Peragaan busana bertema Nusantara Heritage di Indonesia Fashion Week (IFW) pada Sabtu, 25 Februari 2023. . (Foto: Eusobio/Hypeabis.id)

Desain Filosofis Wastra Nusantara di Tangan Desainer Muda Hadir di IFW 2023

25 February 2023   |   19:32 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Wastra Indonesia selalu punya cerita. Entah itu dari jenis kain, warna, corak, hingga motif yang penuh filosofi selalu mengakar pada budaya warisan Nusantara. Hal itulah yang ditampilkan dalam panggung Nusantara Heritage di Indonesia Fashion Week (IFW) pada Sabtu, 25 Februari 2023. 

Beberapa desainer muda unjuk gigi menampilkan kreasi rancangan dari wastra berbagai daerah. Semarak panggung dibuka koleksi bertajuk Sama Rasa dari desainer Al-Divo yang bekerja sama dengan bank BTN. 

Baca juga: Eksplorasi Produk Heritage Daerah di Panggung Age of Archipelago IFW 2023

Desainer asal Palembang, Sumatera Selatan ini menghadirkan wastra asli daerahnya, kain jumputan. Tema Sama Rasa yang diusung Al-Divo memiliki makna bahwa kain jumputan dengan sentuhan etnik dan modern, bisa menyeleraskan berbagai bentuk macam model pakaian.

Kain jumputan merupakan kain yang dikembangkan secara turun temurun, dan dipercaya sudah ada sejak Kerajaan Sriwijaya. Pengelolaan dan perlakuan kain ini  tetap diberi sentuhan alami. 

Proses pembuatan kain jumputan melalui beberapa tahapan yang rumit, mulai dari pembuatan motif, proses mordan, pembuatan jumputan , pembuatan zat warna alami, hingga pengeringan. Pembuatan jumputan itu sendiri bisa memakan waktu 3-4 hari bagi mereka yang sudah profesional. Tapi bagi pemula, prosesnya memakan waktu satu minggu. 
 

Panggung Nusantara Heritage di Indonesia Fashion Week (IFW) pada Sabtu, 25 Februari 2023. 

Panggung Nusantara Heritage di Indonesia Fashion Week (IFW) pada Sabtu, 25 Februari 2023. (Eusobio/ahyoeabis.id)


Kemeriahan wastra Nusantara berikutnya datang dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Desainer Erwin Yuan dalam jenama Padu Padan Tenun disponsori Bank Indonesia Perwakilan (NTT) menghadirkan koleksi bertajuk Depung Da’ang, sebuah frasa dalam dialek Sikka yang mengacu pada para profesional yang rajin dan cerdas. 

Konsep di balik koleksi ini menyediakan fashion chic dan modern dengan sentuhan etnik dari tenun ikat Sikka dalam sentuhan blue denim. Koleksi Padu Padan Tenun tersebut cocok untuk para profesional yang bekerja di lingkungan formal atau semi-formal serta memiliki mobilitas yang tinggi. 

Sementara itu, tampilan cerah yang menarik mata dihadirkan desainer Febry Ferry Fabry yang digandeng Dekranasda Kota Palu, Sulawesi Tengah. Ferry merancang sedemikian rupa bahan Tenun Kelor menjadi sebuah tampilan yang lebih edgy, sehingga menghadirkan tampilan yang inovatif, orisinil, menonjol dan memberikan kesan stand out namun tetap modern agar bisa digunakan oleh anak muda saat ini. 

Melengkapi konsep tersebut, dipilih warna yang cerah, segar, dan lebih full colour. “Saya dan Deskranasda angkat Tenun Kelor khas Kota Palu menjadi simpel, elegan, dan gampang dipakai anak muda. Saya kemas lebih pop dan warnanya lebih ngejreng,” ujar Ferry dalam konferensi pers IFW 2023 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Sabtu (25/2/2023). 

Dia menjelaskan Tenun Kelor merupakan pengembangan dari design motif tenun ikat Kota Palu yang menggunakan tumbuhan kelor sebagai variabel yang memiliki nilai, baik budaya maupun personal bagi masyarakat Kota Palu. “Kelor merupakan tanaman asli Kota Palu,” imbuhnya.
 

Panggung Nusantara Heritage di IFW 2023. (Eusobio/Hypeabis.id)

Panggung Nusantara Heritage di IFW 2023. (Eusobio/Hypeabis.id)


Sementara itu, untuk pertama kalinya motif batik Magelang dikenalkan desainer Adith. Bersama Dewan Kerajinan Nasional Kota Magelang, Adith mendesign sendiri corak batik motif sekar jagad yang terinspirasi dari julukan Magelang sebagai kota sejuta 

Ungkapan optimisme hadir lewat permainan palet warna neon lime green yang cerah, viva magenta yang bersemangat dan menyala, dan beige sebagai basic. Material seperti linen, katun, silk, chiffon organza silk yang ringan melebur menjadi sebuah koleksi perayaan akulturasi masa yang beradaptasi dalam garis kepraktisan kekinian.

Secara umum, batik-batik yang lahir dari tangan Adith sebagai batik magelangan memiliki dua filosofi. Pertama, mengusung nilai berahnomnomi, yakni semangat anak muda. Kedua, woh pangolahin budi, yang merupakan hasil olah rasa, pikiran, dan teknologi.

Adith menginterpretasikan rekaman memori dan imajinasinya ke berbagai elemen busana, ke dalam potongan pola adaptif dari kebaya, kimono, rok sarung hingga potongan kotak dan oversized yang modern. Koleksi Batik trend 2023 dengan nama ASA yang berasal dari bahasa sansekerta ini bermakna harapan. “Saya berhatap desainer Indonesia bisa menghargai kreatifitas warisan budaya Indonesia,” tuturnya.

Desainer muda lainnya yang berani tampil dalam pangung Nusantara Heritage yakni Nanda Maharani. Ini menjadi event IFW pertamanya di dalam dunia fesyen.

Mengusung tema Tribalism of Maluku, dia menghadirkan koleksi ready to ware berupa dress, office wear, dan cuture dengan detail hand made. Tampilan edgy dengan sentuhan tenun memberikan kesan yang kekinian dan wearable untuk pencinta wastra generasi milenial. 

“Saya ingin menunjukkn tenun tidak hanya dipakai orang dewasa tetapi remaja juga bisa. Koleksi ini merupakan penggambaran diri saya dalam berbagai kalangan usia,” ungkap desainer berusia 19 tahun itu. 
 

Panggung Nusantara Heritage di Indonesia Fashion Week (IFW) pada Sabtu, 25 Februari 2023. (Eusobio/Hypeabis.id)

Panggung Nusantara Heritage di Indonesia Fashion Week (IFW) pada Sabtu, 25 Februari 2023. (Eusobio/Hypeabis.id)


Dalam koleksi ini, Nanda membawa tenun dari Kepulauan Tanimbar Maluku. Warna-warna bold seperti merah, hijau tua, dan hitam, ditambah bordiran dan payet berpadu dengan tenun khas dari wilayah Timur itu. 

Tidak mau kalah, desainer senior seprti Lenny Hartono yang baru saja tampil di New York Fashion Week turut menghadirkan koleksi Songs of Archipelago. Koleksi tersebut didominasi wastra dengan warna bold merah dan emas yang terlihat mewah.

Baca juga: Gaya Kasual hingga Classy, Koleksi Lina Sukijo Ramaikan Panggung IFW 2023

Bertanding terbalik dengan Kinto Wardani yang menyajikan warna bumi nan teduh dalam koleksi bertajuk Lembayung Senja di Bukit Merese. “Pendektaan kain tenun Lombok yang dipadupadankan kain Badui, yang jadi base pakaian saya. Warna yang diambil nuansa alam dengan tampilan baju soft,” tuturnya.

Editor: Fajar Sidik 

SEBELUMNYA

Konser Musik Life Fest 2023 Digelar di GBK, Deretan Musisi Keren Siap Menghibur

BERIKUTNYA

Awas! Kosmetik dengan Kandungan Paraben Picu Kanker Payudara

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: