Beberapa karya litografi dalam pameran Book Paper and Discovery (sumber gambar Hypeabis.id/ Prasetyo Agung)

Menyimak Keindahan Masa Lalu Lewat Pameran Book Paper and Discovery Lithography

30 August 2023   |   11:53 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Sejarah seni rupa modern Indonesia tak bisa dilepaskan dari kolonialisme dam imperialisme. Sebab, kolonialisme bukan hanya sekadar sejarah penguasaan politik dan perniagaan, melainkan juga penaklukan dan penguasaan budaya tanah jajahan.

Pada awal abad ke-18 hingga 20,  bahkan para perintis kajian botani dan antropolog dapat menjadi selebritis lewat kisah-kisah ajaib. Terutama mengenai wilayah eksotis yang belum tercantum dalam peta, saat mereka pulang ke Eropa dengan membawa berbagai contoh flora dan fauna yang membuat publik tercengang.

Kini, hasil dari ekspedisi maupun berbagai penemuan itu pun tertuang dalam deretan arsip yang dipacak di Dia.Lo.Gue Artspace. Mengambil tajuk Book, Paper and Discovery, pameran ini menyajikan deretan arsip berupa buku, peta, dan karya litografi berusia ratusan tahun dalam semangat orientalisme.

Baca juga :   Resensi Buku Pengantin-pengantin Loki Tua: Sebuah Upaya Menelisik Riwayat Si Juru Masak Agung

Total terdapat sekitar 40 buku dan 107 karya litografi yang dikumpulkan oleh kolektor dari berbagai sumber. Hadirnya buku dan gambar dari periode di masa kolonial ini juga seolah membuktikan bahwa Indonesia memang menarik bagi para peneliti, baik dari segi keanekaragaman hayati, budaya, dan sosialnya.

Dalam catatan buku Lexicon Indonesian Artist, bahkan dituliskan pada periode 1600–1950 setidaknya ada 3000 seniman dari luar Indonesia yang datang ke Nusantara untuk berkarya. Termasuk nama-nama besar seperti Walter Spies dan Rudolf Bonnet yang kelak turut membentuk seni rupa modern Indonesia.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Indo/Art/Now (@indoartnow)


Selain itu, ada juga buku The History of Java Karya Sir Thomas Stamford Raffles dari ekspedisinya berkeliling Pulau Jawa pada awal abad ke-19. Saat itu di terobsesi untuk mencatat keanekaragaman geografi hingga menghasilkan gambar-gambar yang indah mengenai kehidupan di Pulau Jawa pada masa itu.

Satu lagi buku terkenal mengenai alam Indonesia khususnya tentang vulkanologi adalah The Landscape of Java’s Album. Buku karya Junghun, naturalis asal Jerman ini berisikan berbagai gambar litografi mengenai gunung-gunung berapi di sepanjang Pulau Jawa, baik itu berupa peta maupun lukisan bentang alam.

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Ristek Hilmar Farid mengatakan, banyaknya karya buku mengenai Nusantara dari ribuan peneliti dan penjelajah yang datang pada masa kolonial mempunyai alasan yang sama. Menurutnya, Eropa saat itu takjub dengan keanekaragaman hayati dan budayanya yang beragam.

Namun dia juga menggarisbawahi bahwa keluar-masuknya para orientalis itu ke berbagai daerah di Tanah Air juga tak lepas dari bantuan penduduk lokal, salah satunya Ali Wallace. Sayangnya, peran mengenai orang-orang tersebut hingga saat ini belum banyak dicatat dalam kajiaan sejarah Indonesia.

"Hal inilah yang menjadikan Nusantara sebagai tempat bagi mereka untuk belajar. Oleh karena itu marilah kita merapatkan barisan kembali untuk menggunakkan potensi [alam dan budaya] ini demi kemajuan bangsa," katanya.

Sajikan Beragam Tema

Adapun dalam pameran yang berlangsung hingga 3 September 2023 ini salah satu yang menarik adalah litografi bertajuk Riviere de Bezouki A Java (Sungai Besuki, Sitobondo, Jawa Timur). Karya grafis cetak datar itu diambil dari buku Voyage Autour du Monde 1835 mengenai penjelajahan bangsa Prancis untuk memperluas pengaruh mereka di Asia Tenggara.

Dalam lukisan berdimensi 32 X 24 cm itu Barthelemy Lauvergne, sang seniman menggambarkan keindahan Sungai Niyama di Tulungagung, Jawa Timur. Dengan teknik aquatint dia melukiskan kelimun sufi yang tengah berbincang-bincang sembari menunggu kuda mereka minum air.
 

karya P.van Oort  berjudul De Goenong Gamoeroe (sumber gambar Dia.Lo.Gue)

karya P.van Oort berjudul De Goenong Gamoeroe (sumber gambar Dia.Lo.Gue)


Keindahan bumi Nusantara juga terekam dalam karya P.van Oort  berjudul De Goenong Gamoeroe (Gunung Gemuruh, 32,5 X 22,5 cm) di Cianjur, Jawa Barat. Karya bertitimangsa 1844 itu melukiskan keindahan lanskap berlatar gunung Gemuruh dengan objek cikar sapi dan penungganya yang sedang istirahat.

Tak hanya keindahan alam, eksotisme Nusantara juga berhasil memikat sosok Frans Carel Wilsen. Seniman Belanda yang terkenal lewat sketsanya mengenai Candi Borobudur itu juga mengabadikan keindahan budaya Jawa, termasuk Tari Bedoyo yang dibuat menjadi karya litografi oleh C.W. Mieling.

Seri litografi bertitimangsa 1876 dengan ukuran 45 X 35 cm itu dimuat dalam buku De Indische Archipel yang terbit pada 1820-an. Sesuai judulnya, karya teknik cetak berwarna itu mengabadikan kelimun penari bedoyo di Keraton Yogyakarta pada malam hari dengan purnama mengambang.

 

Karya  Frans Carel Wilsen berjudul Bedoyo danseressen aan het hof van de sultan van Yogyakarta  (sumber gambar Dia.Lo. Gue)

Karya Frans Carel Wilsen berjudul Bedoyo danseressen aan het hof van de sultan van Yogyakarta (sumber gambar Dia.Lo. Gue)

Selain karya seniman mancanegara terdapat pula karya Raden Saleh. Maestro lukis Indonesia itu membuat lukisan bertajuk Tjigers En Leeuwen In Gevecht Over Een Dood Paard (Harimau dan Singa Berebut Kuda Mati, 1847) yang dilitografikan oleh Francicus Bernardus Waanders.

Sesuai judulnya, karya berdimensi 26 x 18,5 cm ini melukiskan adegan dramatis mengenai pertarungan singa dan harimau dalam berebut mangsa. Binatang itu saling menggigit dengan latar gunung dan bebatuan dengan objek kuda yang telah menjadi bangkai di bawah mereka.

Kurator Hermawan Tanzil mengaatakan hadirnya karya litografi dari buku-buku tersebut memang membutuhkan proses yang panjang. Sebab pada waktu itu untuk mereproduksi sebuah gambar harus menggunakan teknik khusus, proses yang panjang, dan rumit karena terbatasnya peralatan.

Dia mencontohkan misalnya, untuk membuat buku The Malay Archipelago, Alfred Russel Wallace harus melakukan perjalanan keliling Nusantara selama 15 tahun dalam kurun waktu yang berbeda. Kendati begitu, karya-karya yang dihasilkan memiliki keindahan yang tiada duanya.

"Karya-karya litografi ini memperlihatkan bahwa seni, khususnya grafis, tidak hanya untuk segi estetika saja tetapi juga menjadi penting sebagai pembelajaran kita tentang banyak hal, dari alam dan budaya, bahkan sosial dan politik melalui karya-karya yang dihasilkan," katanya.

Baca juga:  6 Tema Buku Seru Sekaligus Edukatif yang Cocok Dibaca Anak-anak

Editor: Puput Ady Sukarno

SEBELUMNYA

Indeks Kualitas Udara DKI Jakarta pada Rabu 30 Agustus 2023 Tetap Merah

BERIKUTNYA

Tangani Dampak Polusi Udara, 674 Puskesmas Disiapkan Untuk Deteksi ISPA

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: