Sampul buku Anatomi Perasaan Ibu. (Sumber gambar : Instagram Sophia Mega)

Resensi Buku Anatomi Perasaan Ibu Karya Sophia Mega, Fase Kehidupan Unik Seorang Perempuan

16 October 2023   |   22:08 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Perempuan selalu dituntut untuk menjadi sempurna dalam norma, terutama ketika menjadi seorang ibu. Sosok ini memikul beban cukup berat dalam rumah tangga kebanyakan masyarakat Indonesia. Tidak seperti ayah yang fokus mencari nafkah, ibu mengurus segala kebutuhan hidup keluarga, meskipun kerap abai dengan kebutuhannya. 

Kondisi ini yang coba diulas Sophia Mega dalam buku barunya, Anatomi Perasaan Ibu. Ya, suara ibu dan kegelisahan yang menyertainya coba dibedah oleh penulis yang juga kreator konten ini. Bahkan jauh sebelum itu, dia menilik suara kaum perempuan dengan khittah yang telah digariskan.

Baca juga: Kutu Buku Merapat, Cek 5 Rekomendasi Toko Buku Independen di Jakarta yang Wajib Kalian Tahu

Sophia Mega menuliskan setiap fase ‘takdir perempuan’ di antaranya Pernikahan, Hamil, Melahirkan, dan Menjadi Ibu pada buku berwarna biru laut itu. Menggambarkan perasaan kaum hawa yang dituntut selalu menjadi sempurna dan memenuhi ekspektasi keluarga hingga masyarakat. 

Mungkin buku ini akan relate pada keluh kesah wanita yang kerap dituntut segera menikah, ketika sudah menikah pun dicecar pertanyaan kapan memiliki momongan. Tidak henti di situ, selalu ada pertanyaan lanjutan dan koreksi dari sekitar yang cukup memuakkan dan membuat lelah jiwa.  Namun sekali lagi, seorang wanita atau ibu harus tampil sempurna dengan menyembunyikan perasaannya. 

Dengan hadirnya Anatomi Perasaan Ibu, Sophia Mega seakan ingin menjadi tempat bertukar cerita. Dimulai dengan pertanyaan klise tentang mengapa seorang perempuan harus buru-buru menikah. Mungkin pandangan perempuan akan berbeda-beda mengenai hal ini, tetapi tuntutan untuk segera menikah pasti seragam dihadapi.

Sophia Mega sendiri tidak memiliki jawaban pasti mengapa harus ‘terburu-buru’ menikah, tetapi dia paham mengapa harus menikah karena ada harapan ‘gerbang kebebasan’ untuk pergi dari rumah karena satu dan lain hal. Faktanya, gerbang itu tidak benar-benar bebas.

Setelah menikah, Sophia Mega memasuki babak dan peran baru yakni menjadi istri dan ibu nantinya. Pertanyaan ‘apa menikah harus punya anak?’ pun jadi sub-bagian yang diulasnya. Bisa dikatakan, penulis ini sempat menerapkan konsep child free selama satu tahun. 

Bukan tanpa alasan, dia takut membayangkan punya anak. Salah satu sebabnya adalah ketidaktahuan akan alasan seseorang harus punya anak. “Mengapa setelah menikah harus punya anak? Apa yang akan terjadi jika aku dan suamiku tidak punya anak?” tanya Sophia Mega. 

Dia takut dihantui perasaan bersalah. Takut jika anaknya nanti tumbuh menjadi dirinya yang mengutuki nasib telah lahir ke dunia fana. Sophia Mega tidak ingin memiliki anak hanya untuk sebagai pelengkap pernikahan dan membebankan buah hatinya nanti kewajiban untuk ‘membahagiakan orang tua’. Menunda kehamilan, ternyata tidak cukup membuatnya tenang. 

Ya, Sophia Mega akhirnya memutuskan memiliki anak dan menjadi seorang ibu. Namun perjalanan menjadi ibu muda tidak semudah itu. Ketika anaknya lahir, Sophia Mega ternyata tidak hanya merasakan kebahagiaan saja. Emosinya sepaket dengan perasaan tak berharga, kesepian, kesedihan, kemarahan, hingga perasaan mulai gila. 

Saat baru saja melahirkan sang bayi, ibu bisa merasakan hati yang berbunga-bunga sekaligus rasa sepi yang mengakar. Pada hari-hari yang berat ibu juga kerap kehilangan diri, tetapi hal ini jelas tak akan dibagikan di internet. Itu terlalu nekat. Sebab ketika membagikan cerita bahagia saja, ibu masih sering mendapatkan koreksi atas kekurangannya dalam pengasuhan. Ya, lagi-lagi, ibu selalu dituntut menjadi sempurna.

Seperti pada bagian-bagian sebelumnya. Keresahan yang serupa muncul di benak para ibu muda, diulas dan akhirnya menemui solusinya, Pada bagian keempat berjudul, Menjadi Ibu, Sophia Mega menceritakan bagaimana susahnya dia menjadi ibu pekerja dengan beban berlipat di pundaknya. Dia mengalami kesulitan menghadapi pekerjaan atau mencari pekerjaan di masa kehamilan.

Belum lagi ketika anaknya lahir dan dalam masa tumbuh kembang. Seperti para ibu kebanyakan, Sophia Mega hampir gila menghadapi situasi ini. Frustasi datang setiap hari. Tak jarang dia berteriak mendadak hingga membuat anaknya takut. Gambaran serupa yang kerap viral di media sosial. 

Baca juga: Resensi Buku Tragedimu Komediku, Menertawakan Realitas Ala Eka Kurniawan

Melalui buku ini, Sophia Mega memilih melawan konsep kesempurnaan dengan membagikan cerita tentang menjadi ibu yang lebih jujur. Ibu perlu waktu untuk melepaskan emosinya sendiri, dibantu para suami, dan tidak harus dituntut untuk memuaskan pandangan keluarga atau orang sekitar. Ada waktu dikala ibu butuh rehat sejenak untuk pemulihan jiwanya. 

Judul: Anatomi Perasaan Ibu
Penulis: Sophia Mega
Penerbit: EA Books, 2023
Kategori : Gender
Jumlah halaman: 149 halaman
Bentuk karya : biografi
ISBN : 978-623-5280-12-7

Editor: Fajar Sidik 

SEBELUMNYA

Review Episode 4 Strong Girl Nam-soon, Pertemuan Haru Keluarga dan Pengejaran Gembong Narkoba

BERIKUTNYA

Koleksi Rose and Beyond Karya Desainer Ayu Dyah Andari Representasikan Mawar Sebagai Wanita

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: