We Are Human (2023), 430 x 270 x 270 cm, fiberglass and spray paint, (Sumber gambar: Galeri ROH)

Cerminan Manusia Modern dalam Karya Seniman Eko Nugroho 'We Are Human'

01 August 2023   |   14:30 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Sebuah patung berukuran 430 x 270 x 270 cm karya seniman Eko Nugroho berada di tengah-tengah ruang pamer Galeri ROH yang berada di Jakarta. Berjudul We Are Human (2023), karya tersebut merupakan cerminan manusia saat ini yang makin teralienasi oleh wabah, teknologi, dan ego.

We Are Human merupakan salah satu dari sejumlah karya yang dibuat oleh Eko dalam pameran tunggalnya bertajuk Cut The Mountain and Let it Fly yang berlangsung sampai 13 Agustus 2023.

Eko mengatakan bahwa dalam karya tersebut manusia terlihat hanya hidup seperti dalam mesin. Mereka menjalani kehidupan bersama, tapi merasa asing atau teralienasi. Dari zaman ke zaman, dunia selalu penuh kebaruan. Namun, sebenarnya, manusia itu sendiri hidup dalam pikiran-pikiran pada masa purba.

Baca juga: Eko Nugroho, Seniman Kontemporer Lekat dengan Bahasa Visual Baru

“Ini terasa satir bagi bumi yang kita tinggali bahwa perdamaian dunia selalu kita suarakan, tapi kalimat berikutnya yang kita dengar adalah ‘kapan?, ‘sekarang?’ Saya lebih suka menggunakan kata ‘kapan?’. Bisa jadi sekarang sudah damai, tapi itu tidak lama dan akan terjadi perang lagi,” katanya kepada Hypeabis.id.

Dia berpikir bahwa kecerdasan manusia seolah-olah hanya terbentur dengan hal itu. Kian cerdas manusia, maka individu makin menemukan ego yang ada di dalam diri. Perdamaian tidak akan ada di antara manusia ketika mereka kian “memegang” egonya.

“Ini adalah bentuk manusia kita sekarang dan bentuk bumi sekarang, simbolnya luas dengan apa yang terjadi sekarang ini,” katanya.

Karya dengan medium fiberglass dan spray paint itu juga menjadi refleksi salah satu virus terbesar yang mengubah sejarah manusia pada abad 21. Sebelumnya, kondisi sosial menjadi sesuatu yang sangat didambakan dan menjadi tujuan. Namun, pandemi mengubah semuanya.

Setelah pandemi, kondisi sosial adalah sesuatu yang perlu direncanakan ulang karena bukan lagi sesuatu yang bersifat fisik. Dengan adanya kepentingan dan kemajuan teknologi, manusia menentukannya caranya bersosial.

Mereka melakukan hubungan dengan manusia lainnya dengan cara yang baru lantaran takut dengan penyakit, kriminal, kontaminasi, dan sebagainya yang sebenarnya juga buatan manusia itu sendiri.

“Sebenarnya ini cerminan pemikiran dan pandangan saya tentang modern life today, kita semua hari ini. Kita terpenjara dalam higienis, healthy, tapi kita merasa teralienasi. Kita hanya akan bergerak kemana tetapi kita hanya akan melihat,” katanya.

Dia menuturkan, individu akan merasa secure jika berada di dalam karya tersebut atau menjadi mata yang melihat keluar. Sementara itu, seseorang akan merasa tidak aman atau insecure jika berada di luar karya tersebut.

Dalam karya tersebut, sang seniman menampilkan banyak mata sebagai simbol bahwa manusia bisa melihat ke banyak arah. Namun, sebenarnya, manusia terkungkung sendiri.

“Sebenarnya yang akan bersosial itu adalah pikiran-pikiran kita, karena sosial media itu hanya akan connect secara media tapi bukan secara fisik, misal jabat tangan, bersentuhan, berpelukan, dan lain-lain. Karena sentuhan itu membawa efek yang berbeda secara psikologi,” katanya.

Manusia bisa melakukan banyak kegiatan secara daring dengan menggunakan aplikasi seperti mengirim uang, membeli makanan, membayar taksi, memberikan hadiah ulang tahun. Namun, individu tidak eksis secara manusia yang datang memberikan pelukan dan ucapan hangat atau memegang tangan teman yang sakit untuk menenangkan.

“Media sosial bagaimanapun tetap berjarak [secara fisik],” tegasnya.
 

(Sumber foto: ROH)

(Sumber foto: ROH)

Eko menuturkan bahwa pameran ini sempat tertunda lantaran pandemi yang berlangsung di dalam negeri. Dengan begitu, maka dia memiliki waktu sekitar satu tahun untuk memproduksi karya-karya baru, seperti We Are Human dan Half Hero Half Stone.

Karya yang ada dalam pameran diawali dari fenomena setelah masa pandemi dan ketertarikannya untuk menyoroti kehidupan manusia pada situasi normal. “Karya-karya ini tentang fenomena-fenomena apa yang terjadi setelah pandemi,” katanya.

Dia berharap pengunjung datang ke pameran dengan mengosongkan pikiran dan visual. Dia menuturkan  membuka dengan lebar pintu apresiasi dan pemaknaan terhadap karya yang dipamerkan bagi para pencinta seni yang datang.

Selain itu, dia juga menjadikan pameran tesebut sebagai ruang berimajinasi juga untuk para penikmat karyanya. kemudian, sang seniman juga berharap dapat membuka kesadaran-kesadaran tentang kondisi sekitar manusia melalui karya ini.

“Karena yang saya bangun melalui karya ini adalah juga menggunakan metode dan teknik yang menggunakan media-media yang saya jumpai, seperti bordir, patung,” katanya. Karya-karya dalam pameran ini menyoroti kehidupan sehari-hari yang ada di sekitar dan kadang terlewatkan untuk dicermati.

Jun Tirtadji, Pemilik Galeri ROH, mengatakan bahwa Cut the Mountain and Let it Fly adalah presentasi karya-karya sang seniman yang dibuat dalam 5 tahun terakhir. Karya-karya itu berbicara tentang budaya kontemporer yang kompleks dan keadaan sosial politik yang unik di Indonesia sebagai negara demokrasi yang berkembang.

“Sementara juga mempertimbangkan sifat dasar manusia sebagai inti dari keberadaan kita,” katanya.

Meskipun pameran ini menyajikan secara konsisten bahasa visual Eko yang melibatkan UFO, figur humanoid, mata yang melihat ke arah yang berbeda, serta formulasi ornamen sebagai metafora untuk keadaan sosial, para penikmat seni dapat melihat ada kematangan tertentu dalam ekspresi estetika melalui reformulasi konsep estetika sebelumnya.

Dalam bentuk figuratifnya, sang seniman sekali lagi membuatnya sangat ambigu tentang siapa protagonis dan penjahat dalam cerita yang dijalin untuk pameran ini.

Judul pameran, yakni Cut the Mountain and Let it Fly mengacu kepada karya besar yang dibuatnya pada 2009 untuk Biennale de Lyon: The Spectacle of the Everyday. Pada saat itu, karya tersebut terdiri dari gunung melayang yang diiris menjadi dua. Melalui karya itu, eko bertanya-tanya tentang makna yang dimuat yang tertanam dalam kata-kata demokrasi, persatuan,  dan birokrasi.  

“Apakah mereka akan terus 'menghantui' satu sama lain dan apakah mereka selalu sepihak? Mimpinya adalah bisa memotong gunung dan melepaskannya ke angkasa,” katanya.

Cut the Mountain dan Let it Fly juga tampaknya menyinggung sejarah seni modern Indonesia sendiri dan signifikansi tentang representasi indah dari lanskap yang menggambarkan pegunungan oleh Raden Saleh dalam tradisi Mooi Indie pada abad 19.

Pada saat itu, lanskap pegunungan memainkan peran penting dalam membangun citra eden, sehingga mengundang wisatawan Eropa untuk pergi ke Indonesia dengan jarak yang tidak dekat menggunakan kapal.

Baca juga: 5 Agenda Pameran Seni & Fotografi Agustus 2023, dari Eko Nugroho hingga Andy Dewantoro

Editor: Dika Irawan

SEBELUMNYA

Seni Merayakan Hidup Ala Daniel Kho dalam Pameran Castaneda Factor

BERIKUTNYA

Sooyoung SNSD Umumkan Tur Fan Meeting di Asia, Bakal Mampir ke Jakarta?

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: