Peminat skema pembayaran paylater lebih banyak dibandingkan skema kredit perbankan. (Sumber gambar: Towfiqu Barbhuiya/Unsplash)

Survei Ini Ungkap Perilaku Masyarakat Gunakan Paylater

04 November 2023   |   11:01 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Dahulu, untuk mengakses kredit, kita mungkin harus perlu ke bank. Namun, dengan perkembangan teknologi, kini dikenal juga skema pembayaran yang dinamakan Digital Buy Now Pay Later (BNPL) atau yang lebih akrab dikenal paylater. Bahkan, peminat skema pembayaran paylater lebih banyak dibandingkan skema kredit perbankan.

Tak heran, sebab, fasilitas keuangan paylater menawarkan metode pembayaran dengan cicilan tanpa kartu kredit serta proses yang mudah dan cepat, sehingga memudahkan masyarakat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pengguna paylater mengalami pertumbuhan sebanyak 18,18 juta kontrak. Angka itu meningkat sebesar 33,25% secara tahunan (year on year) menjadi 72,88 juta kontrak per Mei 2023.

Baca juga: Menengok Perubahan Perilaku Pengguna Paylater, Tak Melulu Karena Kondisi Terdesak

Tren serupa juga tergambar dalam hasil riset bertajuk Unveiling Indonesia’s Financial Evolution: Fintech Lending and Paylater Adoption oleh Populix. Laporan tersebut menemukan bahwa sebanyak 55 persen responden menyatakan pernah melakukan pembayaran menggunakan layanan paylater.

Mayoritas penggunanya berasal dari pulau Jawa yakni 55 persen dari responden, dan didominasi oleh generasi milenial (63%) dan kelas sosial atas (59%).  

Survei yang melibatkan 1.017 responden itu juga memaparkan bahwa para pengguna cenderung menggunakan layanan paylater saat kondisi mendesak. Mayoritas dari mereka menggunakannya kurang dari sebulan sekali sebagaimana diakui oleh 51 persen responden. Sementara sisanya sebanyak sekali dalam sebulan (31 persen) dan 2-3 kali dalam sebulan (16 persen).
 

f

Mayoritas pengguna paylater berasal dari Pulau Jawa. (Sumber gambar: Clay Banks/Unsplash)

Dalam mengakses paylater, masyarakat cenderung menggunakan 1 aplikasi sebagaimana dipilih oleh 82 persen. Hal ini disimpulkan bahwa kebanyakan orang menggunakan paylater sebagai solusi keuangan ketika dihadapkan pengeluaran tak terduga atau mendesak, alih-alih menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari. Sementara sisanya mengaku mengaku menggunakan 2-3 aplikasi untuk mengakses paylater (17 persen) dan 4-5 aplikasi  (1 persen).

Rupanya, dua alasan utama masyarakat Indonesia menggunakan paylater ialah untuk membayar kebutuhan internet/paket data/kredit/tagihan elektrik, serta ntuk kebutuhan membeli fesyen sebagaimana masing-masing hal itu dipilih oleh 48 persen responden.

Sementara beberapa alasan lainnya yakni untuk menutup kebutuhan pengeluaran bulanan (35 persen), membeli gadget dan aksesoris elektronik (21 persen), memperbarui gadget seperti handphone, laptop atau tablet (19 persen), traveling, staycation dan hiburan (10 persen), dan lainnya (6 persen).

Adapun, dalam memilih aplikasi paylater, mayoritas masyarakat lebih suka fitur yang telah tersedia dan terkoneksi dengan marketplace sebagaimana dipilih oleh 71 persen responden. Disusul dengan pertimbangan aplikasi yang telah teregistrasi di OJK (67 persen), memberikan fleksibilitas cicilan pembayaran (57 persen), pendaftaran yang mudah (52 persen), dan suku bunga rendah (50 persen).

Nominal pembayaran angsuran bulanan paylater mayoritas masyarakat Indonesia berkisar kurang dari Rp1 juta per bulan seperti diakui oleh 82 persen responden. Sisanya, mengaku menggunakan paylater dengan nilai berkisar Rp2 juta-Rp3 juta (13 persen), Rp3 juta-Rp4 juta (3 persen), Rp4 juta-Rp5 juta (1 persen), dan lebih dari Rp5 juta (1 persen).

Begitupun terkait jumlah nominal terbesar tagihan paylater masyarakat mayoritas senilai kurang dari Rp1 juta sebagaimana dipilih oleh 75 persen responden. Diikuti dengan nominal Rp2 juta-Rp3 juta (17 persen), Rp3 juta-Rp4 juta (4 persen), Rp4 juta-Rp5 juta (3 persen), dan lebih dari Rp5 juta (1 persen).

"Perilaku ini menunjukkan bahwa individu lebih memilih untuk mengatur keuangannya [dengan] komitmen lebih kecil, lebih banyak ukuran angsuran yang dapat dikelola. Mungkin
untuk memastikan bahwa anggaran bulanan mereka masih dalam batas yang dapat dikelola," tulis hasil survei yang dilakukan pada September 2023 itu.

Adapun, Shopee Paylater menjadi layanan paylater yang paling banyak digunakan oleh masyarakat sebagaimana dipilih oleh 77 persen. Posisinya diikuti oleh gopaylater (28 persen), Akulaku Paylater (18 persen), Kredivo (14 persen), traveloka paylater (9 persen), indodana paylater (4 persen), Home Credit (3 persen), atome (2 persen), dan lainnya (2 persen).

Timothy Astandu selaku Co-founder dan CEO Populix mengatakan hasil penelitian tersebut menunjukkan bagaimana paylater memainkan peran signifikan dalam aktivitas ekonomi Indonesia saat ini. Keterjangkauan paylater yang semakin meningkat bagi masyarakat, fleksibilitas dalam pembayaran cicilan, hingga kemudahan dalam proses registrasi mendorong penggunaan paylater sebagai salah satu solusi pembayaran inovatif untuk melakukan transaksi

"Lebih dari itu, survey juga mengungkap masyarakat Indonesia cukup bijak dalam mengelola keuangannya, di mana hal ini terlihat dari mayoritas responden yang hanya memiliki cicilan paylater kurang dari 1 juta rupiah dalam sebulan,” katanya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Nirmala Aninda
SEBELUMNYA

Indonesia Comic Con x DG Con 2023 Digelar, Cek Informasi & Cara Beli Tiketnya

BERIKUTNYA

Rekomendasi 5 Film Keluarga November 2023, Cocok Ditonton Bersama Anak-anak

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: