Diskusi Berbagi Museum Berbagi Kemanusiaan di Gedung Kemdikbudristek Jakarta (sumber gambar Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Interkoneksi Museum Diperlukan untuk Memberi Pengalaman Baru Bagi Pengunjung

07 December 2023   |   19:30 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Wisata museum merupakan salah satu destinasi yang menjadi andalan, khususnya dalam konteks wisata sejarah. Beragamnya museum di Indonesia juga bisa menjadi peluang untuk mengemas pendekatan wisata museum dengan cara yang lebih populer.

Koordinator Bidang Koleksi, Konservasi, Kuratorial dan Pameran Indonesian Heritage Agency, Zamrud Setya Negara mengatakan, penataan ulang museum memang diperlukan di Indonesia. Salah satunya dengan menjalin interkoneksi antar berbagai museum di Tanah Air.

Menurut Zamrud, saat ini Museum Cagar Budaya (MCB) saat ini pihaknya memang sedang melakukan standarisasi permuseuman. Termasuk tata pamer (display) koleksi, program kreatif, penataan, serta rebranding dalam mengenalkan edukasi wisata museum pada publik.

Dia mencontohkan, saat seseorang mengunjungi Museum Kebangkitan Nasional, misalnya. Proses transfer distribusi pengetahuan harusnya tidak berhenti di sana saja. Namun, juga berlanjut ke museum lain, seperti Museum Sumpah Pemuda, Museum Joang 45, hingga Museum Naskah Proklamasi.

Baca juga: 728 Koleksi Berhasil Diidentifikasi, Proses Restorasi Artefak Museum Nasional Dilakukan Tahun Depan

Konteks interoneksi antar museum inilah yang harus dijadikan sebagai salah satu bentuk pembaruan dalam menikmati museum. Sebab, dengan adanya networking antar berbagai museum, pengunjung bisa memaknai sejarah perjalanan bangsa dengan lebih baik.

"Jadinya ada sinergi, dengan kekuatan masing-masing museum tapi harus satu kesatuan. Inilah yang tidak dimiliki oleh negara lain. Mereka boleh memiliki museum dengan karya kontemporernya, tapi mereka tidak memiliki sejarah yang komplit dan panjang seperti Indonesia," katanya dalam diskusi Berbagi Museum Berbagi Kemanusiaan, Kamis (7/12/23).
 
 

Lebih lanjut, aparatur sipil negara (ASN) yang juga seniman itu mengungkap, saat ini pihaknya juga terus memperbaiki berbagai hal agar tren wisata museum bisa lebih populer di masyarakat. Ini termasuk pembenahan ekosistem, sumber daya manusia (SDM), hingga pencarian identitas atau value dari setiap museum di Tanah Air.

Nantinya, ketika value dari setiap museum telah berhasil digali, maka distribusi pengetahuan pun bisa dilakukan dengan sangkil. Tak hanya itu, potensi dari setiap museum untuk dikenal dan dikunjungi publik juga akan lebih terbuka lebar dengan berbagai program yang digalakkan.

"Hari ini, kita tidak bisa menyuguhkan museum dengan apa adanya, tapi ada apanya. Dengan konsep itu kita juga bisa menyisipkan berbagai kegiatan menarik, salah satunya di Benteng Vredeburg Yogyakarta, lewat program Museum Night," terangnya.

Setali tiga uang, kurator seni rupa Asep Topan, mengatakan, inovasi museum memang harus terus dilakukan agar selaras dengan zaman. Sebab, dengan cara tersebut publik tidak akan mengalami museum fatigue, atau keadaan kelelahan fisik dan mental saat menikmati pengalaman pameran di museum. 

Menurutnya, pola kerja ini salah satunya berada di tangan kurator. Oleh karena itu sosok yang bertugas dalam mengkurasi karya tersebut memiliki peranan penting dalam suatu pameran. Termasuk pameran seni, sejarah, atau yang lain,  lewat kerjasama dengan tim artistik dan pihak museum tempat dilangsungkannya ekshibisi.

"Museum juga harus lebih terbuka dan inklusif sehingga semakin banyak publik yang datang. Kelebihan ini juga bisa terus digali karena mayoritas pengunjung museum di Indonesia adalah anak muda," katanya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

Editor: Roni Yunianto
 

SEBELUMNYA

Begini Cara Penulis Buku Gadis Kretek Menciptakan Karakter Soeraja

BERIKUTNYA

Reality Club Siap Tur Konser di Amerika Utara pada Maret 2024

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: