Ilustrasi pembeli di toko furnitur. (Sumber gambar: Antoni Shkraba/Pexels)

Demand Tinggi Jadi Penopang Cuan Bisnis Furnitur

14 October 2023   |   17:57 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Bisnis furnitur masih menjanjikan di Indonesia. Salah satu faktor yang menopang bisnis perabotan rumah tangga itu adalah banyaknya pasangan muda kini yang telah memiliki rumah, dan gencar mencari furnitur untuk menciptakan hunian yang estetik sekaligus nyaman. 
 
Hal itu diungkapkan oleh Oktavianus Kusuma selaku National Head of Marketing, Merchandising and Support Atria. Pria yang akrab disapa Oki itu mengatakan bahwa tren positif bisnis furnitur terjadi sejak pandemi Covid-19 dan terus berlangsung sampai saat ini.

Baca juga: Denyut Furnitur Belum Luntur Meski Hadapi Banyak Tantangan
 
Sejak pagebluk melanda, banyak orang kini memberikan perhatian lebih untuk menciptakan hunian yang nyaman, agar betah berlama-lama di rumah. Hal itu tentunya tidak terlepas dengan kebutuhan akan furnitur atau perabotan rumah tangga, yang menjadi bagian dari interior rumah.
 
"Kenaikan bisnis [furnitur] di Atria rata-rata 10 persen per tahunnya selama lima tahun terakhir ini. Tapi fluktuasi bisa kadang-kadang 18 persen atau 20 persen, yang jelas di atas 10 persen," katanya saat ditemui Hypeabis.id di Atria Bintaro Jaya, baru-baru ini.
 
Dari segi demografi konsumen, Oki menuturkan pelanggan di Atria masih didominasi oleh kalangan orang dewasa yang telah mapan secara finansial yang biasanya melakukan transaksi dalam jumlah besar. Sementara sisanya adalah kalangan anak muda yang biasanya mencari furnitur untuk kebutuhan apartemen dan rumah minimalis.
 
Oki menjelaskan saat ini produk furnitur yang paling dicari konsumen ialah kebutuhan perabotan untuk ruang tamu (living room), kasur, furnitur kantor, dan barang-barang untuk ruang makan (dining room). Di samping itu, konsumen juga kini cenderung mencari furnitur dengan material yang mudah dibersihkan serta harga yang terjangkau.
 
Perkembangan bisnis furnitur di dalam negeri juga sejalan dengan makin besarnya tingkat persaingan di industri tersebut. Kini, banyak merek furnitur baik dari skala toko-toko konvensional, startup, ataupun omnichannel yang bermunculan di Tanah Air.
 
Di tengah kondisi tersebut, Oki mengatakan pihaknya terus berupaya menarik minat konsumen dengan service atau pelayanan yang ideal plus memberikan berbagai kemudahan, di samping menawarkan kualitas produk yang baik. Mulai dari menghadirkan jaminan kualitas produk, fasilitas gratis jasa desain interior untuk transaksi minimal Rp10 juta, gratis penitipan barang, dan gratis kirim dan pasang.
 
Selain itu, Atria juga memberikan fasilitas proteksi asuransi hingga 2 tahun, garansi 14 hari penukaran, cicilan 0 persen hingga 24 bulan, cicilan tanpa kartu kredit, serta jaminan harga yang lebih bersaing dengan merek lain.
 
Dia mengatakan fasilitas tersebut dibuat untuk tetap menjaga kemudahan konsumen dalam memenuhi kebutuhan furnitur di tengah daya beli masyarakat yang kini relatif mulai menurun. 
 
"Kami tetap optimistis dengan bisnis furnitur ini ke depannya. Selama penjualan properti naik, itu adalah space [market] buat kami. Karena furnitur itu berkaitan dengan kenyamanan, jadi akan terus ada pasarnya," ujarnya.
 

Ilustrasi pembeli di toko furnitur. (Sumber gambar: Antoni Shkraba/Pexels)

Ilustrasi produk furnitur. (Sumber gambar: Max Rabuhovski/Pexels)


Pertumbuhan Bisnis Furnitur

Hampir senada, Dick Chandra selaku National Head of Sales, Distribution and System Atria mengatakan saat ini penjualan furnitur baik secara daring maupun toko fisik sama-sama masih mengalami pertumbuhan yang positif. Bahkan, lanjutnya, konsumen kini justru lebih gencar untuk datang ke toko secara langsung untuk melihat dan menjajal produk.
 
Hal itu yang mendasari pihaknya untuk tetap gencar melakukan ekspansi dengan membuka gerai-gerai baru di berbagai daerah di Indonesia. Seperti diketahui, Atria baru saja membuka cabang gerainya yang ke-20 di Bintaro Jaya Tangerang Selatan.
 
 "Penjualan online masih belum besar porsinya baru 8-10 persen, sementara offline sampai 90 persen. Jadi [penjualan] offline dan online tetap jalan," katanya 
 
Untuk membuka satu gerai, Dick memaparkan pihaknya menggelontorkan biaya investasi sebesar Rp3 miliar-Rp4 miliar per toko seluas 1000-1500 meter persegi. Dari ekspansi toko yang dilakukan tahun ini, pihaknya menargetkan kenaikan penjualan sebesar 15 persen hingga 20 persen.
 
Setelah di Bintaro Jaya, Atria juga akan membuka gerai baru di Tasikmalaya pada akhir tahun ini. Adapun, pada tahun depan, anak perusahaan dari PT Catur Sentosa Adiprana itu akan membuka 5 gerai lagi di berbagai kota di Indonesia yakni Samarinda, Balikpapan, Kendari, Purwokerto, dan Aeon Delta Mas Cikarang.
 
"Tahun depan dengan penambahan lima toko, kami menargetkan adanya kenaikan penjualan sebesar 25 persen. Semua dana penambahan toko baru dari internal," terangnya.
 
Selain menyasar konsumen individu, Atria juga gencar melakukan bisnis kolaborasi dengan beberapa pihak lain seperti pengembang perumahan dan hotel untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Dick menjelaskan pangsa pasar bisnis di Atria saat ini masih lebih besar berasal dari penjualan ritel yakni sebesar 78 persen.
 
Sedangkan sisanya berasal dari penjualan online sebesar 8-10 persen dan projek kolaborasi sebesar 10-12 persen Sementara dari sisi produk, Atria bekerja sama dengan sejumlah perusahaan lokal untuk menghadirkan barang-barang furnitur berstandar internasional.
 
"Tahun depan, kami akan pakai juga teknologi AI [kecerdasan buatan] untuk bantu konsumen mendesain produk furnitur yang mereka mau," katanya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Nirmala Aninda

SEBELUMNYA

Klasemen Sementara MotoGP Jelang Seri Mandalika 2023, Jorge Martin Geser Francesco Bagnaia

BERIKUTNYA

Berkenalan dengan Seniman Erica Hestu Wahyuni, Karyanya Kekanakan Tapi Sarat Makna

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: