Ilustrasi motif tenunan yang cantik (Sumber gambar: Syaoky Zakarya/Unsplash)

Mengenal Nilai Filosofis Kain Tenun Khas Kabupaten Buton Tengah

14 September 2023   |   17:21 WIB
Image
Yulita Theresia Maghi Mahasiswi Jurnalistik Universitas Nusa Nipa Indonesia, Maumere.

Provinsi Sulawesi Tenggara merupakan salah satu daerah yang terletak di Pulau Sulawesi. Provinsi ini juga menjadi salah satu penghasil nikel di Indonesia yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat Sulawesi Tenggara. Selain itu, Sulawesi Tenggara juga memiliki berbagai keanekaragaman hayati  yang menjadi khas Provinsi ini, misalnya anoa. 

Daerah yang sering disebut Bumi Anoa ini  memiliki berbagai ragam kesenian khas daerahnya. Salah satunya kain dalam bentuk tenunan khas Kabupaten Buton Tengah.  Daerah ini terkenal akan kain tenunnya yang begitu cantik dengan paduan desain yang menggambarkan keadaan alam serta sosialnya.

Beberapa karya penenun Buton Tengah, bahkan telah masuk dalam jajaran koleksi pameran KryaNusa yang diselangara di Jakarta Convention Center (JCC), 2023 . Nurul Aeni Mainu (Aeni), Kepala Bidang penggalian Data dan Informasi Industri, Kabupaten Buton Tengah, menjelaskan bahwa terdapat beberapa koleksi kelompok tenun yang dipamerkan di ajang tersebut.

Beberapa kelompok tenunan yang karyanya diikutkan dalam pameran KryaNusa adalah kelompok tenun Singgasana, Niralako, Gumanano, Mehuhi dan Wanbulolijaya. Kelompok tenun ini menciptakan tenunan khas Buton Tengah yang memiliki motif dengan nilai filosofi yang tinggi. Berikut penjelasan  Aeni,  terkait beberapa kain tenun Buton Tengah yang sarat akan makna.


 

Ilustrasi pembuatan kain tenun (Sumber foto: Disparsultra.id)

Ilustrasi pembuatan kain tenun (Sumber foto: Disparsultra.id)

 

Motif Lawalia

Jenis tenunan ini merupakan kerajinan yang diturunkan oleh nenek moyang masyarakat Buton Tengah. Lawalia merupakan salah satu koleksi pameran yang syarat akan nilai filosofisnya. Nama Lawalia sendiri diambil dari bahasa Buton Tengah (Lawa= Gerbang) dan  (La=Laki-laki dan Wa= Perempuan), serta  (Lia= goa). Dengan demikian, Lawalia bisa diartikan sebagai seorang laki-laki pemberani yang menjadi gerbang pelindung kekayaan alam di bumi Buton Tengah.

Kain tenun ini memiliki motif 7 gerbang dan kawat berduri. Motif 7 gerbang memvisualkan 7 kecamatan yang terdapat di Kabupaten Buton Tengah. Sedangkan motif kawat berduri menggambarkan pagar pembatas wilayah Kabupaten Buton Tengah dengan wilayah lain.
 

Motif Kerang Ombak

Keindahan motif pada kain biasanya menggambarkan suatu keunikan daerah tersebut. Misalnya bagi masyarakat Buton Tengah yang dominan tinggal di pesisir pantai yang mengumpulkan kerang untuk dijadikan olahan.

Dari kebiasaan tersebut, para perajin ingin mengilustrasikan keadaan ekonomi masyarakat pesisir dalam motif kerang dan laut pada tenunan. Motif ini juga memiliki fungsi sebagai bahan refleksi generasi masa kini yang sudah melupakan ciri khas daerahnya.
 

Motif Jelaja

Motif jelaja merupakan pola yang terinspirasi dari dinding rumah masyarakat Buton Tengah. Dijelaskan oleh Aeni, zaman dulu arsitektur rumah masyarakat Buton Tengah masih menggunakan bambu. Oleh karena itu, para seniman ini kemudian mengimplementasikan kehidupan masyarakat zaman dahulu dalam sebuah corak tenun.

Selain terlihat indah, corak ini  digunakan dalam tenunan agar anak muda zaman sekarang tidak melupakan peradaban masyarakat kabupaten Buton Tengah. Motif Jelaja juga digunakan sejak masyarakat Buton Tengah masih tergabung dalam kabupaten induk yakni Kabupaten Buton.
 

Motif Daun Kelor

Daun Kelor merupakan salah satu tumbuhan yang banyak digunakan oleh masyarakat sebagai sayuran. Selain itu, daun kelor digunakan sebagai pewarna alami  dan inspirasi desain motif tenunan, hal inilah yang dilakukan oleh penenun Buton Tengah.

Kebanyakan masyarakat Kabupaten Buton Tengah biasanya menggunakan daun kelor sebagai sayuran yang dipercaya memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Saking banyaknya masyarakat yang mengkonsumsi tumbuhan ini, akhirnya oleh para penenun dijadikan sebuah motif tenunan.
 
Itulah beberapa kain yang memiliki nilai filosofis yang tinggi dan sangat bermakna bagi masyarakat Buton Tengah. Kain-kain tersebut dipasarkan dengan harga yang bervariasi, mulai dari harga Rp400.000,00 hingga Rp950.000,00.

Baca juga: Eksplorasi Kain Tenun Lombok di Tangan Para Desainer

Aeni juga menjelaskan, penentuan harga ini didasarkan pada tingkat kerumitan motif dan juga bahan yang digunakan. Biasanya para penenun menggunakan kain dari bahan ekstra dan juga bahan katun yang tidak membuat penggunanya merasa gerah.


Editor: M R Purboyo

SEBELUMNYA

Proses Perjalanan Hidup Kunto Aji Tercurah dalam Album Pengantar Purifikasi Pikir

BERIKUTNYA

Hilang Sejak Pandemi, Lukisan Van Gogh Ditemukan Detektif Seni Belanda

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: