti Bali dan Labuan Bajo.

"Tapi dari kacamata perhotelan, kami berharap ada pemerataan pergerakan wisatawan domestik. Sebab jika dilihat trennya, peningkatan okupansi itu hanya tercatat di 9 provinsi, termasuk wilayah Kalimantan, Jawa, dan Bali," katanya.

Lebih lanjut Yusran mengungkap, salah satu hal penting untuk mendorong geliat pariwisata adalah aksesibilitas. Oleh karena itu dia berharap, ke depannya pemerintah dapat memberi akses yang lebih mudah, terutama dari segi transportasi antar berbagai pulau di Indonesia.

"Hal-hal ini yang agak menyulitkan wisata di Indonesia, sebab cost travelling kita jadi meningkat. Dengan destinasi di luar negeri pun jadi kurang kompetitif, malah murahan tiket ke luar negeri kan, daripada ke Bali," katanya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

Editor: Nirmala Aninda

SEBELUMNYA

Zack Snyder Tertarik Garap Film James Bond Versi Muda

BERIKUTNYA

Netflix Rilis Teaser Perdana Rebel Moon Part Two: The Scargiver, Tayang April 2024

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: