Ilustrasi warung (Sumber gambar: Unsplash/Devi Puspita Amartha Yahya)

Transformasi Digital Bikin Ritel Tradisional Naik Kelas, Begini Keuntungannya

17 October 2023   |   09:43 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Hingga saat ini gerai ritel tradisional masih menjadi andalan utama dalam berbelanja kebutuhan pokok masyarakat. Berdasarkan data dari Euromonitor, ritel tradisional yang di dalamnya termasuk toko kelontong tradisional juga masih menjadi retail dengan jumlah paling banyak di Indonesia.

Tahun lalu, angkanya tercatat hingga 3,94 juta unit. Jumlah tersebut setara 98,78 persen dari seluruh retail yang berada di dalam negeri. Hal itu membuat toko kelontong adalah jembatan utama penghubung antara produsen dengan konsumen.

Baca juga: Menangkap Peluang E-Katalog Bagi UMKM

Merujuk dari laporan Flourish Ventures pada 2022, sejauh ini gerai ritel tradisional, seperti warung, masih berkontribusi besar terhadap ekonomi dengan menghasilkan pendapatan US$180 miliar.

Dalam survei bertajuk Digitizing the Corner Shop Indonesia Spotlight tersebut, sebanyak 98 persen responden menyatakan mereka akan terus berbelanja di warung atau toko kelontong. Sebanyak 71 persen di antaranya bahkan menganggap kehadiran gerai ritel tradisional ini begitu esensial bagi komunitasnya. Kendati tak menutup fakta bahwa memang mengalami penurunan 1 persen dibanding tahun sebelumnya.

Meski detak jantungnya tak berhenti, warung dan toko kelontong terus tergerus dengan kompetisi dengan peritel modern. Pelan-pelan pelaku ritel tradisional mesti beradaptasi dengan kondisi tersebut.

Seperti disampaikan Indah Dwi Astuti, pemilik warung Sajadah Grocery ini mengatakan bahwa ada beberapa tantangan yang dihadapinya ketika memulai bisnis retail tradisional ini. Salah satunya ialah soal perkembangan usahanya di tengah cepatnya persaingan di bisnis retail.

Dirinya menyadari bahwa hampir semua arah usaha kini mengarah ke online, tak terkecuali ritel tradisional sekali pun. Walaupun demikian, dia sempat ragu untuk ikut melebarkan sayapnya di lokapasar.

Namun, melihat peluang besar yang ada, pemilik toko yang berlokasi di Tangerang Selatang itu  pun memberanikan diri ikut bersaing di pasar online. Rupanya, keputusan merambah ranah digital menjadi titik awal perkembangan usahanya.

Sebab, bergabung ke lokapasar membuat tokonya mengalami peningkatan omzet yang cukup signifikan. Indah yang bergabung ke marketplace Gudangada juga merasakan manfaat lain dari upaya go digital yang dilakukannya. Misalnya, jumlah pegawainya kini bertambah karena kebutuhan untuk pengiriman produk jadi meningkat.

“Marketplace membantu saya memasarkan produk. Bahkan sekarang kami sudah menambah produk yang tadinya 5 SKU menjadi 32 SKU,” jelasnya.

Indah menuturkan omzet tokonya naik hingga 30 persen hingga 40 persen. Selain itu, perputaran barang dan stok juga menjadi lebih cepat. Karena itu, Indah merasa bahwa menjalankan bisnis dengan dukungan teknologi sangat memberikan banyak manfaat.
 

Ilustrasi pedagang pasar. (Sumber foto: Unsplash/Devi Puspita Amartha Yahya)

Ilustrasi pedagang pasar. (Sumber foto: Unsplash/Devi Puspita Amartha Yahya)


Walau memang pada awalnya ragu, tetapi Indah melihat peluang besar menanti ketika memutuskan untuk go digital. Kini, retail tradisional yang tadinya dijalankan kecil-kecilan di depan rumah bisa berkembang menjadi lebih luas lagi dengan barang yang lebih lengkap.

Sementara itu, Pemilik Toko Putra Jaya Kartika juga mengatakan keputusan bergabung ke lokapasar membuat toko ritel tradisional miliknya berkembang. Tidak hanya tokonya saja yang berkembang, tetapi SDM di dalamnya pun ikut adaptasi sehingga bisa lebih melek teknologi.

Sebab, memasuki ekosistem digital membuat tokonya tidak bisa lagi hanya mengandalkan cara-cara konvensional. Misalnya, dalam hal transaksi dirinya juga sudah menyediakan opsi nontunai sehingga lebih memudahkan pelanggannya.

Selain itu, pencatatan barang masuk dan keluar juga mesti lebih detail. Sebab, pengiriman produk menggunakan jasa layanan menjadi lebih sering dilakukan. Hal ini tentu membutuhkan kolaborasi dengan beberapa mitra terkait dengan hal tersebut.

Kartika yang sudah bergabung ekosistem digital SRC sejak 2017 menyebut omzetnya kini jauh berbeda sebelum terjun ke lokapasar. Jika dahulu omzetnya hanya Rp500.000 per hari, kini bisa mencapai Rp20 jutaan. “Harapannya makin ada pembinaan agar kami terus berkembang. Sehingga bisa berkontribusi pada kemajuan UMKM di Indonesia,” imbuhnya.

Sementara itu, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan bahwa ritel tradisional memang masih menjadi favorit berbelanja kebutuhan di Indonesia. Ritel Tradisional masih memegang 70 persen hingga 75 persen total ritel secara nasional. Oleh karena itu, peran ritel tradisional dan warung masih sangat penting bagi ekonomi Indonesia.

Dalam tiga tahun terakhir, tren berbelanja masyarakat Indonesia juga tampak masih mengarah ke ritel tradisional. Minat masyarakat tersebut juga diiringi dengan kehadiran bentuk-bentuk baru dari ritel tradisional.
Misalnya, kehadiran warung Madura yang belakangan cukup banyak diperbincangkan. Selain isi tokonya yang lengkap, warung tersebut juga jadi andalan masyarakat karena buka 24 jam.

“Saat mobilitas mulai membaik, masyarakat masih memilih ritel tradisional dan akan makin ramai lagi pada momomen-momen tertentu, seperti Ramadan dan sebagainya,” ujar Bhima.


Kekuatan Ritel Tradisional

Uniknya, ritel tradisional tidak hanya hidup dari konsumsi kelas menengah ke bawah. Namun, kalangan menengah ke atas juga ikut menyuburkan pertumbuhan ritel tradisional. Oleh karena itu, keberadaan ritel tradisional ini masih sangat penting dan akan tetap eksis dalam waktu lama.

Walaupun demikian, cepat atau lambat ritel tradisional juga mulai mesti mengadopsi digitalisasi. Dengan cara ini, warung-warung kelontong bisa lebih berkembang dan menyasar ke pasar yang lebih luas lagi. Jika sistem di ritel tradisional lebih terstruktur, omzet dari ritel tradisional bisa naik hingga 20 persen.

Terutama, sejak masuk ke sistem digitalisasi. Dengan digitalisasi, pemilik usaha bisa mencari bahan baku yang lebih terjangkau, menghemat distribusi barang, dan pencatatan keuangan yang lebih baik.

Namun, ritel tradisional juga masih memiliki tantangan klasik. Misalnya, soal rantai pasokan yang cukup panjang dan keterbatasan penyimpanan barang. Selain itu, warung tradisional juga masih menerapkan utang sehingga bisa berdampak secara jangka panjang jika kondisi keuangannya tidak kuat.

"Masalah klasik lain ialah soal pembukuan. Perlu ada program dari pusat dan daerah untuk mengatasi hal tersebut. Mulai dari melakukan pendampingan hingga digitalisasi agar ritel tradisional ini bisa tetap eksis ke depannya," imbuhnya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Nirmala Aninda

SEBELUMNYA

Film Dokumenter Crush Tayang di Paramount+, Kisah Kelam Tragedi Halloween 2022 Itaewon

BERIKUTNYA

Hari Trauma Sedunia Diperingati Tiap 17 Oktober, Ini Sejarah & Tujuan Peringatannya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: