Claypot Popo Sabang (Dok. Claypot Popo)

Nostalgia Comfort Food Claypot Popo

09 May 2021   |   10:56 WIB

Florencia Calista Tavares punya satu keinginan, yakni untuk menawarkan semangkuk Claypot hangat yang menenangkan. Flo, sapaan akrabnya, memutuskan untuk memulai usaha kuliner pada Oktober 2014 silam dengan modal terbatas.

Claypot Popo adalah kedai makanan yang menyediakan sajian khas Asia, dengan spesialisasi menu yang terdiri atas pilihan nasi atau misua yang disajikan pada wadah tanah liat lalu disiram dengan kaldu kental hangat.

Konsep bisnis yang ingin direalisasikan oleh Flo sesederhana menyajikan makanan yang rasanya sudah familiar dan harga terjangkau.

Claypot Popo dinamai demikian karena claypot atau wadah yang terbuat dari tanah liat menjadi media penyajian makanan di kedainya. Sementara itu, Popo berarti “nenek” dalam bahasa China.

Dari sekian banyak pilihan jenis bisnis dan menu yang tersedia, Claypot menjadi menu pilihan yang kemudian menjadi keunikan tersendiri bagi kedai yang memulai perjalanannya dari kios kecil di Pasar Santa.

 

Claypot Siram Sapi (Sumber: Dok. Claypot Popo)

Claypot Siram Sapi (Sumber: Dok. Claypot Popo)


Ketika baru merintis bisnis ini, momentumnya serba tepat. Saat itu Pasar Santa adalah sebuah tempat yang sangat hype di kalangan anak muda Jakarta.

Meskipun sangat sederhana, Flo dan mangkuk tanah liatnya berhasil memikat para pecinta kuliner ibu kota.

Flo berbagi kunci untuk merintis bisnis dari nol hingga menjadi ikon untuk comfort food seperti sekarang adalah konsistensi dan determinasi untuk tidak pernah menyerah.

Apalagi dalam menyajikan rasa otentik pada masakan Chinese tidak semudah menuliskan resep yang dapat diikuti oleh sang tukang masak.

Flo menuturkan bahwa Chinese food tidak punya resep saklek dan setiap orang yang memasak pasti punya emosi dan style sendiri. Tapi justru itu seninya dalam merintis bisnis kuliner.

 

Claypot Misua Tahu Telur Asin (Sumber: Dok. Claypot Popo)

Claypot Misua Tahu Telur Asin (Sumber: Dok. Claypot Popo)



Konsistensi ini juga ditunjukkan pada penyajian makanan. Flo mengungkapkan bahwa dari enam menu, hanya satu menu yang butuh claypot untuk proses pembakaran tapi lima lainnya tetap disajikan dengan claypot.

Saat ini Claypot Popo memiliki tiga cabang yang tersebar di Sabang (Haji Agus Salim), Kelapa Gading, Melawai.

Sebelum pindah dari kios di Pasar Santa, Claypot Popo juga pernah singgah di kawasan Haji Nawi dan foodcourt Golden Truly.

Sayangnya, kedua cabang itu dinilai kurang berhasil baik dari segi lokasi dan segmentasi market yang ingin dicapai yakni pekerja kantoran.

Flo merasa bahwa memilih Sabang sebagai lokasi cabang barunya pada 2017 silam adalah pilihan terbaik.

Cabang itu bahkan dianggap sebagai titik balik bagi Claypot Popo karena setelah dari Pasar Santa makin banyak orang datang ke kedainya berkat kekuatan media sosial.

Kedai di Sabang hanya seluas dua meter persegi bereksterior hijau dan hiasan lampion. Di dalamnya ruang duduk sangat terbatas, namun hal ini tidak mengurungkan niat pecinta kuliner untuk menikmati Claypot Popo.

Pada tahun yang sama, cabang Sabang mengalami kebakaran sehingga kedai harus tutup selama tiga bulan.

Namun hal ini tidak menyurutkan semangat Flo. Setelah renovasi, kedai ini justru diperluas dan selain jadi tempat makan juga menjadi tempat untuk nongkrong dan berfoto.

Claypot Popo dengan kedainya yang nyaman dan memiliki nuansa seperti di rumah telah meraih brand identitynya sebagai tepat yang menyajkan comfort Food.
SEBELUMNYA

Bukan Modal Besar, Ini Kunci Sukses Dalam Berbisnis

BERIKUTNYA

Batiksoul Guitars, Perkawinan antara Gitar & Batik

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: