Ilustrasi bayi (Sumber: Hollie Santos/Unsplash)

Riwayat Alergi Orang Tua Bisa Menurun ke Anak, Cek Tanda-tandanya

15 May 2023   |   17:00 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Masalah alergi pada anak memang sudah menjadi hal yang umum terjadi di dunia, termasuk di Indonesia. Angka kejadian terhadap risiko alergi pada anak, terutama yang berasal dari makanan, terus meningkat hingga 4 persen sampai 8 persen setiap tahunnya.

Dokter anak konsultan alergi dari Hermina Hospitals, Isman Jafar, mengatakan riwayat alergi yang dimiliki oleh orang tua memiliki potensi lebih besar untuk diturunkan ke anak. Risikonya bahkan jauh lebih tinggi jika kedua orang tua sama-sama memiliki alergi. 

Baca juga: Penting! Yuk Kenali Gejala, Komplikasi & Perawatan Alergi

Isman menjelaskan jika ibu dan ayah memiliki riwayat alergi yang sama, kemungkinan anaknya mempunyai alergi bisa mencapai 80 persen. Namun, jika hanya satu pihak saja yang memiliki riwayat alergi, kemungkinan si anak mengalami alergi menjadi turun hingga mencapai 40 persen. Kemudian, pada orang tua yang dua-duanya tidak memiliki riwayat alergi, si anak tetap berpotensi terkena alergi sebesar 15 persen.

Jika orang tua sudah mengetahui anaknya punya risiko, lebih baik langsung menerapkan prinsip tahu diri. Tidak perlu denial yang malah akan berpotensi membuat si buah hati makin tidak nyaman karena reaksi alerginya.

Orang tua adalah peran sentral dalam kasus ini. Mereka perlu menaruh perhatian serius pada masalah alergi pada anak. Alergi mesti ditangani dengan tepat agar tumbuh kembang anak tidak terganggu olehnya.

Alergi yang terjadi akibat makanan, termasuk yang paling sering adalah susu sapi, dapat dikenali menjadi tiga tanda. Jika anak mengalami ketiga ciri atau salah satu diantaranya, sebaiknya segera konsultasi dengan dokter untuk mengetahui kondisi sebenarnya dan penanganan lanjutannya.

Tanda pertama dari alergi makanan biasanya akan tampak di kulit. Kejadian ini termasuk yang paling sering terjadi dan cukup mudah diamati. Beberapa tanda-tanda alergi di kulit adalah munculnya ruam, merah-merah, bentol, atau eksim.

Tanda kedua biasanya berada di saluran cerna. Alergi pada makanan umumnya akan mengganggu kesehatan saluran cerna anak-anak. Tandanya bisa berupa diare, susah BAB, gampang muntah atau gumoh.

Tanda ketiga adalah gejala di saluran napas. Gejala yang cukup spesifik ini bisa dikenali dengan gampangnya anak terkena pilek dan batuk, terutama setelah mengonsumsi makanan yang alergi. Namun, beberapa tanda sederhana, seperti sering mengucek hidung, juga bisa dicurigai si anak memang alergi terhadap makanan tertentu. 

“Sebagian besar alergi itu adalah genetik alias keturunan. Oleh karenanya, orang tua sebenarnya bisa memperkirakan dari awal anaknya akan memiliki alergi atau tidak. Dugaan deteksi awal ini penting agar penanganan selanjutnya tidak keliru,” jelas dokter Isman dalam media gathering Festival Soya Semua Anak Bisa Maju, di Jakarta, beberapa waktu lalu
 

Ilustrasi alergi (Sumber: Freepik)

Ilustrasi alergi (Sumber: Freepik)

Pada umumnya alergi yang muncul pada anak sebagian besar hanya berupa gejala-gejala ringan, seperti munculnya bercak, ruam, dan merah-merah. Jika mengalami hal ini, orang tua hanya perlu menyetop hal-hal yang membuat anak alergi. Setelah itu, atasi gejala-gejala yang timbul.

Namun, alergi juga bisa berubah menjadi berbahaya. Alergi yang sudah berada di tingkat lanjut bisa menunjukkan gejala anafilaksis. Anafilaksis adalah reaksi alergi parah yang berpotensi mengancam nyawa. Beberapa tandanya ialah pusing berlebihan, linglung, hingga hilang kesadaran.

Dokter Isman menyebut orang tua yang memiliki anak dengan alergi tak perlu khawatir. Sebab, alergi biasanya tidak sampai mengganggu tumbuh kembang anak. Orang tua hanya perlu mensubtitusi makanan atau minuman lain agar ada alternatif nutrisi yang tepat dan aman.

Beberapa pengganti alternatif nutrisi anak, terutama pada anak dengan alergi susu sapi, adalah isolat protein soya. Kandungan susu soya ini terbilang sama baiknya dengan susu sapi. Hal ini bisa membuat pola tumbuh dan kembang anak tetap optimal.

Sementara itu, Psikolog sekaligus Founder Ruang Tumbuh Irma Gustiana menyarankan agar orang tua tidak memberi label pada anak yang memiliki alergi. Sebaiknya, orang tua menghindari larangan makanan tertentu sambil menyebut anak punya alergi jenis tertentu.

Cara itu justru bisa membuat anak tidak berani melakukan eksplorasi dan akan merasa dirinya berbeda dengan orang lain. Orang tua sebaiknya melakukan pendekatan yang lebih personal dan dari hati ke hati agar anak bisa mengerti kondisinya, tetapi tidak merasa dirinya berbeda dengan orang lain. Dengan cara ini, anak akan memiliki perkembangan psikologis yang baik. 

Baca juga: Ternyata Alergi Tidak Bisa Sembuh, Yuk Cek 5 Fakta Lain Soal Alergi

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Syaiful Millah

SEBELUMNYA

Resmi, Garena Hadirkan Skin Eksklusif Kolaborasi AoV x Pretty Guardian Sailor Moon Cosmos The Movie 

BERIKUTNYA

Cara Asmirandah Penuhi Gizi Anaknya yang Alergi Susu Sapi

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: