Gado-gado Bon Bin (Sumber foto: Hypeabis.id/Luke Andaresta)

Hypereport: Denyut Kuliner Legendaris di Kawasan Elite Ibu Kota

28 October 2023   |   13:30 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Kawasan Menteng di Jakarta Pusat dikenal sebagai permukiman elite. Di Menteng, rumah-rumah mewah dengan tanah luas mudah dijumpai, dan beberapa di antaranya masih mempertahankan konsep desain arsitektur lokal. Selain hunian, Menteng juga punya deretan bangunan bersejarah, restoran, perkantoran, hingga pusat kebudayaan.

Sejarawan JJ Rizal dalam tulisannya berjudul Menteng: Dari Kota Taman Sampai Kebun Binatang Politik dan Ekonomi menyebutkan bahwa Menteng sejak awal digagas para arsitek terdidik awal abad ke-20 sebagai permukiman modern pertama di Hindia Belanda, untuk istana kaum aristokrasi uang dan politik kolonial.

Namun, arsitek sekaligus Dewan Kotapraja Batavia, PAJ Moojen, telah membuat Menteng mengarah pada permukiman modern yang arsitektural ruangnya ramah pada budaya lokal. Termasuk bagaimana menempatkan suasana tropis berlingkungan hijau sebagai nilai terpenting. Dari situlah, Moojen ditugaskan untuk merencanakan dan membangun Nieuw Gondangdia-nama awal Menteng-sebagai tuinstad atau kota taman.

Akan tetapi, pada masa Orde Baru, pelan-pelan Menteng sebagai city planning pertama di ibu kota Batavia mulai berubah dan menjelma menjadi kawasan tempat tinggal para pejabat dan kalangan elite, termasuk Presiden Soeharto di Jalan Cendana. Sejak saat itu, hilang pula bangunan-bangunan ikonik di Menteng, berganti gedung-gedung modern tinggi nan besar yang terus berkembang sampai saat ini.
 

Di balik kesohorannya sebagai kawasan elite, Menteng juga menyimpan sejumlah tempat makan legendaris yang masih eksis hingga kini. Meski telah banyak restoran dan kafe yang menawarkan ragam hidangan kekinian hingga bercita rasa mancanegara di Menteng, panganan legendaris ini masih diburu oleh masyarakat dari berbagai kalangan.  
 

Gado-gado Bon Bin

Salah satu tempat makan yang paling terkenal ialah Gado-gado Bon Bin yang berlokasi di Jalan Cikini IV No 5. Restoran yang didirikan sejak tahun 1960 ini dikenal karena menjual gado-gado siram khas Jakarta, yang bumbunya berbeda dari gado-gado bumbu ulek pada umumnya.

Restoran ini didirikan oleh seorang perempuan keturunan Tionghoa yang lahir di Jakarta bernama Lanny. Sebelum menjadi tempat makan, rumah yang ditempati Gado-gado Bon Bin merupakan toko sembako yang didirikan dan dijaga oleh kedua orang tua Lanny sejak 1940-an.

Seiring waktu, para pegawai Kantor Agama Jakarta Pusat dekat rumah tersebut meminta Lanny untuk berjualan minuman, hingga akhirnya dia berjualan cendol. Setelah beberapa lama, berdasarkan permintaan para pegawai kantor, Lanny akhirnya mulai menyajikan makanan berat seperti rujak buah, asinan, dan gado-gado siram. 

Perkembangan menu hidangan restoran satu ini memang sangat dipengaruhi oleh permintaan para pelanggannya. Berdasarkan keinginan para konsumen, pada dekade 1970-an, tempat makan ini akhirnya mulai menjual nasi rames, lontong cap go meh, berlanjut terus termasuk menjajakan mi ayam dan ayam goreng.

Nama Bon Bin sendiri merupakan singkatan dari kebon binatang, yang diambil dari nama awal jalan tempat restoran ini berdiri, yaitu Jalan Kebon Binatang. Di dekat tempat ini, di lokasi yang kini menjadi Taman Ismail Marzuki, pernah berdiri sebuah kebun binatang, sebelum akhirnya dipindahkan ke Kebun Binatang Ragunan pada 1969. Meski nama jalan itu berubah menjadi Jalan Cikini IV, nama Bon Bin tetap dipertahankan.

Lanny meninggal pada 2014 dan kepemilikan serta manajemen restoran ini dilanjutkan kepada anak lelakinya, Hadi Lingga Wijaya. Telah berdiri selama enam dekade lebih, Gado-Gado Bon Bin masih eksis dan mempertahankan resep warisan dari sang pemilik, yang menjadi ciri khas dari restoran ini. Terlebih, sajian gado-gado siram memang terbilang jarang dijajakan di tempat makan lain. 
 

(Sumber foto: Hypeabis.id/Luke Andaresta)

Hadi Lingga Wijaya, Pemilik Gado-Gado Bon Bin(Sumber foto: Hypeabis.id/Luke Andaresta)

Pemilik Gado-Gado Bon Bin, Hadi Lingga Wijaya, mengatakan bumbu gado-gado Bon Bin lebih menonjolkan perpaduan berbagai cita rasa mulai dari asin, manis, hingga asam. Berbeda dengan bumbu kebanyakan sajian gado-gado yang lebih manis dan asin.

"Kacang tanah yang kami pakai juga disangrai bukan digoreng, dan kulit arinya dibuang. Itu paling bedanya," katanya saat ditemui Hypeabis.id, baru-baru ini.

Dalam sepiring gado-gado, terdiri dari beragam sayur seperti daun bayam, kacang, toge, kacang panjang, dan kentang yang direbus, plus potongan telur rebus dan tahu goreng. Setelah ditata di piring, semua kondimen itu akan disiram menggunakan kuah bumbu kacang matang yang telah dimasak. Tidak seperti gado-gado umumnya yang bumbunya harus diulek terlebih dahulu.

Selain gado-gado, menu lain yang juga konsisten dijual di restoran ini adalah nasi rames, lontong rames atau cap go meh, asinan, mi ayam, mi bakso, dan mi pangsit. Sementara untuk minuman, ada beragam sajian es yang menarik dicoba seperti es cendol, es kopyor, es jeruk, es cincau hitam, es soda susu, dan es Shanghai.

Namun, gado-gado masih menjadi menu yang paling diminati pelanggan. "Gado-gado masih yang banyak dibeli, kita sekarang bisa jual sampai 200 porsi sehari," katanya. 

Baca juga: Jakarta Jadi Surga Sekaligus Dapur Penciptaan Ragam Kuliner Baru
 

Gado-gado Bon Bin (Sumber foto: Hypeabis.id/Luke Andaresta)

Gado-gado Bon Bin (Sumber foto: Hypeabis.id/Luke Andaresta)

Hadi mengatakan proses menurunkan bisnis kuliner keluarga di Gado-Gado Bon Bin terjadi secara alami. Sebab, sejak kecil, dia dan tiga saudara lainnya telah terbiasa aktif membantu sang ibu untuk mengelola restoran.

Sudah selama dua dekade, sebelum sang ibu meninggal, mereka telah terlibat langsung dalam menjalankan bisnis restoran bersama. Kendati Hadi yang dikenal sebagai pemilik, dia menuturkan bahwa ketiga saudaranya masih turut membantunya mengelola restoran.

Meski awalnya sempat tidak suka untuk menekuni bidang kuliner, Hadi justru kini senang meneruskan bisnis warisan keluarga lantaran Gado-Gado Bon Bin disukai oleh banyak pelanggan dari berbagai kalangan. Hal itu menjadi dorongan terbesarnya untuk tetap mempertahankan eksistensi Gado-Gado Bon Bin. "Yang pasti kalau masih bertahan seperti ini, karena kita tekunin dan jangan bosen," ucapnya.

Di tengah makin menjamurnya restoran di Jakarta baik dari berbagai daerah maupun negara, Hadi menuturkan bahwa Gado-Gado Bon Bin tidak pernah mengalami penurunan dari segi penjualan. Menurutnya, hal itu dikarenakan ragam sajian yang dijual di tempatnya merupakan resep autentik keluarga yang berbeda dari lainnya.

"Kita mesti punya ciri khas sendiri dan itu harus dipegang teguh. Jangan ikut-ikutan orang," imbuhnya.

Konsistensi itulah yang membuat nama Gado-Gado Bon Bin tak hanya terkenal di kalangan masyarakat setempat, tetapi juga pelanggan dari berbagai negara seperti China, Prancis, Italia, Jerman, Amerika Serikat, dan Korea Selatan. Ketika ditanya soal generasi penerus, Hadi mengatakan bahwa sampai saat ini, dia belum menentukan akan memberikan kepercayaan kepada siapa untuk mengelola Gado-Gado Bon Bin. 
 

Ayam Goreng Gohyong Malaya 

Selain Gado-Gado Bon Bin, kuliner legendaris lain di kawasan Menteng ialah Ayam Goreng Gohyong Malaya yang berlokasi di Jalan Gereja Theresia No 43 Gondangdia Menteng. Menu utama dari tempat makan ini adalah gohyong, daging ayam cincang yang dibungkus kulit lumpia hingga berbentuk seperti lontong atau rolade. Setelah dikukus, gohyong digoreng lalu disiram dengan saus asam manis.

Makanan perpaduan antara budaya Tionghoa dan Betawi ini memang tidak terlalu populer. Namun, cita rasa adonan daging ayam yang dibungkus kulit tahu ini nyaris tidak pernah membuat gagal ketagihan penikmatnya. Tekstur luarnya renyah dengan isian yang gurih, makin lezat ketika dipadukan dengan saus asam manis yang segar dan pedas.

Pemilik Ayam Goreng Gohyong Malaya, Saguh Budianto, bercerita jika bisnisnya berawal dari sang ayah yang berjualan nasi goreng di Jalan Lombok Menteng pada 1985 dengan nama Nasi Goreng Lombok. Selain nasi goreng, dijajakan pula gohyong yang resepnya didapatkan dari majikan sang ayah yang berdarah Tionghoa.

Sebelum menetap di Jalan Lombok, sang ayah lebih dulu berkeliling menjajakan nasi goreng, kwetiau, dan mi goreng di sekitar kawasan Menteng. Seiring waktu, ditawarkan juga menu lain seperti ayam goreng malaya dan gohyong. 

Selepas lulus SMK pada tahun 2002, Saguh akhirnya terjun langsung membantu sang ayah mengelola bisnis kuliner keluarga. Hal itu yang membuatnya memahami racikan masakan langsung dari ayahnya secara otodidak.

Baca juga: Kevindra Soemantri Kulik Perkembangan Kuliner Jakarta di Buku Gastropolitan

 

 

 

(Sumber: YouTube/Nex Carlos)

Menu Ayam Goreng Gohyong Malaya(Sumber: YouTube/Nex Carlos)

Baru hampir dua dekade setelahnya, tepatnya pada 2020, nama Ayam Goreng Gohyong Malaya makin populer di kalangan masyarakat khususnya anak muda. Tempat makan ini viral setelah food vlogger, Nex Carlos, mencicipi gohyong dan nasi goreng Hong Kong, lalu mengulas restoran tersebut di media sosialnya. Dari situ, makin banyak pelanggan yang tertarik untuk mencicipi gohyong dan nasi goreng Hong Kong.

"Untuk saat ini yang paling laku itu gohyong sama nasi goreng Hong Kong. Kalau weekend, bisa jual 300-500 porsi. Kalau hari biasa paling 200-300 porsi," katanya.

Menurut Saguh, berbeda dari lainnya, gohyong yang ditawarkan di tempat makannya terbuat dari daging yang halal yakni campuran ayam, bakso, dan telur. Pasalnya, gohyong versi Tionghoa biasanya menggunakan campuran daging babi atau udang. Oleh karena itu, harga gohyong yang ditawarkan pun relatif lebih murah yakni Rp25.000 per porsi.

Berkat kepopulerannya, Ayam Goreng Gohyong Malaya kini sudah memiliki empat cabang yakni di Menteng, Kreo, Cipete, dan Kuningan. "Anak-anak muda nongkrong itu di Jakarta Pusat sama Selatan, jadi ramenya emang disitu," ujarnya.

Di tengah menjamurnya pilihan resto dan kafe di Jakarta, Saguh menilai minat masyarakat terhadap kuliner legendaris masih tetap besar. Namun, dia menyayangkan kini banyak pedagang yang menjual gohyong menggunakan nama Jalan Lombok yang menjadi ciri khasnya.

Menurutnya, kunci utama untuk melanjutkan bisnis kuliner dari keluarga ialah menjaga konsistensi cita rasa yang telah dikenal banyak pelanggan. Ke depan, dia mengatakan bakal membuat tempat permanen Ayam Goreng Gohyong Malaya di daerah Jakarta Pusat dan Selatan. "Insya Allah kalau masih berjalan nanti akan diterusin sampai anak cucu, ke generasi-generasi selanjutnya," katanya.

Baca juga: 5 Kuliner Legendaris di Jakarta, dari Bakmi Gang Kelinci Hingga Kopi Es Tak Kie

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Syaiful Millah 

SEBELUMNYA

Cek Rundown & Prediksi Setlist Konser Young K Letters with Notes di Jakarta

BERIKUTNYA

Jenama Modest Fashion naPocut Bawa Koleksi Self Revelation di Runway JFW 2024

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: