Nadya Pratiwi pemilik Nasi Peda Pelangi (Sumber Foto: Hypeabis.id/Kintan Nabila)

Nasi Peda Pelangi, Menu Rumahan yang Jadi Sajian Spesial di Tengah Gedung Tinggi Jakarta

01 October 2023   |   06:00 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah hiruk pikuk Kota Jakarta, semua orang berpacu dengan waktu. Menikmati makanan lezat pun rasanya tak sempat. Hari ini, besok, dan seterusnya fast food lagi, asal bisa mengganjal perut dan menambah tenaga untuk kembali bekerja. 

Namun, di antara gedung-gedung tinggi kawasan bisnis SCBD, kalian akan menemukan warung makan Nasi Peda Pelangi. Warung makan ini menyajikan kuliner tradisional yang cita rasanya mampu mengingatkan kalian akan lezatnya masakan ibu dan kehangatan rumah.   

Baca juga: Menikmati Ragam Sajian Tempo Dulu di Rumah Makan Legendaris Moerni 78 Yogyakarta

Nasi Peda Pelangi berlokasi di Fairgrounds, SCBD Lot 14. Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52 - 53, SCBD, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Bisnis ini berdiri sejak 2018 oleh founder dan owner-nya, yakni Nadya Pratiwi.

Mengusung slogan Bawa lidah Pulang di Tengah Gedung Tinggi Menjulang. Setiap harinya warung makan tersebut menyajikan nasi hangat dan lauk pauk seperti tumis ikan asin peda, telur ceplok, lalapan, dan keripik kentang. Tak ketinggalan ada juga kudapan tradisional seperti seperti donat kentang dengan taburan gula bubuk serta kopi buah.

Nadya Pratiwi, founder sekaligus owner Nasi Peda Pelangi menceritakan perjalanan bisnisnya ketika membangun warung makan yang menjual hidangan rumahan dan tradisional di tengah kota metropolitan.

"Waktu itu aku enggak kuat dengan macetnya Jakarta, akhirnya memutuskan untuk resign dari pekerjaan, lalu mulai bisnis kuliner menjual nasi peda," ujarnya dalam sesi bincang-bincang bertajuk Effortless Eats: Mastering The No-Fuss Culinary Bussines, di iDEAFEST JCC Senayan, Sabtu (30/9/2023).
 

Nasi Peda Pelangi (Sumber Foto: Instagram/@nasipedapelangi)

Nasi Peda Pelangi (Sumber Foto: Instagram/@nasipedapelangi)


Keputusannya untuk menjual nasi peda langsung dipandang sebelah mata oleh orang-orang terdekatnya. Lantaran belum banyak orang yang familiar dengan peda atau ikan asin. Meski begitu dia mantap memulai bisnisnya untuk mendirikan warung makan dengan konsep outdoor di kawasan bisnis paling sibuk di Jakarta.

"Sampai akhirnya pada 2019, bisnis berjalan dengan baik dan warung lagi ramai-ramainya, tiba-tiba ada pertanyaan yang muncul, ini nasi datangnya dari mana ya?" ujar Nadya.

Nadya pun tak habis pikir, sebagai penjual nasi peda, dia sendiri tak tahu dari mana asalnya bahan makanan yang disajikannya untuk pelanggan. Hal tersebut memacunya untuk belajar lebih banyak. Saat pandemi Covid-19 melanda, Nadya melakukan riset kecil-kecilan di rumahnya.

"Aku membandingkan berbagai macam nasi, mulai dari nasi organik dan nasi putih biasa yang dijual di pasar," kata Nadya.

Nasi tersebut didiamkan selama tujuh hari untuk dilihat seperti apa perubahan warnanya. Dia pun menemukan nasi dari beras biasa warnanya berubah hitam dan berjamur, sementara warna nasi dari beras organik yang ditanam tanpa bahan kimia masih berwarna putih.

Setelah menemukan mana nasi terbaik untuk disajikan di warung makannya, dia lalu meneliti bahan-bahan untuk membuat lauk pauknya. Nadya pun menemukan, bahwa makanan baik dan tidak baik tergantung dari tanahnya. Akhirnya dia pun melakukan riset kembali dengan cara menanam kangkung di berbagai tipe tanah.

"Setelah 30 hari panen, kangkung yang ditanam di tanah tanpa bahan kimia hasilnya segar, besar-besar, lebih renyah dan manis," katanya.

Setelah banyak berbincang dengan petani, Nadya menemukan tanah yang diberi bahan kimia akan menghasilkan bahan pangan yang berkualitas rendah. Selain itu bahan kimia juga bisa merusak kesuburan tanah dan mencemari lingkungan tempat tinggal manusia dan hewan.

"Mereka bilang ini bahan kimianya aman karena enggak kena makanannya langsung, tapi kan itu disemprotkan ke tanah dan yang tumbuh di tanah itu kita makan, jadi sama saja," kata Nadya.

"Di buku Mustika Rasa, ada statement yang menyebutkan, kalau tanahnya subur perutnya penuh dan bangsanya makmur, jadi kalau manusia enggak mau kelaparan, koneksi kita dan tanah mungkin harus dibangun lagi," jelasnya.

Sampai saat ini Nasi Peda Pelangi memiliki sawah sendiri di Sragen untuk menyuplai beras organik yang ditanam tanpa bahan kimia. Dengan begitu Nadya bisa tetap menyediakan bahan pangan berkualitas sambil tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Baca juga: Resep Risotto Khas Italia, Sajian Gurih Bertekstur Creamy

Mengingat banyaknya manfaat kesehatan dari Beras Baik yang dikirim langsung oleh petani lokal, Nasi Peda Pelangi bercita-cita untuk menyuarakan #BerasBaikMovement demi menyejahterkan kehidupan petani di Indonesia dan memulihkan kesehatan tanah dan air di Indonesia. 

Selain menggiatkan bahan pangan yang sehat, Nadya juga secara bertahap melakukan sustainable living di mulai dari warung makannya sendiri. Misalnya stop menggunakan sedotan dan wadah plastik lainnya, selain itu juga membiasakan untuk memilah-milah sampah di dapur.

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Akhirnya Gelar Konser di Indonesia Lagi, Berikut Profil Anggota One Ok Rock

BERIKUTNYA

Takaran Tepat MPASI Anak, Perlukah Menambahkan Sayur?

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: