Ilustrasi produk perawatan kulit. (Sumber gambar: Karolina Grabowska/Pexels)

Di Balik Cerahnya Bisnis Skincare Lokal, Harga Terjangkau Saja Tidak Cukup

06 September 2023   |   08:30 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Memiliki kondisi kulit yang sangat sensitif, membuat Riska Elastria harus selalu memperhatikan kandungan skincare yang dia gunakan. Hal ini menjadi awal ketertarikannya untuk mengulik lebih jauh akan dunia kecantikan, termasuk mempelajari berbagai hal mengenai kulit wajah dan produk skincare.

Berbagai produk skincare dari dalam maupun luar negeri telah Riska coba. Namun, diakui olehnya belum ada produk dengan formula tepat yang bisa mengatasi kulit sensitifnya dari kemerahan dan iritasi.

Baca juga: Cegah Kerutan dan Flek, Cek Rangkaian Skincare Simpel untuk Pria Usia 30-an

Dia juga menemukan bahwa skincare yang ada di pasar seringkali memiliki kandungan yang baik tetapi dicampur menjadi produk dengan tingkat konsentrasi rendah yang tidak banyak memberikan pengaruh untuk kulit. 

Berangkat dari keresahannya itu, Riska pun akhirnya secara perlahan mulai mencoba menciptakan skincare yang bisa menjadi solusi dari masalah kulit yang dimilikinya. Berbekal dari ilmu tentang skincare yang dikuasainya, akhirnya dia meluncurkan brand lokal kecantikan True To Skin.

True to Skin merupakan brand perawatan kulit lokal minimalis yang mengusung konsep bahan aktif tunggal yang dipadukan dengan bahan alami, sehingga menghasilkan formulasi yang lembut dan aktif. 

"Melalui True To Skin, aku juga mau mengedukasi masyarakat tentang kandungan apa yang sebenarnya perlu mereka gunakan dan apa yang benar-benar bermanfaat bagi kulit mereka, sehingga mereka tidak hanya membeli tanpa menyadari kegunaannya," katanya.

Memiliki misi menjadi brand yang clean and minimalist, Riska mengatakan seluruh produk True to Skin terbuat dari bahan-bahan natural, tanpa parfum, paraben, dan pewarna sehingga aman digunakan untuk semua kalangan. Baik itu tipe kulit sensitif, ibu hamil, bahkan ibu menyusui.

Tidak cuma baik untuk kulit masyarakat karena menggunakan bahan alami yang berkualitas, Riska juga ingin menciptakan produk yang baik untuk lingkungan, dimana produk True To Skin juga vegan friendly dan cruelty free.

Bersama langkah-langkah kecil yang dia ambil dan diwujudkan lewat brand-nya, Riska ingin memotivasi masyarakat untuk menuju kebiasaan baik dengan memilih produk skincare yang lebih baik untuk kulit wajah dan lingkungan tanpa perlu khawatir harus mengeluarkan biaya yang besar.

Meski demikian, diakuinya membangun bisnis di tengah pandemi yang melanda tidaklah mudah. Setelah melewati proses panjang selama dua tahun untuk menciptakan produk dan mencari kandungan skincare yang tepat untuk negara tropis dan bagus untuk kulit sensitif, akhirnya True To Skin diluncurkan pada 12 Desember 2020.

Kala itu, Riska mengaku harus beradaptasi dengan perilaku belanja masyarakat yang beralih ke belanja online. Oleh karena itu, bersamaan dengan peluncuran pertama True To Skin, dia juga membuka toko online pertama di ecommerce untuk menjual dan memperkenalkan produk-produknya.

Berbagai kampanye dan fitur yang ada di ecommerce pun terus Riska eksplor dan pelajari hingga akhirnya memberikan manfaat yang signifikan terhadap penjualan True To Skin. Salah satunya adalah fitur Live Shopping yang menurutnya membantu memberikan pelayanan interaktif dengan pengguna, bahkan membuat jumlah pesanan produk skincare True To Skin meningkat sampai 2 kali lipat.

Baca juga: Tren Skincare: Pencerahan Kulit Disukai Pasar Indonesia, Pasar Eropa Pilih Anti Penuaan

"Berawal dari empat orang karyawan yang harus mengerjakan berbagai hal operasional, kini sudah berkembang dan memiliki lebih dari 30 orang karyawan," katanya.
 

f

Ilustrasi seseorang sedang melakukan perawatan kulit. (Sumber gambar: Cottonbro Studio/Pexels)

Ya, masyarakat Indonesia kini menaruh minat yang besar terhadap produk-produk skincare juga makeup lokal. Laporan ZAP Beauty Index 2023 menyebutkan bahwa 96,8 persen dari 9.000 responden yang disurvei mengaku telah menggunakan produk skincare lokal. Sementara hanya 3,2 persen yang menggunakan produk perawatan kulit dari luar negeri.

Di sisi lain, laporan dari Populix bertajuk Unveiling Indonesian Beauty & Dietary Lifestyle menyebutkan bahwa sebanyak 54 persen responden lebih memilih produk makeup lokal dibandingkan dari luar negeri. Dua alasan terbesar responden lebih memilih produk makeup lokal yakni karena harganya yang terjangkau dan kualitasnya yang serupa dengan produk-produk merek kenamaan.

Sejalan dengan itu, kini merek produk skincare lokal juga kian menjamur salah satunya adalah Deca Group. Didirikan sejak 2016, saat ini Deca Group telah mengeluarkan sejumlah merek skincare yakni Everwhite, Everslim, Everpure, Whitelab, Trueve, White Story, dan Bonavie.

Co-Founder Deca Group Jessica Lin mengatakan pertumbuhan bisnisnya tak lepas dari kepercayaan masyarakat yang juga meningkat pada merek skincare lokal. Selain itu, para pemilik merek lokal juga dinilai semakin banyak mengeluarkan produk-produk inovatif yang membuat semakin banyak pula pilihan skincare yang ada di masyarakat.

“Dengan harga yang juga affordable, jadi kepercayaan masyarakat terhadap brand lokal beauty terus meningkat. Jadi marketnya semakin besar," katanya.

Diakui olehnya kepercayaan tersebut tidak datang begitu saja. Ada peran beauty influencer yang ikut mengedukasi, yang membuat masyarakat semakin mengerti dan sadar pentingnya perawatan untuk kulit wajah. Edukasi yang dilakukan influencer juga turut membentuk tren.

Jessica menuturkan dua produk skincare yang saat ini menjadi primadona di kalangan konsumen adalah serum dan moisturizer. Serum merupakan sejumlah bahan aktif mulai dari vitamin dan asam, retinol, hingga antioksidan yang digunakan untuk berbagai jenis permasalahan kulit seperti mencerahkan, peremajaan, menyamarkan keriput, menghilangkan noda hitam dan jerawat, hingga memperbaiki tekstur kulit wajah.

Sementara moisturizer merupakan pelembap yang digunakan untuk mengembalikan protein keratin pada kulit wajah, sehingga tetap lembab, halus, dan sehat. "Tren 2023 ini masih didominasi oleh moisturizer karena edukasi di masyarakat tinggi tentang pentingnya skin barrier atau dasar kulit yang sehat," kata Jessica.

Konsumen Deca Group sendiri didominasi oleh kalangan anak muda dengan rentang usia 15-30 tahun. Jessica mengatakan hal inilah yang membuat pihaknya lebih memaksimalkan penjualan secara daring daripada toko fisik, melalui berbagai platform ecommerce dan media sosial.

Diakuinya di awal merintis bisnis kecantikan, tantangan terbesar yang dihadapinya yakni meyakinkan konsumen terkait kualitas produk skincare lokal. Namun, kini, dia menghadapi tantangan bagaimana bisa terus berinovasi sehingga selalu menawarkan kebaruan kepada konsumen baik dari segi kualitas produk maupun strategi pemasaran.

Oleh karena itu, untuk terus dapat meningkatkan bisnisnya, Jessica konsisten untuk terus berinovasi dengan melakukan improvisasi dengan produk-produk yang telah dikeluarkan maupun meluncurkan produk baru yang diminati pasar, termasuk mengadaptasi perkembangan teknologi digital untuk memaksimalkan promosi dan penjualan secara daring.

Baca juga: Proteksi Kulit dari Efek Polusi Udara, 6 Kandungan Skincare Ini Ampuh Tangkal Radikal Bebas

Editor: Dika Irawan

SEBELUMNYA

Review Alat Cukur Elektrik OneBlade vs UniBlade, Genhype Pilih Mana?

BERIKUTNYA

Profil Karier Jungwoo NCT, Duta Merek Korea Pertama Brand Italia Tod's

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: