Kilas Balik 2 Dekade, Dewi Gontha Kenang Momen Krusial Java Jazz Festival Saat Harus Pindah Venue
30 May 2025 |
18:08 WIB
Di balik sorot lampu panggung, tiupan saksofon, dan sorak-sorai ribuan penonton, ada satu momen hening dalam sejarah panjang Java Jazz Festival. Momen yang tidak terjadi di tengah keramaian, tetapi dalam ruang sunyi keputusan besar.
Sebuah langkah yang diambil, kemudian mengubah arah festival ini selamanya. Momen tersebut terjadi 16 tahun yang lalu, tepatnya pada 2009, ketika umur festival ini baru empat tahun sejak pertama kali diadakan pada 2005.
Dewi Gontha, Presiden Direktur PT Java Festival Production, mengenang salah satu turning point terpenting dalam sejarah festival ini. Menurutnya, edisi 2009 tersebut memang punya arti yang spesial bagi perkembangan festival ini.
Kala itu, Dewi mengambil satu keputusan yang krusial, yakni memindahkan venue dari tadinya digelar di JCC Senayan ke JIEXPO Kemayoran. Perubahan tersebut kemudian memetamorfosis segalanya. “Mungkin buat kami, turning point itu adalah saat kami pindah ke JIEXPO,” ucap Dewi.
Baca juga: Java Jazz Festival 2025 Bikin Project Khusus Tribute untuk Mendiang Titiek Puspa
Dewi mengatakan sejak awal digelar, Java Jazz selalu diadakan di JCC Senayan. Lokasi tersebut sebenarnya sangat bersejarah bagi kelahiran sekaligus perkembangan festivalnya.
Namun, tidak diduga olehnya, festival ini bersemi dan menemukan semaraknya begitu cepat. Seperti tubuh yang tumbuh terlalu cepat untuk bajunya, venue mulai terasa sesak dan tidak nyaman.
“Kalau ada yang datang waktu itu, mungkin juga merasakan kalau penonton udah enggak nyaman. Kalau mereka habis nonton satu show, lalu mau nyebrang ke venue lain, mereka kesusahan karena padat banget. Akhirnya banyak yang ketinggalan show,” imbuhnya.
Kala itu, Dewi merasa itu bukan sekadar keluhan teknis. Akan tetapi, alarm. Sebuah sinyal bahwa Java Jazz telah tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari ruang yang menampungnya. Tapi meninggalkan JCC? Bukan keputusan yang ringan.
Sebab, bagaimana pun lokasi tersebut begitu bersejarah. Namun, sebuah ide gila datang dari ayahnya, yang juga pendiri festival ini, Peter F Gontha. Dia meminta venue Java Jazz dipindah ke JIExpo Kemayoran.
“Waktu itu ayah saya menyarankan pindah ke JIExpo. Jujur, waktu itu benar-benar enggak ada referensinya. Belum ada festival musik sebesar ini diadakan di sana. Kami masuk sesuatu yang benar-benar baru,” tuturnya.
Itulah titik gentingnya. Melompat tanpa jaring. Dari keberanian tersebut, lahirlah kebebasan. Di tempat yang lebih besar, yang mengombinasikan outdoor dan indoor, festivalnya justru makin berkembang.
Menurutnya, venue yang variatif dan lebih luas ini juga melahirkan banyak ide-ide liar untuk mengeksplorasi festival secara penuh. Bukan hanya dari tata panggung, tetapi juga aktivasi booth sponsor, area makan, sampai kreasi-kreasi lain yang sebelumnya tak terpikirkan.
“Di luar itu, pengunjung kami bisa naik dua kali lipat. Karena sekarang, space-nya memungkinkan,” pungkasnya.
Kini, ketika Java Jazz menapaki usia dua puluh tahun, momen krusial ini berdiri tegak sebagai fondasi sejarah penting. Sebuah keputusan yang tak hanya menyelamatkan festival, tapi juga mentransformasinya.
Jakarta International BNI Java Jazz Festival tahun ini akan digelar dari 30 Mei hingga 1 Juni 2025 di JIExpo Kemayoran. Tahun ini merupakan momen spesial bagi Java Jazz Festival karena akan menjadi edisi ke-20 penyelenggaraannya sejak pertama kali digelar pada 2005.
Mengusung perayaan dua dekade yang penuh warna, Java Jazz Festival 2025 siap digelar secara megah dengan menghadirkan 11 panggung dan lebih dari 150 pertunjukan selama tiga hari berturut-turut.
Baca juga: Cek 4 Cara Menuju ke Venue BNI Java Jazz Festival 2025 di JIExpo Kemayoran Jakarta
Sebuah langkah yang diambil, kemudian mengubah arah festival ini selamanya. Momen tersebut terjadi 16 tahun yang lalu, tepatnya pada 2009, ketika umur festival ini baru empat tahun sejak pertama kali diadakan pada 2005.
Dewi Gontha, Presiden Direktur PT Java Festival Production, mengenang salah satu turning point terpenting dalam sejarah festival ini. Menurutnya, edisi 2009 tersebut memang punya arti yang spesial bagi perkembangan festival ini.
Kala itu, Dewi mengambil satu keputusan yang krusial, yakni memindahkan venue dari tadinya digelar di JCC Senayan ke JIEXPO Kemayoran. Perubahan tersebut kemudian memetamorfosis segalanya. “Mungkin buat kami, turning point itu adalah saat kami pindah ke JIEXPO,” ucap Dewi.
Baca juga: Java Jazz Festival 2025 Bikin Project Khusus Tribute untuk Mendiang Titiek Puspa

Penyanyi tampil dalam acara BNI Java Jazz Festival 2024 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Sabtu (25/5/2024). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Eusebio Chrysnamurti)
Namun, tidak diduga olehnya, festival ini bersemi dan menemukan semaraknya begitu cepat. Seperti tubuh yang tumbuh terlalu cepat untuk bajunya, venue mulai terasa sesak dan tidak nyaman.
“Kalau ada yang datang waktu itu, mungkin juga merasakan kalau penonton udah enggak nyaman. Kalau mereka habis nonton satu show, lalu mau nyebrang ke venue lain, mereka kesusahan karena padat banget. Akhirnya banyak yang ketinggalan show,” imbuhnya.
Kala itu, Dewi merasa itu bukan sekadar keluhan teknis. Akan tetapi, alarm. Sebuah sinyal bahwa Java Jazz telah tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari ruang yang menampungnya. Tapi meninggalkan JCC? Bukan keputusan yang ringan.
Sebab, bagaimana pun lokasi tersebut begitu bersejarah. Namun, sebuah ide gila datang dari ayahnya, yang juga pendiri festival ini, Peter F Gontha. Dia meminta venue Java Jazz dipindah ke JIExpo Kemayoran.
“Waktu itu ayah saya menyarankan pindah ke JIExpo. Jujur, waktu itu benar-benar enggak ada referensinya. Belum ada festival musik sebesar ini diadakan di sana. Kami masuk sesuatu yang benar-benar baru,” tuturnya.
Itulah titik gentingnya. Melompat tanpa jaring. Dari keberanian tersebut, lahirlah kebebasan. Di tempat yang lebih besar, yang mengombinasikan outdoor dan indoor, festivalnya justru makin berkembang.
Menurutnya, venue yang variatif dan lebih luas ini juga melahirkan banyak ide-ide liar untuk mengeksplorasi festival secara penuh. Bukan hanya dari tata panggung, tetapi juga aktivasi booth sponsor, area makan, sampai kreasi-kreasi lain yang sebelumnya tak terpikirkan.
“Di luar itu, pengunjung kami bisa naik dua kali lipat. Karena sekarang, space-nya memungkinkan,” pungkasnya.

Musisi Barry Likumahuwa feat Endah & Rhesa tampil dalam acara BNI Java Jazz Festival 2024 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (24/5/2024). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Himawan L Nugraha)
Jakarta International BNI Java Jazz Festival tahun ini akan digelar dari 30 Mei hingga 1 Juni 2025 di JIExpo Kemayoran. Tahun ini merupakan momen spesial bagi Java Jazz Festival karena akan menjadi edisi ke-20 penyelenggaraannya sejak pertama kali digelar pada 2005.
Mengusung perayaan dua dekade yang penuh warna, Java Jazz Festival 2025 siap digelar secara megah dengan menghadirkan 11 panggung dan lebih dari 150 pertunjukan selama tiga hari berturut-turut.
Baca juga: Cek 4 Cara Menuju ke Venue BNI Java Jazz Festival 2025 di JIExpo Kemayoran Jakarta
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.