Ilustrasi tempat bermusik (Sumber gambar: Unsplash/John Matychuk)

Hypereport: Skena Musik di Kota-kota Indonesia yang Kian Bernada

06 August 2023   |   04:50 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Di alun-alun kecamatan Pamulang, Tangerang Selatan, terdapat sebuah prasasti besar berisi penggalan lirik lagu “Pulang ke Pamulang” karya Endah N Rhesa. Lagu yang dirilis pada 2020 lalu itu kini telah terpatri abadi di pusat kota yang masuk ke dalam wilayah Tangerang Selatan tersebut. Berikut isi tulisannya. 

Selalu beri arti pulang,
Kawanku t’lah tumbuh seribu,
Doaku akan selalu pulang ke Pamulang.


Baca juga laporan terkait: 
Hypereport: Mengulik Seluk Beluk Skena Lewat Kacamata Musisi 
 

Terbentang belasan ribu kilometer jauhnya, di Inggris, Kota Liverpool dengan bangga memajang patung The Beatles sebagai penanda betapa legendarisnya empat sekawan itu dalam bermusik. Karya seni berbahan dasar perunggu ini karya dari Andy Edwards.

Patung yang berada di Pier Head ini menggambarkan John Lennon, Paul McCartney, George Harrison dan Ringo Starr tengah berjalan kaki. Dengan berat sekitar 1,2 ton, patung ini dengan mudah jadi daya tarik bagi Kota Liverpool sekaligus menandai ekosistem musik di sana pernah begitu bergeliat, bahkan hingga saat ini.

Belum lama ini, Liverpool juga masuk ke dalam jajaran Kota Musik Dunia versi UNESCO. Tak hanya pernah melahirkan banyak musisi hebat, kota ini juga memang masih menjadi surganya berbagai festival musik berkelas internasional.

Kota dan musik adalah dua hal yang saling bertaut. Kota membutuhkan musik agar wilayah ini tak berisi beton dan aspal saja. Musik juga membutuhkan kota sebagai lokus untuk mengembangkan jati dirinya.

Pengamat musik nasional Nuran Wibisono mengatakan bahwa musik dan kota punya hubungan resiprokal. Sebuah kota dan kehidupannya jelas berpengaruh terhadap sudut pandang dan cara musisi berpikir serta membuat lagu.

Silampukau, misalkan, yang bisa menulis lagu-lagu apik tentang Surabaya, juga Superman Is Dead tentang Bali, dan Shaggy Dog tentang Sayidan, sebuah kampung di pinggir sungai di tengah Kota Yogyakarta.

Semuanya itu tentu saja terjadi karena suatu hal. Kota memengaruhi para musisi. Sebaliknya, musisi juga dipengaruhi kehidupan di kota masing-masing. Hal-hal seperti ini tentu jadi bagian tak terpisahkan.

“Kalau bisa dibilang, skena musik di kota-kota Indonesia terus bertumbuh dengan cara masing-masing. Di Bogor, contohnya, ada banyak band-band baru yang bagus, dari Swellow sampai The Jansen. Di Jawa Timur, kota seperti Surabaya, Ponorogo, Madiun, hingga Jember terus hidup walau mungkin tak terendus di Jakarta,” jelas Nuran kepada Hypeabis.id

Baca juga: Hypereport: Risiko Pembajakan di Tengah Maraknya Platform Streaming Musik Digital

Mereka punya geliat dan cara bersenang-senang masing-masing. Dari bikin festival swadaya, rekaman, dan mengedarkan karyanya sendiri. Di luar Jawa, kota-kota seperti Labuan Bajo, Makassar, Palembang, juga Jayapura dan Manokwari, terus bergerak dan punya kehidupan musikalnya masing-masing. Medan juga, kata Nuran, punya Peach, all-female rock band yang juga sedang menuju besar.

Di luar Jakarta dan Bandung, yang sejak lama jadi kiblat musik nasional, kota-kota lain bahkan di luar Jawa terus menunjukkan semarak yang menarik. Tempat-tempat tersebut terus melahirkan regenerasi musisi yang punya kreativitas baru dan berpengaruh.

Bogor, misalkan, sampai saat ini masih dianggap sebagai salah satu kiblat indie rock di Indonesia. Makassar juga punya Theory of Discoustic (ToD) yang membuat orang yakin bahwa musik dengan bahasa Ibu itu bisa keren dan bikin bulu kuduk meremang.

“Tentu saja pengaruh ini parameternya akan banyak berbeda satu sama lain. Namun, kota-kota ini terus melahirkan band-band baru dengan gaya musikal yang segar,” imbuhnya. 
 

Grup The Secret tampil di Earhouse (Sumber gambar: Instagram/Earhouse)

Grup The Secret tampil di Earhouse (Sumber gambar: Instagram/Earhouse)


Akses Bermusik 

Selain ekosistem musik yang kian hari terbentuk, geliat ini juga salah satunya didorong oleh akses terhadap informasi dan hal teknis yang makin terbuka. Misalnya, dahulu akses terhadap informasi, terutama pada masa prainternet, masih terbatas.

Sekarang, dengan adanya internet, juga layanan streaming musik, membuat referensi mudah dicari. Hal ini melahirkan kemungkinan-kemungkinan yang nyaris tak terbatas. Belum lagi soal distribusi musik yang jadi lebih mudah.

Nuran mengatakan bahwa ekosistem ideal sebuah kota bisa melahirkan banyak musisi adalah punya berbagai fasilitas musik memadai. Dari studio latihan, studio rekaman, sekolah musik dan audio, sampai gedung pertunjukan. Namun, ungkapnya, di Indonesia ini sulit mencapai sesuatu yang ideal. “Jadi, ya gitu deh. Hehe” tuturnya.

Kombinasi instrumen ideal itu memang jadi pemicu yang agaknya penting. Pada awal 1990-an, band-band Indie banyak lahir di Jakarta pusat dan didominasi jebolan Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Seperti Rumahsakit, Naif, The Sastro, hingga Goodnight Electric.

Di kota ini kala itu, Jakarta juga punya banyak venue, kafe, atau bar yang digunakan sebagai ajang musisi baru unjuk gigi. Poster Cafe jadi salah satu yang melegenda. Banyak band-band besar lahir dari sini.

Selain itu, Bar Blues Menteng, Parc Bar Blok M. Score! Cilandak Town Square, Jaya Pub, hingga Heyfolks juga bermunculan saling bahu membahu membentuk skena musiknya masing-masing, meski kini ada yang kemudian tinggal kenangan.

Namun, bak mati satu tumbuh seribu, ada tempat-tempat baru yang kemudian bermunculan. Di Jakarta Selatan, masih ada M Bloc Space yang rutin punya banyak aktivitas musik seru. Di Tangerang Selatan, Earhouse yang dibikin Endah N Rhesa juga jadi tempat para musisi bersua, membangun cerita, dan berkembang.

Kafe yang didirikan sejak 2013 ini juga punya semangat serupa. Beberapa kegiatan bermusik di kafe ini adalah Earhouse Songwriting Club yang digelar tiap Senin malam, Earhouse Guitar Club tiap Selasa tetapi terkadang digelar online melalui Instagram egcLaboratory.

Kemudian, ada Earhouse Open Stage tiap rabu malam, Live at Earhouse tiap Kamis malam, dan acara talkshow dan workshop yang kadang-kadang juga diadakan di kafe yang terletak di kompleks Pasar Kita Pamulang tersebut. Menurut Endah Widiastuti, tujuan diadakannya acara tersebut ialah untuk memanfaatkan ruang sambil silaturahmi, bergaul, belajar, dan melakukan hal-hal positif.

“Acara musik rutinan kami buat memang sejak awal berdirinya Earhouse. Idenya sebenarnya dari komunitas-komunitas yang dulu pernah kami sambangi sebelumnya seperti Komunitas Jazz Kemayoran, Warung Apresiasi, Komunitas Jazz Klab 45, Friday Jazz Night Ancol, Blues Night di BB’s Cafe Menteng, Komunitas Taman Langsat, dll. Hasil dari mengamati dan belajar dari sana,” jelasnya kepada Hypeabis.id
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by earHouse (@earhouse)


Menurut Endah, selama ini berbagai acara musik yang digelar di kafenya disambut cukup antusias, baik oleh musisi maupun penonton. Memang, katanya, tidak semua acara ramai atau didatangi banyak pengunjung. Kalau kebetulan band atau musisi punya massa yang banyak, acara pun bisa jadi seru juga.

Terkadang, memang ini jadi tantangan juga buat grup musik baru dan juga tempatnya, apalagi ketika menghadirkan musisi dengan lagu-lagu ciptaan sendiri. Sebab, biasanya memang orang cari live music untuk main lagu yang mereka kenal dan bisa request lagu yang populer saat itu.

Namun, di Earhouse memang konsepnya berbeda dan jadi selalu tidak bisa ditebak setiap gelarannya. “Justru serunya di situ, kan?” tuturnya.

Tempat ini kemudian menjadi layaknya rumah bagi banyak musisi baru tampil dan banyak genre dimainkan. Untuk yang mengisi kegiatan komunitas, Endah menyebut banyak orang Tangsel dan sekitarnya yang hadir karena memang tidak jauh dari rumah.

Namun, untuk acara Live at Earhouse, penampil justru lebih beragam lagi. Ada yang dari Bandung, Bali, Surabaya, Malang, Padang, Samarinda, hingga Makassar. Menurut Endah, acara-acara live music belakangan berkembang dan cukup sering ditemui di wilayahnya.

“Di Pasar Kita Pamulang, tempat di mana Earhouse berada, itu sekarang sering ditemui live music. Ada komunitas Kobra Musik yang menjalankan kegiatan di bagian ruko belakang Pasar Kita Pamulang. Di bagian depan pasar juga ada musik yang seru. Pernah ada anak-anak metal dan hip hop juga. Ada lagi di kafe-kafe atau studio gigs di luar Pasar Kita Pamulang. Pamulang banyak band-band berbahaya dari berbagai genre. Makanya kami betah di sini. Hehehe!” tutupnya. 

Baca juga: Hypereport: Dari Kamar ke Panggung, Kisah Inspiratif Para Kreator

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Syaiful Millah

SEBELUMNYA

Dapat Rating Mengesankan, Cek 3 Profil Pemeran Utama Serial The First Responders Season 2

BERIKUTNYA

6 Film & Serial Tayang Agustus 2023 di Disney+ Hotstar

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: