In-Habit: Project Another Country (Here, There, Everywhere), 2018, Isabel & Alfredo Aquilizan. (Sumber gambar: Museum MACAN)

Pakai Material Bekas, Intip 5 Karya Pasangan Perupa Isabel & Alfredo Aquilizan di Museum MACAN

12 July 2023   |   17:32 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Like
Maria Isabel Gaudinez Aquilizan dan Alfredo Juan Aquilizan adalah pasangan perupa asal Filipina yang mulai aktif berkarya pada akhir 1990-an. Mereka pindah ke Australia pada 2006 bersama dengan kelima anak mereka dan menetap di Negeri Kangguru hingga saat ini.

Sejak saat itu, mereka telah terlibat dalam berbagai pameran dan bienal di Australia dan dunia internasional. Kini, mereka menggelar pameran besar perdana di Indonesia bertajuk Somewhere, Elsewhere, Nowhere yang dihelat di Museum MACAN, Jakarta, hingga 8 Oktober 2023.

Eksibisi ini menampilkan sejumlah instalasi berskala besar, patung, dan seni gambar yang telah dibuat lebih dari 20 tahun praktik kolaboratif dari pasangan perupa ini.

Baca juga: Pasangan Perupa Isabel dan Alfredo Aquilizan Gelar Pameran Survei Besar di Museum MACAN

Pengalaman perjalanan dan migrasi yang dilalui Isabel dan Alfredo turut memberikan pengaruh dalam membentuk perspektif unik yang dituangkan ke dalam karya-karya mereka yang berkutat pada persoalan lingkungan rumah dan keluarga. Dalam membuat karya, mereka kerap menggunakan material sederhana dan mudah ditemukan seperti kardus, sandal jepit, sikat gigi, dan selimut.

Bagi mereka, material-material ini merupakan medium sederhana yang dapat membangkitkan ide-ide mengenai identitas individu, sejarah, perjalanan, dan migrasi. Banyak karya dalam pameran ini yang dibuat dengan tangan baik melalui proses lokakarya atau dikerjakan dengan bantuan tangan para artisan.

Bagi kalian yang ingin mengunjungi pameran Somewhere, Elsewhere, Nowhere, berikut adalah 5 karya perupa Isabel dan Alfredo yang menjadi sorotan dalam eksibisi tersebut.
 

1. In-Habit: Project Another Country (Here, There, Everywhere)

 

Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta

Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta

Karya yang terbuat dari susunan ribuan kardus dengan bentuk perumahan itu tampak seperti sebuah parabola raksasa. Lanskap ini menggambarkan hierarki sejumlah wilayah mulai dari rumah-rumah petani, daerah pedesaan, perumahan dan perkotaan, hingga kawasan permukiman padat yang membentuk pusat metropolis.

Lewat karya ini, Isabel dan Alfredo ingin menampilkan lanskap satu wilayah padat yang kerap dijumpai di kota-kota modern, sekaligus sebagai representasi bagaimana urbanisasi dan perkembangan yang pesat atas nama kemajuan kerap kali mengorbankan privasi dan anonimitas.

Adapun, material kardus yang dipakai atau yang mewakili bentuk kubus dari kotak 'Balikbayan' memiliki arti yang besar dalam kehidupan masyarakat Filipina khususnya untuk menaruh barang-barang ketika pergi dari rumah. Kardus menjadi simbol alat mereka untuk saling berbagi barang, cinta, bahkan kenangan.
 

2. Belok Kiri Jalan Terus (Left Wing Project)

 

c

Sumber gambar: Museum MACAN

Instalasi ini merupakan karya hasil residensi Isabel dan Alfredo di Yogyakarta pada 2015 silam. Instalasi berbentuk sayap-sayap yang melayang itu terbuat dari susunan puluhan arit yang biasa digunakan untuk bertani. Selain itu, mereka juga menampilkan sejumlah potret petani di daerah setempat dengan teknik drawing.

Lewat karya ini, pasangan perupa itu mencoba menelusuri sejarah dan jejak komunitas pengrajin besi di Yogyakarta yang kian menurun keberadaannya karena imbas dari gencarnya globalisasi ekonomi. Bentuk sayap dari instalasi ini juga sekaligus menjadi simbol harapan untuk tetap bisa bertahan di tengah dampak industrialisasi dan ketimpangan kekuasaan.
 

3. Last Flight: Project Be-longing

 

Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta

Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta

Last Flight: Project Be-longing merupakan seri karya patung yang terdiri dari sepasang sayap yang terbuat dari sandal jepit bekas pakai yang dikumpulkan dari berbagai komunitas di Filipina. Gagasan karya ini muncul ketika Isabel dan Alfredo bekerja di sebuah desa nelayan di Filipina, dan melihat banyak tumpukan sampah sandal jepit di pesisir pantai.

Bagi mereka, setiap sandal jepit bekas itu memiliki ciri khas individual, dalam hal warna, ukuran, bahkan lekukan yang membekas dari pemakainya, termasuk menjadi simbol benda yang tidak memandang kelas ekonomi dan sosial apapun. Lewat karya ini, mereka berbicara tentang solidaritas sekaligus kebebasan.
 

4. Dream Blanket Project: Project Be-longing

 

f

Sumber gambar: Museum MACAN

Instalasi ini terdiri dari ratusan selimut bekas pakai yang telah dilipat dan didonasikan oleh orang-orang. Bersama selimut-selimut tersebut, ditampilkan juga rekaman-rekaman suara dari para pemiliknya yang menceritakan mimpi mereka. Bagi Isabel dan Alfredo, selimut, yang biasanya dikaitkan dengan kehangatan, kenyamanan, dan keamanan, menjadi simbol yang kuat dari pengalaman-pengalaman dan kisah-kisah dari sang pemilik.

Di bawah instalasi selimut ini, terdapat juga serangkaian cetakan gipsum bagian dalam sepatu yang dikumpulkan dari para partisipan. Cetakan ini mengungkapkan lekukan dan karakter unik dari sang pemilik sepatu yang biasanya tidak terlihat. Karya ini berbicara tentang pengalaman-pengalaman para partisipan tersebut sebagai sebuah potret kolektif.


5. In Habit: Project Another Country

 

Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta

Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta

Karya yang terdiri atas instalasi menjalar dari kardus-kardus bekas ini menjadi wujud respons Isabel dan Alfredo terhadap perubahan cara hidup masyarakat Bajau, salah satu suku di Filipina, yang berubah akibat modernisasi dan perubahan iklim. Orang Bajau harus terpisah dari gaya hidup asli mereka sebagai masyakarat pesisir, dan beradaptasi dengan gaya hidup yang cenderung berbasis daratan.

Hal itu diakibatkan kebijakan pemerintah yang mengatur aktivitas, serta bagaimana mereka dapat mengakses kesempatan pendidikan dan layanan kesehatan. Pasangan perupa ini tertarik pada isu mengenai masyarakat Bajau saat mengamati ketidakberuntungan dan marginalisasi yang mereka hadapi, sebagai dampak proses perpindahan suku ini ke pinggiran kota Manila.

Baca juga: Hadirkan Karya Unik, Museum MACAN Gelar Pameran Duo Perupa Filipina Isabel & Alfredo Aquilizan

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Gita Carla

SEBELUMNYA

Bogor Akan Jadi Tuan Rumah Turnamen Pro-Am Internasional Agustus 2023

BERIKUTNYA

Boy Group Baru SM Entertainment Lagi Syuting MV di Los Angeles, Sungchan & Shotaro Ikutan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: