Ilustrasi cara pandang suatu individu tentang beauty standard (Sumber: gambar pribadi)

Apakah Beauty Standard Berpengaruh terhadap Psikologis Perempuan?

09 December 2023   |   18:07 WIB
Image
Ghaitsa Zahira Raspati Psychology Student

Pernahkah kalian merasa bahwa beauty standard itu cukup mengganggu dalam menjalani kehidupan sehari-hari? Apalagi buat perempuan yang seolah-olah dipaksa untuk menampilkan standar kecantikan tertentu. Seperti yang kita sering amati sehari-hari, banyak sekali problematika terkait standar kecantikan itu sendiri.

Media massa adalah faktor utama yang menciptakan stigma-stigma beauty standard perempuan, sebagaimana diilansir jurnal berjudul Perlawanan Stigma Warna Kulit terhadap Standar Kecantikan Perempuan Melalui Iklan. Salah satu cara media massa menampilkan stigma-stigma standar kecantikannya yaitu melalui iklan. 

Baca juga: Tren Estetika Medis Makin Moncer, Intip Jenis Prosedur Kecantikan yang Diminati Masyarakat

Melansir jurnal lain berjudul Beauty Standard Perception of Women: A Reception Study Based on Foucault's Truth Relations and Truth Games, Knobloch dan Janiszewski menyatakan iklan kecantikan dapat menunjukkan bagaimana kecantikan yang ideal itu, sehingga mencapai tahap memengaruhi persepsi seorang individu, khususnya perempuan, tentang standar kecantikan.

Selain itu, terkenalnya budaya K-Pop yang mendunia saat ini merupakan faktor lain terciptanya standar kecantikan tersebut. K-Pop memperkenalkan pada dunia seperti apa standar kecantikan perempuan di Negara Korea Selatan itu sendiri melalui penyanyi girl group, artis, serta model kosmetik, seperti didejelaskan dalam jurnal yang berjudul Stigma Warna Kulit terhadap Standar Kecantikan Perempuan Melalui Iklan.

Dengan begitu, tidak bisa dipungkiri juga bahwa standar kecantikan yang telah terbentuk oleh masyarakat, tentunya, akan berpengaruh terhadap psikologis perempuan.
 
Yuk, kita bahas lebih lanjut!
 

Ilustrasi individu sedang berpikir (Sumber: gambar pribadi)

Ilustrasi individu sedang berpikir (Sumber: gambar pribadi)

 

Bagaimana kecantikan dimaknai hingga standar kecantikan itu terbentuk?

Menurut N. Wolf yang dikutip dari jurnal yang berjudul The Modern-Day Feminine Beauty Ideal, Mental Health, and Jungian Archetypes, ditulis di dalam bukunya The Beauty Myth, beauty atau kecantikan adalah sebuah mitos yang dibentuk dengan tujuan agar perempuan patuh serta menolak pemahaman terkait evolusioner dari kecantikan.

Hari ini, kecantikan itu sendiri digunakan oleh para institusi besar yang mempresentasikan laki-laki dalam melakukan serangan terhadap perempuan.

N. Wolf menguraikan pendapatnya bahwa: "Beauty is a currency system like the gold standard. Like any economy, it is determined by politics, and in the modern age in the West it is the last, best belief system that keeps male dominance intact. In assigning value to women in a vertical hierarchy according to a culturally imposed physical standard, it is an expression of power relations in which women must unnaturally compete for resources that men have appropriated for themselves.”

Definisi lain juga dikatakan oleh N. Etkoff di bukunya, “Survival of the Prettiest: The Science of Beauty,” yang mana kecantikan bukan mitos ataupun pengaruh sosial, melainkan sebuah fenomena kompleks yang dilandasi oleh sifat manusia.

Oleh karena itu, keinginan untuk menjadi cantik disebabkan oleh pewarisan sifat. Ditambah lagi, penelitian terkini menjelaskan bahwa ketertarikan fisik yang dipengaruhi oleh standar sosiokultural modern berikatan erat dengan tingginya tingkat kesejahteraan psikologis, kemudahan dalam bersosialisasi, ketegasan, dan kepercayaan diri.

 

Ilustrasi individu sedang berpikir (Sumber: gambar pribadi)

Ilustrasi individu sedang berpikir (Sumber: gambar pribadi)


Bagaimana beauty standard bisa memengaruhi psikologis perempuan?

Beauty standard atau standar kecantikan memengaruhi perempuan dengan cara menciptakan bagaimana bentuk standar tersebut terealisasikan. Contohnya pembuatan boneka Barbie. Dapat diketahui, bentuk boneka Barbie sendiri terlihat sangat kurus layaknya tidak bernutrisi yang mengakibatkan munculnya dan popularitasnya boneka Barbie ini berdampak negatif bagi estetika anak-anak.

Dampak lainnya juga dapat memengaruhi kognisi anak-anak yang dibuktikan oleh hasil penelitian yang mana boneka Barbie akan membimbing anak-anak menjadi lebih memilih penampilan tertentu seperti tinggi, kurus, serta mata besar, dilansir jurnal How Does Barbie Influence The Aesthetics Standards of Growing Children?.

Selain itu, melansir jurnal Pengaruh Sikap Terkait Standar Kecantikan terhadap Perilaku Makan yang Tidak Sehat pada Remaja dengan Ketidakpuasan Tubuh sebagai Variabel Mediator, penginternalisasian standar kecantikan oleh perempuan juga menjadi faktor dari perilaku makan perempuan itu sendiri.

Berdasarkan Fernandez, Sanlier, Kazim, remaja perempuan lebih banyak ditemukan menderita gangguan makan daripada laki-laki. Gangguan ini dipicu oleh pola makan yang tidak sehat, seperti jam makan yang tidak teratur, melakukan diet yang tidak benar, ataupun makan yang berlebihan yang mana mengarah pada kualitas hidup yang kurang baik.

Berdasarkan pemahaman Kim, Lee, Strahan, dan lainnya, seseorang yang mencapai standar kecantikan sesuai dengan budayanya akan lebih mudah untuk mengakses sumber daya sosial. Akibatnya, jika perempuan tidak mencakupi hal-hal tersebut, maka perempuan itu akan dilabeli sebagai seseorang yang inferior, mengalami stres, prejudice, dan ketidaksetaraan.

Standar kecantikan yang tidak wajar menciptakan pengaruh negatif pada kesehatan mental perempuan, contohnya seperti social anxiety disorder, body dysmorphic disorder, panic disorder, depression, obsessive-compulsive disorder, psychological distress, eating disorders, low self-esteem, self-harm, suicidal feelings, menurut Aderka, Black, dan Octan, dikutip dari jurnal The Modern-Day Feminine Beauty Ideal, Mental Health, and Jungian Archetypes.
 

Ilustrasi individu sedang berpikir (Sumber: gambar pribadi)

Ilustrasi individu sedang berpikir (Sumber: gambar pribadi)

 

Kejadian sehari-hari terkait beauty standard yang memengaruhi psikologis perempuan

Satu dari delapan orang dewasa di Britania Raya pernah mengalami pikiran untuk melakukan bunuh diri yang disebabkan oleh standar kecantikan yang berpengaruh pada body image atau citra tubuh. Hal ini juga memperburuk keadaan seseorang yang memiliki body dysmorphic disorder saat pandemi Covid-19.

Survei yang dilakukan pada 2017 menyatakan bahwa 31% warga Amerika menghabiskan antara US$26 sampai US$50 per bulan untuk membeli barang kosmetik dan perawatan diri. Sebanyak 18% warga Amerika lainnya menghabiskan sekitar US$100 per bulannya.

Melalui fenomena tersebut dan berdasarkan hasil survei lainnya, dapat diketahui bahwa salah satu alasan perempuan menghabiskan uang sebesar itu karena terdapat tekanan sosial, yakni standar kecantikan tersebut. 


Contoh lainnya bisa dilihat dari Negara Korea Selatan yang sangat mensuperiorkan kecantikan fisik dengan terbatasnya sumber daya, yang mana menjadikan negara tersebut sangat kompetitif.

Menurut Luxen dan Van De Vijver, di negara ginseng itu, berparas cantik merupakan keunggulan sendiri untuk mempermudah mendapatkan pekerjaan, memilih pasangan, dan menjenjang kehidupan sosial serta finansial yang tinggi.

Hal ini dapat mengedepankan perempuan untuk semakin merasa terkucilkan sehingga berpeluang untuk mengalami stres, menurut jurnal yang berjudul The Modern-Day Feminine Beauty Ideal, Mental Health, and Jungian Archetypes. 

Setelah membaca bacaan di atas dapat disimpulkan bahwa ternyata beauty standard atau standar kecantikan bisa memengaruhi psikologis perempuan. Faktor paling banyak yang menciptakan standar kecantikan adalah faktor lingkungan budaya.

Beberapa pembentukan standar kecantikan tersebut diperoleh melalui penciptaan sesuatu yang berkaitan bagaimana kecantikan yang ideal bagi perempuan menurut sebagian besar masyarakat.

Standar kecantikan itu sendiri lebih menunjukkan pada perempuan daripada laki-laki yang mana membatasi ruang lingkup perempuan dan memberi peluang terkenanya gangguan pada kesehatan mental atau psikologis perempuan. Pada kehidupan sehari-hari, banyak dari perempuan yang terkena gangguan kesehatan mental tertentu, seperti body dysmorphic disorder, social anxiety disorder, stress, hingga muncul pikiran untuk mengakhiri hidupnya.


Mulai hari ini, mari kita semua menghargai perbedaan yang dimiliki setiap individu dengan memahami bahwa setiap orang mempunyai definisi cantik dengan caranya sendiri.



Referensi:

Danylova, T. (2020). The modern-day feminine beauty ideal, mental health, and Jungian Archetypes. Mental Health: Global Challenges Journal, 3(1), 39–40.

Gürkan, H., & Sertta?, A. (2023). Beauty standard perception of women: a reception study based on Foucault’s truth relations and truth games. Information & Media, 96, 21–22.

Purnama Ramadhani, I., & Pradna Paramita, P. (2023). Pengaruh sikap terkait standar kecantikan terhadap perilaku makan yang tidak sehat pada remaja dengan ketidakpuasan tubuh sebagai variabel mediator. Berajah Journal, 3(1), 125–126.

Sukisman, J. M., & Utami, L. S. S. (2021). Perlawanan stigma warna kulit terhadap standar kecantikan perempuan melalui iklan. Koneksi, 5(1), 67–68.

Zhang, D., Wang, S., Xu, N., & Wang, D. (2023). How does Barbie influence the aesthetic standards of growing children? Lecture Notes in Education Psychology and Public Media, 4(1), 594–595.


Disclaimer: Segala informasi dalam artikel ini menjadi tanggung jawab pribadi penulis.

SEBELUMNYA

Furnitur Bermaterial Besi: Simak Jenis, Penerapan, Kelebihan & Kekurangannya

BERIKUTNYA

Jadwal Car Free Day di Jakarta 10 Desember 2023

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: