Sumber Foto (unsplash.com/@ohhbee )

Gerak Gemulai Profesi Penari Kian Menarik Hati Generasi Muda

17 July 2023   |   15:49 WIB

Perkembangan dunia saat ini menciptakan peluang yang sangat luas bagi berbagai jenis profesi untuk dapat menekuninya lebih serius. Pelaku seni tari misalnya, saat ini cukup banyak dibutuhkan untuk mengisi berbagai pagelaran besar berskala nasional dan internasional.

Penampilan tarian yang menawan menjadi nilai utama. Penari, baik membawakan tarian secara solo maupun grup, penampilannya hampir selalu menjadi bagian dalam agenda besar sehingga lebih meriah dan menjadi pertunjukan yang dapat dinikmati berbagai kalangan.

Baca juga: Rusdy Rukmarata Sang Penari Penggerak Generasi Muda

Penari dan koreografer baru pun bermunculan dengan beragam tarian yang memadukan unsur modern dan etnik hingga tarian populer. Tidak sedikit generasi muda yang memilih menjadi penari profesional dan menekuni pendidikan di bidang seni gerak tubuh ini dan bergabung dengan sanggar tari dan komunitas.

Bagi pemula, tentu tidak mudah untuk memahami dan menguasai seni tari ini. Namun jika sudah memulai tentu setiap prosesnnya dijamin akan dapat dinikmati. Banyak penari saat ini yang mengatakan bahwa seni tari memberikan kesan untuk melihat dunia yang unik dan berbeda lewat gerak tubuh dan musik. 

Untuk menjadi penari, tentu dibutuhkan ilmu dalam memahami gerak dan musik yang digunakan hingga pemahaman akan karya yang disampaikan melalui seni tari tersebut. Di sinilah dibutuhkan para pelatih dan penyedia jasa yang memiliki segudang pengalaman tentang seni tari itu sendiri, untuk membimbing dan berbagi pengalaman. 

Cynthia Arnella Arief, salah satu koreografer dan penari yang berkiprah sejak 2009 mengatakan bahwa dirinya memulai karier penari saat berumur 18 tahun. “Saya menyukai tari sejak kecil” ucapnya.

Alasan memulai profesi sebagai penari, lantaran sejak duduk di bangku sekolah dia telah mendalami dunia tari modern dan pernah ikut tampil dalam berbagai ajang festival tari. 

Menurutnya, pengalaman tersebut membawanya pada keyakinan bahwa menjalani dunia tari secara profesional, termasuk sebagai koreografer merupakan profesi yang mendapatkan tempat khusus di bidang seni.

Dia mengatakan bahwa dengan menjadi profesional pula dia banyak mendapat pengalaman dan ilmu tentang berbagai jenis tari yang begitu kaya. “Modern dance, kontemporer, tradisional juga ikut dipelajari. Semua jenis tarian harus dipelajari," katanya.

Cynthia pun sering membuka kelas dan jasa sebagai koreografer dan pelatih tari. Profesinya dinilai sangat menjanjikan dia bisa mendapat pemasukan sampai Rp20 juta per bulan dengan membuka kelas dan berkolaborasi dengan berbagai komunitas.

Kolaborasinya itu dilakukan lewat media sosial @cynthiarnella yang sekaligus sebagai media untuk mempromosikan jasanya sebagai koreografer dan penari profesional.  

Saat ini, dia sedang aktif membangun komunitasnya yaitu Maad Steppa Indonesia, bersama rekannya. Lewat akun Instagram @maadsteppa, berbagai kegiatan dan kelas modern dance bergenre Dancehall (AfrikaDanceStyle) diperkenalkan dan menarik banyak perhatian warganet. 

Cynthia pun terus aktif dalam berkarya di dunia seni tari modern serta berinovasi menciptakan berbagai gerakan-gerakan tari dari berbagai genre musik dan tari.  

Menurutnya, profesi penari memiliki peluang yang besar ke depannya, terutama bagi mereka yang mengasah keahlian sebagai koreografer dan rajin menciptakan komposisi tarian dari berbagai genre. 

“Asal kita sebagai penarinya kreatif dalam mencari peluang, misalnya menjadi pengajar atau membuka jaringan profesional kita dengan sektor bisnis terkait, tentu profesi penari ini memiliki peluang besar. Kuncinya, bisa mengelola diri dan menyesuaikan permintaan industri saat ini," ujar Cynthia. 

Sementara itu, Wolter Toar Rungkat, penyedia jasa tari tradisional dari Papua Barat Daya, Kota Sorong, mengaku telah menekuni seni tari selama 15 tahun. Baginya, profesi ini membawanya melihat dunia yang beda dan bebas dalam setiap karya seni budaya yang ditampilkan. 

Pria yang akrab disapa Pace’To ini mengaku alasan utama masih menekuni profesi penari lantaran rasa cinta dan bangganya akan nilai budaya yang terdapat dalam dunia seni gerak tubuh tersebut. “Saya sangat cinta budaya Papua,” tegasnya.

Dengan menjadi pelaku seni tari tradisional, dia merasa bahwa dapat melestarikan nilai budaya lewat tarian dan musik yang ditampilkan. Baginya profesi ini bisa tetap menjanjikan jika sebagian besar para penari dan koreografer bisa menciptakan peluang dan terus berkreasi. “Terus belajar dan konsisten dalam menghasilkan karya, maka peluang akan datang,” tuturnya.

Dia pun berbagi tip untuk tetap eksis dan menciptakan peluang, yaitu dengan membagikan keahliannya lewat Instagram @sanggarsenibillastari, sembari aktif mempromosikan karya seni tari Papua. Dengan begitu, dia dapat membuat berbagai peluang sehingga terus berkembang. 

Pelaku seni lainnya yaitu Maria Tiffany Candra (22) yang juga salah satu mahasiswa Universitas Indonesia, memilih kerja sampingan sebagai penari dan asisten pengajar di suatu sanggar tari balet di Jakarta. Baginya pemasukan yang diterima sangat membantu dan menambah pendapatan.

Maria telah menjadi penari balet sejak umur 7 tahun dan aktif mengikuti kelas tari balet hingga percaya menjadi asisten pengajar hingga sekarang. “Aku suka nari dan sampai sekarang karena tari bisa jadi wadah untuk melepas beban stres dll,” ujarnya.

Baca juga: Kisah Kasih Ibu yang Menguras Emosi dalam Seni Tari Randai

Dia mengaku alasan utama memulai profesi sebagai penari dalah karena hobi sekaligus ada peluang untuk menekuni bidang ini lewat kelas dan komunitas. Baginya profesi sebagai penari ini bisa memiliki peluang meski di lapangan sangat kompetitif. “Susah untuk bertahannya. Kadang karena banyak persaingan, jadi mental di dalamnya.”

Namun untuk profesi sebagai koreografer dan pengajar, baginya terbuka dan memiliki peluang besar untuk ditekuni. “Pendapatannya pun besar karena peminat kelas tari balet semakin banyak,” ungkap Maria.

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Mission: Impossible 7 Berpacu di Box Office Jelang Rilis Oppenheimer dan Barbie

BERIKUTNYA

Fitur Pengukur Tekanan Darah Smartwatch Belum Bisa Jadi Rujukan Medis, Ini Alasannya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: