Ilustrasi-Pixabay (Dok. Pexels)

Ingin Perluas Bisnis e-Commerce ke Perdesaan? Simak Beberapa Hal Berikut

18 July 2021   |   21:30 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Berbekal pengalaman tersebut, Kaya dan Vyani yang berkongsi, bekerja sama untuk menghadirkan dagang-el yang terjangkau ke perdesaan Indonesia dengan mengembangkan platform belanja kebutuhan rumah berbasis komunitas lokal yang dilengkapi fleksibilitas pembayaran melalui Shox Rumahan.

Perdesaan, menurut mereka membutuhkan pemahaman mendalam dan memerlukan dukungan solusi operasi, keuangan dan teknologi yang dibuat khusus untuk warga perdesaan.
 
 
Penggunaan platform Shox Rumahan (Dok Shox Rumahan)


Selain memudahkan belanja kebutuhan rumah, Shox Rumahan telah membantu ratusan ibu rumah tangga di perdesaan untuk menambah penghasilan hanya dari rumah dengan membuka kesempatan berwirausaha melalui komunitas mitra Shox.

Sejak beroperasi pada 2020, konsumen Shox Rumahan telah tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Berkantor pusat di Yogyakarta, manajemen Shox Rumahan menempatkan tim di jantung perdesaan di seluruh Indonesia dan menjadi pemain e-commerce dengan jangkauan lebih dari 5.000 desa.

Agen Shox memperkenalkan sistem pembayaran digital dan solusi keuangan lainnya kepada komunitas di perdesaan sembari meningkatkan literasi digital mereka. 

Pada saat yang sama, manajemen Shox Rumahan berharap dapat mengonsolidasikan permintaan ekonomi perdesaan beserta potensi pasarnya sehingga dapat turut menarik minat usaha bagi peritel lokal dan asing.
 

Dengan menganalisis penjualan komunitas warga di pelosok, tim Shox Rumahan juga mengestimasi skor kredit mereka sehingga turut menciptakan ekosistem perbankan digital di perekonomian perdesaan tersebut.

Lantas apa saja yang perlu menjadi perhatian terkait dengan sejumlah potensi bisnis di sektor e-commerce di perdesaan di Indonesia, menurut Kaya..

1. Peluang besar di daerah pelosok negeri
Lebih dari separuh penduduk Indonesia yang tinggal di perdesaan belum tersentuh layanan marketplace. Menurut pandangan Kaya, untuk menyasar pasar penduduk perdesaan, dibutuhkan model bisnis yang berbeda. Hal ini lantaran sebagian dari warga desa sulit dijangkau, tidak memiliki rekening di bank, bahkan tidak percaya pada  solusi teknologi.

Pemain e-commerce tidak dapat menerapkan model bisnis B2C bagi pengguna di pelosok meski pola tersebut sukses di tempat lain. Oleh karena itu, penting untuk membaca dan memahami perilaku konsumen dan komunitas di perdesaan.

2. Mencoba penerapan social-commerce
Kaya optimistis, social-commerce dapat menjadi jalan untuk mengaktifkan komunitas perdesaan di Indonesia khususnya dalam hal perdagangan elektronik. Itulah sebabnya dia bersama tim mencoba memperkenalkan model operasi perdagangan sosial ke komunitas perdesaan. Meskipun konsep tersebut telah sukses dilakukan di China, Kaya mengatakan penerapannya di Indonesia, dalam beberapa hal, tetap membutuhkan penyesuaian.

 

Tim Agen Shox Rumahan (Dok Shox Rumahan)

Tim Shox Rumahan (Dok Shox Rumahan)


3. Persoalan di kawasan rural
Beberapa persoalan yang menjadi tantangan untuk mengembangkan bisnis e-commerce di kawasan perdesaan di antaranya adalah masih banyaknya penduduk desa yang belum menggunakan digital payment dan digital banking.

Dia juga mencermati persoalan harga produk yang tinggi karena biaya logistik untuk kawasan yang sulit diakses. Kaya menilai bahwa pengiriman di wilayah pelosok tidak dapat disamakan dengan kondisi di perkotaan karena harga produk menjadi tidak ekonomis.


 
1
2
3


SEBELUMNYA

Waspadai Penjualan Obat & Vitamin Palsu di e-Commerce, Begini Cara Mencegahnya

BERIKUTNYA

Adopsi Konsep dari Negara Besar, Begini Vaksinasi Jemput Bola ala BIN

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: