Pengunjung menikmati pameran multisensori Van Gogh Alive di Mal Taman Anggrek, Jakarta. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Fanny K)

Terpukau Sekaligus Getir Menikmati Karya-Karya Lukis Van Gogh di Ruang Multisensori

18 July 2023   |   19:23 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Saya ingin menyentuh orang dengan seni saya. Saya ingin mereka mengatakan dia merasakan dengan sangat mendalam, dia merasakan kelembutan. Harapan pelukis Vincent Willem van Gogh yang diucapkannya pada abad ke-17 itu barangkali saat ini telah terkabul.

Pasalnya, kini, karya-karya lukisnya telah dinikmati jutaan orang di seluruh dunia dengan berbagai medium, baik melihat lukisannya secara langsung dalam bentuk dua dimensi, hingga mewujud dalam bentuk pameran imersif berbalut kecanggihan teknologi.

Baca juga: Selain Van Gogh Alive The Experience Jakarta, Ini 10 Pameran Imersif Paling Populer di Dunia

Seperti yang tersaji dalam pameran multisensori Van Gogh Alive The Experience yang digelar di Mal Taman Anggrek, Jakarta, hingga 8 Oktober 2023. Dalam pameran itu, setidaknya ada 3.000 karya Van Gogh yang ditampilkan dalam bentuk visualisasi digital dengan puluhan layar proyektor berukuran besar, diiringi dengan skoring musik klasik yang mendukung suasana pameran menjadi lebih dinamis sekaligus harmonis.

Karya-karya Van Gogh tampil silih berganti seperti klip animasi dengan iringan skoring yang sesuai dengan nuansa dan tema lukisannya. Misalnya ketika ruang pameran menampilkan karya-karyanya yang berwarna gelap, musik mengalun menjadi lebih liris. Sebaliknya, ketika lukisan-lukisan yang tampil berwarna cerah, musik terdengar lebih romantik dan ceria.

Dengan cahaya yang minim, ruangan pameran tersebut berhasil memantik seluruh sensori tubuh untuk merasakan dan hanyut ke dalam keindahan lukisan-lukisan Van Gogh yang khas. Teknologi multisensori ini seperti mengaburkan batasan antara dunia nyata dengan dunia simulasi (digital) sehingga para penikmatnya dibuat seperti tenggelam dalam dunia rekaan tersebut.
 

Pengunjung menikmati pameran multisensori Van Gogh Alive di Mal Taman Anggrek, Jakarta. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Fanny K)

Pengunjung menikmati pameran multisensori Van Gogh Alive di Mal Taman Anggrek, Jakarta. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Fanny K)

Pameran ini menghadirkan ribuan mahakarya Van Gogh yang dia buat sepanjang hidupnya mulai dari di Belanda yang karya-karyanya cenderung tampak gelap, di Paris yang terinspirasi oleh aliran impresionis yang kala itu tengah berkembang, hasil karya masa-masa residensinya di Arles, periode dirinya tinggal di rumah sakit jiwa di Saint Remy, hingga hari-hari terakhirnya di Auvers-sur-Oise.

Chairman of Meta Doers Innovation Indonesia Lin Wei Hsien mengatakan pameran ini menggunakan teknologi Sensory4 yang dikembangkan oleh perusahaan teknologi yang berbasis di Australia, Grande Experience. Teknologi ini, paparnya, menggabungkan grafis gerak multi saluran, suara skoring dengan kualitas bioskop, dan 40 proyektor dengan kualitas gambar yang tajam untuk menghadirkan sensasi multilayar menarik. 

Dengan teknologi tersebut, pengunjung dapat merasakan sebuah ruangan pameran visual yang dinamis sekaligus informatif, dengan gambar-gambar lukisan Van Gogh yang bergerak silih berganti melalui kumpulan proyektor, diiringi suara surround digital sehingga menciptakan pengalaman imersif yang memukau.

"Pameran ini dikonsepkan, dikembangkan, dan diproduksi dari semangat dan keinginan kami untuk menciptakan lingkungan  yang dinamis, informatif, dan spesial secara visual untuk pengunjung dari segala usia, latar belakang, dan budaya dalam berinteraksi dengan [karya] seni," jelasnya.

Meski hampir seluruh hidupnya Van Gogh menderita mulai dari lukisan-lukisannya yang dianggap bernilai rendah hingga perjuangannya yang harus menghadapi penyakit mentalnya, kini karya-karyanya memukau jutaan pasang mata di seluruh dunia. Lukisan-lukisannya dinikmati dan dirayakan, meski kegetiran di dalamnya tidak bisa dielakkan begitu saja.

Ya, karya-karya pelukis asal Belanda itu memang dekat dengan  kisah perjalanan hidupnya yang getir karena berjuang dengan berbagai penolakan, perbedaan, hingga di akhir hayatnya dia bunuh diri dalam keadaan sendirian dan miskin. Di balik lukisan-lukisannya dengan sapuan kuas yang dramatis, pewarnaan yang cerah, dan keahliannya dalam menggambarkan sebuah momen, tersimpan sekelumit kisah getir di dalamnya.

Misalnya salah satu karyanya yang sangat populer berjudul The Starry Night yang dibuat pada 1889. Lukisan tersebut dibuat Van Gogh selama dia berada di rumah sakit jiwa di Saint-Remy ketika kondisi mentalnya semakin parah. Dia menggambarkan pemandangan malam dari rumah sakit tersebut ke dalam karyanya itu dengan hadirnya visualisasi langit malam dengan bintang dan bulan sabit.
 

Pengunjung menikmati pameran multisensori Van Gogh Alive di Mal Taman Anggrek, Jakarta. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Fanny K)

Pengunjung menikmati pameran multisensori Van Gogh Alive di Mal Taman Anggrek, Jakarta. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Fanny K)

Sapuan kuas yang sangat emosional dan langit yang bergulung seolah mengungkapkan pikirannya yang sedang berkecamuk namun di sisi lain tidak menunjukkan sebuah keputusasaan. Ada cahaya kuning mengilau dari kumpulan bulan dan bintang yang hadir di setiap sudutnya yang seolah menyimbolkan harapan di tengah kondisi terpuruknya.

Kisah hampir serupa juga hadir dalam karyanya yang lain berjudul Van Gogh's Chair. Lukisan yang dibuat pada 1888 itu memancarkan kesedihan dan kesepian yang melanda Van Gogh setelah dia bersitegang dengan sahabat sesama pelukisnya, Eugene Henri Paul Gauguin. Van Gogh melukis dua kursi yakni visualisasi kursinya dengan kursi Gauguin.

Kursi Van Gogh digambarkan sebagai kursi kayu sederhana, kosong dan sedih, sementara kursi Gauguin digambarkan olehnya jauh lebih berornamen dan mewah. Lewat lukisannya ini, Van Gogh seperti menganggap dirinya jauh lebih tidak manusiawi dan egois daripada kawannya itu. Lukisan ini dibuatnya pada saat mimpinya untuk berbagi studio dengan Gauguin hancur.

Di sisi lain, ada pula karya-karya Van Gogh yang menampilkan masa-masa optimistis dan paling bahagia yang sempat sesaat dicicipinya kala bermukim di Arles, Prancis Selatan, pada tahun 1888, salah satunya lukisan berjudul Sunflowers. Lukisan bunga matahari itu mencerminkan perjalanan eksperimen Van Gogh dalam mengeksplorasi warna-warna, salah satunya kuning yang menjadi warna favoritnya.

Van Gogh melukis beberapa lukisan bunga matahari itu dalam rangka hendak menyambut kedatangan sahabat yang dikaguminya, Paul Gauguin, pelukis asal Prancis. Dia melukis beberapa lukisan dalam rangka untuk menghias beberapa ruangan di Rumah Kuning, yang baru disewanya di Arles. Salah satu ruangan di rumah itu khusus dia siapkan untuk Gauguin. Di Arles mereka sempat melukis bersama. Inspirasi lukisan serial bunga matahari itu sendiri sebenarnya datang dari kebun Montmartre di Paris, kota yang sebelumnya juga sempat ditinggali Van Gogh.
 

Sayangnya saat di Arles itu pula, kesehatan mental Van Gogh perlahan menurun, seiring juga dengan hubungannya yang berangsur retak dengan sahabatnya, Gauguin. Keretakan itu memuncak pada 23 Desember 1888 yang ditandai insiden Van Gogh mengiris daun telinga kirinya sendiri dengan pisau cukur hingga dia dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan bersimbah darah. Insiden itu juga menandai pengalaman Van Gogh memasuki episode pertama yang serius dalam penderitaan psikosis dan waham yang disandangnya.

Tindakan ekstrem Van Gogh itu terjadi karena dia mengalami halusinasi pendengaran setelah bertengkar dengan Gauguin yang menyatakan ingin meninggalkan Rumah Kuning, untuk kembali ke Paris. Setelah mengiris telinganya, Van Gogh mengirim irisan daun telinganya itu kepada Rachel, seorang pekerja seks komersial di rumah bordil di Arles.

Setelah dirinya pulih dan kembali ke rumah, Van Gogh sempat menulis surat permintaan maaf kepada Gauguin atas insiden tersebut. Namun, sejatinya, dia belum benar-benar menyadari kondisi mentalnya yang sedang tidak baik-baik saja.

Pada masa residensi di Arles, sederet lukisan Van Gogh lainnya yang dikenal selain Sunflowers ialah The Yellow House, The Red, Vineyard, The Night Cafe, Vincent's Bedroom in Arles, Cafe Terrace at Night, Starry Night Over The Rhone, dan Self-Potrait With Bandaged Ear. Judul karya yang ditulis terakhir itu merupakan lukisan yang merekam babak drama terkait pengirisan daun telinga yang dialami Van Gogh.

Selain menyuguhkan karya-karya Van Gogh dalam bentuk digital, pameran Van Gogh Alive The Experience juga menghadirkan replika ruang tidur Van Gogh saat di Arles yang dia lukis dalam karya Vincent's Bedroom in Arles.

Beberapa perabot yang ada di lukisan dihadirkan secara nyata dengan ruangan yang sengaja dibuat dengan perspektif yang terdistorsi seperti dalam versi lukisannya. Dengan begitu, para pengunjung dapat berfoto dengan duduk di kursi dalam kamar tersebut.

Adapun, pameran Van Gogh Alive The Experience dibuka untuk umum mulai dari 7 Juli hingga 9 Oktober 2023 dan buka setiap hari mulai pukul 10.00 WIB hingga 22.00 WIB. Tiket pameran ini bisa dibeli melalui situs vangogh.co.id dan platform tiket lainnya dengan harga Rp218.000 per orang pada hari kerja (weekday) dan Rp243.200 untuk akhir pekan (weekend).

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Mudah, Begini Cara Membuat Twibbon Tahun Baru Islam 1445 Hijriah

BERIKUTNYA

Cek Ritual Penting dan Rute Kirab Malam 1 Suro di Surakarta

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: